Kinerja Perbankan di Tengah Efisiensi Biaya
Di tengah berbagai tantangan ekonomi, sejumlah bank di Indonesia berhasil menunjukkan kinerja yang positif melalui peningkatan efisiensi biaya dan pertumbuhan pendapatan. Hal ini terlihat dari catatan penurunan beban bunga hingga Februari 2026, yang turut mendorong kinerja laba lebih baik.
PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN)
Salah satu contohnya adalah PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN). Bank ini berhasil menurunkan beban bunga hingga 14,4% secara tahunan (year-on-year/yoy) menjadi Rp 2,19 triliun per Februari 2026. Dengan penurunan ini, pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) BTN tumbuh 54,71% yoy menjadi Rp 2,4 triliun di akhir Februari 2026.
Kinerja tersebut menjadi salah satu mesin pendorong laba bersih yang melaju kencang menjadi Rp 503,24 miliar dari posisi Rp 132 miliar pada Februari 2025. Direktur Utama BTN Nixon Napitupulu menyatakan bahwa transformasi bisnis yang kini digenjot bank akan menjadi kunci pertumbuhan kinerja. Optimisme tersebut didukung oleh penguatan strategi pengembangan superapps serta inovasi di berbagai lini bisnis lainnya.
“Kami optimistis kinerja tahun ini akan terus bertumbuh seiring transformasi dan inovasi yang dilakukan perseroan untuk memperkuat bisnis dan meningkatkan layanan kepada masyarakat,” ujar Nixon beberapa waktu lalu.
PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI)
Sementara itu, PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) juga berhasil menekan turun beban bagi hasil sebesar 10,5% yoy menjadi Rp 1,35 triliun per Februari 2026. Dengan kenaikan pendapatan penyaluran dana sebesar 7,53% yoy menjadi Rp 4,86 triliun, NII BSI tumbuh 16,57% yoy menjadi Rp 3,51 triliun. Laba bersih bank pun tumbuh 16,78% yoy menjadi Rp 1,36 triliun per Februari 2026.
PT Bank Mandiri Tbk (BMRI)
PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) mencatatkan pertumbuhan pendapatan bunga sebesar 7,24% yoy menjadi Rp 20,73 triliun di Februari 2026. Meski beban bunganya tumbuh 3,7% yoy menjadi Rp 7 triliun, NII Bank Mandiri berhasil tumbuh 9,16% yoy menjadi Rp 13,7 triliun dan laba bersihnya tumbuh 16,71% yoy menjadi Rp 8,86 triliun di dua bulan pertama 2026.
Direktur Finance & Strategy Bank Mandiri Novita Widya Anggraini menyebut efisiensi beban bunga ini didorong oleh masifnya pertumbuhan dana murah berbasis rekening transaksi melalui kanal digital. Hingga Februari 2026, volume transaksi melalui aplikasi Livin’ by Mandiri terus menunjukkan tren peningkatan. Total transaksi melebihi 738,7 juta sejak awal tahun atau tumbuh 28% yoy.
Menurut Novi, pertumbuhan kanal digital sejalan dengan kian luasnya pemanfaatan layanan digital oleh masyarakat untuk berbagai kebutuhan transaksi sehari-hari. Mulai dari pembayaran tagihan, pembelian produk dan layanan digital, hingga transfer dana antar individu maupun pelaku usaha.
Permata Bank
Permata Bank juga berhasil menurunkan beban bunga hingga 15,24% yoy menjadi Rp 961,81 miliar per Februari 2026. Namun karena pendapatan bunga tumbuh 8,28% yoy menjadi Rp 2,56 triliun, NII bank terkoreksi 3,45% yoy menjadi Rp 1,6 triliun.
PT Bank Central Asia Tbk (BCA)
Berbeda dengan bank lainnya, PT Bank Central Asia Tbk (BCA) mencatatkan peningkatan beban bunga yang lebih tinggi ketimbang pendapatan bunganya, masing-masing sebesar 6,93% yoy menjadi Rp 2,13 triliun dan 0,79% yoy menjadi Rp 14,99 triliun per Februari 2026. Alhasil, NII bank terkoreksi tipis 0,16% yoy menjadi Rp 12,86 triliun di Februari 2026. Pertumbuhan labanya lebih terbatas sebesar 2,81% secara tahunan.
EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F. Haryn mengatakan bahwa bank tetap mengoptimalkan pertumbuhan dana murah sebagai pendanaan inti. Hal ini didukung oleh transaksi perbankan yang andal. Total frekuensi transaksi BCA pada 2025 naik 17% yoy mencapai 42 miliar per Februari 2026.
Bank juga secara konsisten mengusung konsep hybrid banking untuk memberikan layanan secara holistik, baik di ekosistem online maupun offline, agar dapat mempertahankan posisi di pasar dan senantiasa bertumbuh.
“Kami berharap pertumbuhan dana murah dan DPK masih tetap solid ke depan, sejalan dengan volume transaksi yang terus bertumbuh,” tutur Hera.
Penulis yang memiliki perhatian besar pada dunia kesehatan dan kesejahteraan masyarakat. Ia suka mengikuti jurnal kesehatan, melakukan yoga, dan mempelajari resep makanan sehat. Menurutnya, informasi yang benar adalah kunci hidup lebih baik. Motto: “Tulisan yang sehat membawa pembaca sehat.”












