Seorang Kapten yang Tak Pernah Pulang Saat Lebaran
Di tengah keramaian Lebaran, di mana keluarga berkumpul dan saling bermaafan, ada seseorang yang justru menghabiskan hari raya itu jauh dari rumah. Kapten Dwi Irianto, nakhoda KMP Legundi, telah 26 kali melewatkan momen Lebaran bersama keluarga. Baginya, tugas sebagai kapten adalah prioritas utama, bahkan lebih penting daripada kebersamaan dengan orang tercinta.
Kapten Dwi Irianto bertanggung jawab atas keselamatan perjalanan kapal, memastikan bahwa setiap pelayaran berjalan lancar dan aman. Di tengah laut, ia dan kru KMP Legundi menjalankan tugas mereka dengan penuh tanggung jawab. Saat gema takbir berkumandang, mereka tidak bisa pulang, melainkan melaksanakan Salat Id di dalam kapal, di tengah laut. Suasana kekeluargaan tetap terasa, meskipun hanya berlangsung antara para kru saja, tanpa penumpang.
Pada saat salat Id berlangsung, KMP Legundi sempat berhenti sejenak di tengah perjalanan, tidak seperti biasanya yang penuh dengan pemudik. Ini menjadi momen yang unik bagi Kapten Dwi, yang selama 26 tahun tidak pernah pulang saat Lebaran. “Perasaannya ya senang nggak senang harus senang. Sedih sih, apalagi kalau mengingat Ibu, orangtua, pasti sedih,” ujarnya dengan suara pelan.
Bagi banyak orang, melewatkan satu Lebaran bersama keluarga sudah terasa berat. Namun bagi Kapten Dwi, ini adalah pengalaman yang sudah ia jalani selama puluhan tahun. Rasa rindu tetap menyelinap, terutama saat ia teringat orangtuanya di Semarang. Momen paling berat datang setelah salat Id, ketika orang-orang berkumpul, bersilaturahmi, dan mengunjungi makam keluarga. Ia hanya bisa membayangkan semuanya dari kejauhan.
Namun, kehidupan di atas kapal tidak sepenuhnya sunyi. Untuk mengusir kerinduan, Kapten Dwi dan kru melakukan hal-hal sederhana, seperti bernyanyi karaoke bersama penumpang, berbincang dengan kru, atau menyapa para pemudik yang datang silih berganti. Malam takbiran pun dirayakan bersama, diiringi kebersamaan yang hangat meski dalam kondisi yang terbatas.
Pagi harinya, mereka melaksanakan salat Id dan menikmati ketupat bersama, tradisi yang tetap dijaga meski jauh dari rumah. Peran Kapten Dwi tidak hanya terbatas pada mengemudikan kapal. Ia adalah penanggung jawab tertinggi atas keselamatan perjalanan, memastikan kapal berlayar dengan aman dari pelabuhan ke pelabuhan.
Di balik itu, ada 28 kru yang bekerja tanpa henti, dari bongkar muat kendaraan hingga melayani penumpang. “Saya tidak bisa apa-apa tanpa mereka,” katanya menegaskan pentingnya kerja tim. Baginya, semangat kru adalah kunci utama, terutama saat menghadapi tantangan seperti cuaca buruk atau kendala teknis di tengah perjalanan.
Menjelang musim mudik Lebaran, persiapan dilakukan lebih matang. Kapal diperiksa menyeluruh, mulai dari mesin hingga alat keselamatan. Sementara kru dituntut menjaga stamina, memastikan mereka tetap prima selama periode sibuk.
Di sela kesibukan, komunikasi dengan keluarga tetap diupayakan, meski terbatas sinyal. Telepon singkat saat kapal bersandar menjadi pengobat rindu yang sederhana, namun berarti. Bagi Kapten Dwi, pengabdian ini adalah bagian dari tanggung jawab. “Senang tidak senang harus senang,” ujarnya ringan.
Sebuah kalimat yang menggambarkan keteguhan hati seorang pelaut yang telah puluhan tahun mengabdikan dirinya demi kelancaran perjalanan orang lain. Kapten Dwi pun menyampaikan pesan sederhana namun penting. “Untuk kru, saya menekankan keselamatan dan tanggung jawab. Untuk penumpang, saya berharap adanya kesadaran bersama, mulai dari perencanaan perjalanan hingga menjaga kebersihan selama di kapal.”












