Raup Rp 500 Ribu Sehari Jadi Alasan Warto Tetap Nyapu Koin Meski Dilarang, Sebut Kompensasi Percuma

Penyapu Koin di Jawa Barat Dapat Kompensasi, Tapi Masih Ada yang Menolak

Pemberian kompensasi kepada para penyapu koin di wilayah Jawa Barat selama musim mudik Lebaran 2026 menjadi perhatian utama. Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, memberikan bantuan sebesar Rp 400 ribu kepada 457 penyapu koin di Jembatan Sewoharjo, Desa Karanganyar, Kecamatan Pusakajaya, Kabupaten Subang. Tujuan dari pemberian kompensasi ini adalah untuk menghentikan aktivitas penyapu koin selama masa arus mudik dan arus balik Idul Fitri 1447 Hijriah.

Beberapa warga yang menerima bantuan tersebut menyatakan rasa terima kasih mereka. Salah satunya adalah Wastiti, yang mengaku senang dengan adanya uang kompensasi. Ia menjelaskan bahwa uang tersebut digunakan untuk membayar zakat fitrah dan membeli baju lebaran. Ia juga berjanji untuk tidak melakukan aktivitas menyapu koin selama liburan.

Namun, tidak semua penyapu koin merasa puas dengan langkah ini. Sebagian dari mereka masih tetap melanjutkan aktivitasnya karena menganggap bahwa tradisi ini sudah menjadi bagian dari kehidupan mereka sejak lama. Warto, salah seorang warga Sewoharjo, menyampaikan bahwa kompensasi yang diberikan oleh pemerintah tidak cukup untuk menghentikan aksi mereka. Ia menilai bahwa pendapatan dari hasil menyapu koin selama musim mudik jauh lebih besar dibandingkan nilai kompensasi yang diberikan.

Menurut Warto, pada hari biasa, ia bisa mendapatkan rata-rata Rp 250.000 per hari, sedangkan saat puncak arus mudik, penghasilannya bisa mencapai Rp 500.000 per hari. Ia berpendapat bahwa aktivitas ini merupakan momen setahun sekali yang sangat penting bagi warga setempat. Ia juga menyoroti bahwa yang harus ditertibkan adalah penyapu koin musiman yang datang dari luar daerah.

Keamanan dan Keselamatan Jadi Fokus Utama

Aktivitas penyapu koin di Jembatan Sewoharjo terus menjadi perhatian otoritas keamanan setiap musim mudik. Selain mengganggu kelancaran arus lalu lintas, aksi ini dinilai sangat berbahaya bagi keselamatan warga dan pengendara yang melintas. Oleh karena itu, pemerintah dan aparat kepolisian terus berupaya untuk mengatasi masalah ini.

Di Jembatan Sewo, Kecamatan Sukra, Kabupaten Indramayu, sebanyak 105 penyapu koin juga menerima kompensasi sebesar Rp 600 ribu dari Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat. Kapolsek Sukra, Iptu Andi Supriyatna, menjelaskan bahwa kompensasi ini diberikan sebagai bentuk kepedulian pemerintah sekaligus langkah persuasif agar para penyapu koin tidak beraktivitas selama arus mudik – balik Lebaran 2026.

Kompensasi ini disalurkan secara transparan melalui pembuatan buku tabungan Bank BJB. Setiap penyapu koin di Jembatan Sewo mendapatkan kompensasi sebesar Rp 600 ribu, yang merupakan akumulasi bantuan selama 12 hari masa arus mudik – balik Lebaran 2026. Mereka diminta untuk tidak beraktivitas menyapu koin hingga masa arus mudik berakhir.

Harapan untuk Kamseltibcarlantas yang Lebih Baik

Andi Supriyatna berharap bahwa kompensasi ini dapat memotivasi para penyapu koin untuk mematuhi kesepakatan bersama demi keselamatan mereka sendiri dan para pengendara. Ia menekankan bahwa aktivitas menyapu koin di Jembatan Sewo yang berada di bahu jalan sangat berisiko dan berpotensi mengakibatkan kecelakaan lalu lintas.

Ia juga mengimbau seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama menjaga citra baik wilayah Kecamatan Sukra. Salah satu caranya adalah dengan tidak menghambat laju kendaraan pemudik. “Kami berharap, areal Jembatan Sewo tetap steril dari aktivitas penyapu koin, sehingga arus mudik di jalur Pantura Indramayu berjalan lancar tanpa hambatan apapun,” kata Andi Supriyatna.

Perbedaan Pendapat Mengenai Efektivitas Kompensasi

Meski pemerintah berusaha memberikan solusi melalui kompensasi, beberapa penyapu koin masih merasa bahwa langkah ini tidak efektif. Mereka percaya bahwa selama ada pengguna jalan yang melemparkan uang ke jalanan, aktivitas mereka akan terus berlangsung. Hal ini menunjukkan bahwa masalah penyapu koin bukan hanya soal uang, tetapi juga tentang perilaku masyarakat dan kesadaran akan keselamatan.

Selain itu, banyak yang berpikir bahwa tindakan pemerintah sebaiknya lebih fokus pada penertiban pengguna jalan yang tidak bertanggung jawab. Dengan demikian, masalah penyapu koin bisa diminimalisir secara efektif dan berkelanjutan.


Atikah Zahirah

Seorang Penulis berita yang menelusuri tren budaya pop, musik, dan komunitas kreatif. Ia suka menghadiri acara seni, menonton konser, serta memotret panggung. Waktu luangnya ia gunakan untuk mendengarkan playlist indie. Motto: “Budaya adalah denyut kehidupan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× How can I help you?