Pesawat peringatan dini AS hancur oleh drone Iran murah Rp340 juta

Serangan Drone Shahed-136 Iran Hancurkan Pesawat AWACS AS di Arab Saudi

Pada Jumat (27/3/2026), sebuah pesawat pengintai Boeing E-3 Sentry milik Amerika Serikat dilaporkan hancur akibat serangan gabungan rudal dan drone yang dilakukan oleh Iran. Pesawat tersebut, yang dikenal sebagai sistem peringatan dini atau Airborne Early Warning and Control System (AWACS), berada di Pangkalan Udara Pangeran Sultan, Arab Saudi, saat serangan terjadi.

Serangan ini disebut-sebut dilakukan oleh drone Shahed-136 Iran, yang diklaim memiliki nilai sekitar 20.000 dolar AS (sekitar Rp340 juta). Pesawat E-3 Sentry sendiri bernilai sekitar 700 juta dolar AS (sekitar Rp11,8 triliun) dan merupakan salah satu komponen penting dalam operasi udara AS.

Menurut pernyataan dari Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), pesawat E-3 sedang berusaha menghindari serangan udara Iran ketika diburu oleh drone Shahed-136. Dalam serangan tersebut, puing-puing menunjukkan bahwa E-3 Sentry terkena serangan di bagian paling vital, yaitu dekat ekor tempat radar pengintai AN/APY-2 berada. Selain itu, pesawat lain di sekitarnya juga mengalami kerusakan signifikan.

Serangan ini tidak hanya menghancurkan pesawat AWACS, tetapi juga menyebabkan sedikitnya 10 tentara AS terluka. Sebelumnya, pesawat E-3 Sentry ditempatkan di Pangkalan Pangeran Sultan setelah dipindahkan dari Pangkalan Angkatan Udara Tinker di Oklahoma City.

Pertahanan udara Iran mengklaim telah mencegat dan menghancurkan sedikitnya 140 drone Israel dan Amerika, serta beberapa jet tempur, di langit Iran dan wilayah sekitarnya sejak perang dimulai pada 28 Februari.

Apa Itu AWACS?



Pesawat E-3 Sentry atau AWACS adalah sistem penting dalam mengelola medan pertempuran serta melacak drone, rudal, dan pesawat dari jarak ratusan kilometer. Pesawat ini pada dasarnya merupakan modifikasi dari pesawat komersial Boeing 707/320 yang dilengkapi kubah radar berputar. Radar tersebut memiliki jangkauan lebih dari 375 kilometer, memungkinkan pesawat memberikan kesadaran situasional terhadap aktivitas kawan, netral, maupun musuh, sekaligus menjalankan fungsi komando dan kendali di wilayah operasi.

Sejak diperkenalkan pada 1977, pesawat ini mampu melakukan pengawasan di berbagai ketinggian dan kondisi cuaca, serta memberikan peringatan dini dalam operasi gabungan, sekutu, dan koalisi. Data dari Angkatan Udara AS menunjukkan pesawat ini mampu menjalankan misi hingga delapan jam tanpa pengisian bahan bakar, dengan kemampuan diperpanjang melalui pengisian bahan bakar di udara.

AS diketahui memiliki sekitar 16 unit E-3 Sentry yang masih beroperasi. Menurut data pelacakan terbaru, enam di antaranya telah dikerahkan ke pangkalan di Eropa dan Timur Tengah sejak konflik dengan Iran meningkat.

Analisis Pakar Militer

Menurut para ahli militer, kehilangan pesawat E-3 dapat menciptakan celah signifikan dalam operasi udara AS. Kelly Grieco, pakar kebijakan pertahanan dari Stimson Center, menyatakan bahwa ini merupakan kerugian signifikan dalam jangka pendek. “Hal ini memiliki konsekuensi. Akan ada celah dalam cakupan.”

Serangan tersebut juga mencerminkan strategi perang asimetris Iran, yang menitikberatkan pada pelemahan kekuatan udara AS melalui jaringan proksi, serangan drone massal, rudal, dan operasi siber. Iran juga dilaporkan telah memblokir Selat Hormuz, jalur yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas global, sehingga mendorong harga minyak melampaui 100 dolar AS per barel, naik sekitar 40 persen dibanding sebelum perang.

John Phillips, penasihat keamanan asal Inggris dan mantan instruktur militer, mengatakan serangan tersebut mengganggu sistem komando dan kendali AS dengan menciptakan celah kesadaran medan tempur. Pesawat AWACS biasanya menyediakan peringatan dini, panduan bagi pesawat tempur, serta data waktu nyata untuk operasi militer.

Kehilangan pesawat ini memaksa ketergantungan lebih besar pada radar darat. Namun, ia menilai dampaknya masih dapat dipulihkan dalam beberapa minggu, misalnya melalui pengerahan pesawat E-7 Wedgetail yang memiliki kemampuan intelijen dan pengawasan serupa.

Meski demikian, Phillips memperingatkan bahwa kondisi ini dapat membuat sistem pertahanan AS lebih rentan terhadap serangan lanjutan. “Saya ingin melihat apakah AS akan beralih ke sistem berbasis kapal yang lebih terlindungi atau menggunakan pangkalan yang lebih jauh untuk mengantisipasi serangan berikutnya,” ujarnya. “Saya juga tidak yakin sejauh mana dampak ini akan memengaruhi tujuan keseluruhan AS atau mendorong percepatan negosiasi gencatan senjata,” tambahnya.

Kaila Azzahra

Penulis berita yang menggemari liputan ringan seputar tren, hiburan, dan dunia kreatif. Ia hobi mendengarkan musik pop, membuat catatan ide, dan memotret suasana kota. Menurutnya, kreativitas lahir dari rasa bahagia. Motto: "Tulislah apa yang bisa memberi senyum."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× How can I help you?