Kebakaran Pasar Darurat Ngawen, Tidak Ada Relokasi Terpusat
Kepala Dinas Perdagangan, Koperasi dan UKM Kabupaten Blora, Kiswoyo menjelaskan bahwa kebakaran yang terjadi pada Sabtu (7/3/2026) malam bukanlah di lokasi Pasar Darurat Ngawen. Ia menegaskan bahwa kios-kios yang terbakar bukan merupakan pasar darurat, melainkan tempat relokasi pedagang Pasar Ngawen Blora.
“Jadi itu bukan pasar darurat. Ketika kami mau relokasi, mereka enggak mau. Mereka lantas mencari lokasi sendiri di lingkungan situ,” jelasnya.
Hasil penelusuran tim gabungan menunjukkan bahwa sumber api berasal dari korsleting listrik rumah warga. “Kebetulan mereka (pedagang) sewa di rumah-rumah penduduk itu. Jadi sekali lagi, yang terbakar bukan pasar darurat,” tambahnya.
Menurut Kiswoyo, pihaknya pernah berencana menyediakan titik-titik relokasi pedagang. Namun, titik tersebut jauh dari Pasar Ngawen sehingga para pedagang memilih mencari tempat sendiri. “Mereka tidak mau jauh dari pasar lama, tetap di sekitaran. Akhirnya, ada yang berdagang di sekitar jalan hingga lorong-lorong.”
“Itu kesepakatan pedagang memang mencari tempat-tempat sendiri. Jadi tidak ada relokasi secara terpusat,” ujarnya.
Oleh karena itu, ketika terjadi kebakaran dan disebabkan dari rumah penduduk yang mungkin dari korsleting listrik, pihaknya tidak bisa berbuat banyak. “Kecuali kalau kami menyediakan titik (relokasi terpusat), jaringannya (listrik) kami kelola, dan terjadi kebakaran. Nah mereka direlokasi tidak mau. Mereka menempati rumah-rumah penduduk, di lorong-lorong, kebersihan dikelola masyarakat sendiri,” paparnya.
Terkait potensi bantuan dari Pemkab Blora untuk pedagang terdampak, Kiswoyo belum bisa memastikan. Ia mengatakan bakal berkoordinasi dengan Dinsos dan Baznas Blora terkait bantuan tersebut.
Pedagang: Seperti Mimpi
Sutimah (62) pada Minggu (8/3/2026) dini hari sedang tertidur pulas di rumahnya, di Kelurahan Ngawen, Kecamatan Ngawen, Kabupaten Blora. Tiba-tiba, ada seseorang yang mengetuk pintu rumahnya. Sutimah terbangun dari tidurnya dan membuka pintu. Di depan pintu itu sudah ada menantunya. Kedatangan menantunya itu untuk memberitahu bahwa telah terjadi kebakaran Pasar Darurat Ngawen. Kios milik Sutimah dikabarkan sudah ludes terbakar.
Mendengar kabar itu, Sutimah langsung lemas dan pasrah. Dia baru datang ke lokasi setelah diminta untuk pendataan. Sutimah pun masih tak percaya jika kios dagangannya kembali terbakar. Setelah sebelumnya, pada awal 2024, kios dagangannya saat bertempat di Pasar Ngawen Utama juga terbakar.
Saat ini, bangunan utama Pasar Ngawen sedang dibangun kembali, sehingga para pedagang dialihkan ke Pasar Darurat Ngawen. “Dapat kabar kebakaran itu rasanya seperti mimpi. Kebakaran lagi, kebakaran lagi. Kebakaran kok sampai dua kali ini,” terangnya menahan tangis saat ditemui di rumahnya, Minggu (8/3/2026).
Sutimah datang ke lokasi kebakaran untuk pendataan yang dilakukan oleh pihak kepolisian. Sesampainya di lokasi kebakaran, Sutimah melihat kios dagangannya sudah ludes terbakar. Saat pendataan, Sutimah melihat para pedagang lain yang kiosnya terbakar tampak lemas dan bersedih. “Sudah ludes, nggak ada yang tersisa. Semua lemas, tidak punya tenaga,” ujarnya.
Dengan raut wajah yang masih tampak sedih, Sutimah bercerita sudah berdagang di Pasar Ngawen sejak 1981. Dia berjualan sepatu, sandal, sabuk, hingga topi. Seusai kiosnya kebakaran, Sutimah belum tahu kapan akan kembali berdagang. Dia lagi-lagi harus memulai dari nol. Akibat kebakaran tersebut, Sutimah menderita kerugian sekira Rp75 juta. “Inginnya jualan lagi, tapi ini harus memulai dari nol lagi,” jelasnya.
Sutimah pun tidak berharap banyak bantuan dari Pemkab Blora. Sebab saat kiosnya di Pasar Ngawen kebakaran yang pertama pada awal 2024, dirinya hanya mendapatkan bantuan berupa sembako. “Yang kebakaran dulu saja tidak dapat apa-apa. Hanya bantuan sembako. Penting harapannya keluarga sehat, bisa berdagang lagi, meskipun mulai dari nol dan bangkit lagi,” paparnya.

Kronologi Kebakaran
Pasar Darurat (Sementara) Rakyat Ngawen kebakaran, Sabtu (7/3/2026) sekira pukul 23.10. Ini adalah pasar relokasi karena Pasar Ngawen saat ini dalam proses pembangunan kembali seusai awal 2024 terbakar. Karenanya, pedagang dialihkan di pasar darurat di Jalan Raya Ngawen–Japah, Kelurahan Ngawen, RT 03 RW 01 Kecamatan Ngawen, Kabupaten Blora.
Kapolsek Ngawen, AKP Lilik Eko Sukaryono mengatakan, yang terbakar rumah milik Suwadi dan sejumlah ruko atau kios Pasar Darurat Rakyat Ngawen sebelah barat. “Saat itu Suwadi berada di dalam rumah miliknya melihat adanya percikan api yang mulai menjalar ke atap kayu yang berasal dari ruko milik Anik Dwi Jayanti.” Selanjutnya Suwadi memberitahu anaknya yang bernama Tina. Suwadi lantas berupaya untuk memadamkan api menggunakan ember berisi air ke titik api tersebut. Tetapi semakin lama api semakin membesar. Mengetahui hal tersebut Suwadi berteriak minta tolong.
Kemudian, kata AKP Lilik, ada seorang warga yang tidak sengaja melintas di depan ruko Pasar Darurat Rakyat Ngawen mendengar teriakan dari Suwadi, sekaligus melihat adanya kobaran api yang membesar dari ruko milik Anik Dwi Jayanti. Warga tersebut kemudian berinisiatif telepon petugas pemadam kebakaran Kecamatan Ngawen dan meminta bantuan kepada warga sekitar. Sekira 10 menit kemudian pemadam kebakaran Kecamatan Ngawen sampai di lokasi, tetapi api sudah membesar dan menjalar ke beberapa ruko darurat tersebut.
AKP Lilik menyampaikan, petugas pemadam kebakaran berjibaku untuk memadamkan api, satu jam kemudian api berhasil dipadamkan. “Penyebab kebakaran tersebut karena hubungan pendek arus listrik dari stop kontak yang berada di dalam ruko darurat milik Anik Dwi Jayanti,” paparnya.
Akibat peristiwa tersebut, kerugian materil mencapai miliaran rupiah. Karena selain rumah milik Suwadi yang terbakar, terdapat sejumlah ruko berserta barang dagangan milik para pedagang juga terbakar. “Untuk total kerugian atas adanya kebakaran tersebut mencapai sekira Rp2.225.000.000,” paparnya.












