Refleksi Rendah Hati dalam Doa Salam Maria
Pada acara rekoleksi yang diadakan oleh para dosen dan pegawai Universitas Katolik Widya Mandira (Unika) Kupang, terdapat momen yang sangat bermakna. Acara ini diselenggarakan di Biara Para Frater Bunda Hati Kudus, Oesapa, pada tanggal 27 hingga 28 Maret 2026. Salah satu bagian penting dari acara pembuka adalah doa bersama dengan Bunda Maria.
Tulisan ini bukanlah sebuah penjelasan teologis tentang Bunda Maria, melainkan refleksi kecil yang diinspirasi dari doa Salam Maria. Ada kalimat dalam doa tersebut yang berbunyi: “Santa Maria Bunda Allah doakanlah kami orang yang berdosa ini.” Kalimat ini sering diucapkan atau didaraskan selama acara. Dalam rekoleksi ini, ada lima peristiwa yang dilibatkan dalam doa-doa yang dipimpin oleh Pastor Agustinus Hironimus Dae Soro, SVD. Akibatnya, sekitar 50 kali kalimat “…doakanlah kami orang yang berdosa ini” dikumandangkan oleh semua peserta.
Sebagai orang Katolik, termasuk para dosen dan pegawai, mendoakan kalimat ini bukan hanya permohonan kepada Bunda Maria untuk mendoakan mereka di hadapan Yesus Kristus, tetapi juga ekspresi rasa diri yang berdosa. Ini menunjukkan sikap rendah hati, merasa kecil dan hina di hadapan sesuatu yang lebih mulia atau suci. Ada perasaan atau penempatan diri yang kurang, lemah, bahkan tak berdaya di hadapan yang kudus atau yang mulia.
Gestur para peserta rekoleksi, seperti tenang dan tertunduk setiap kali mendaraskan doa Salam Maria, memperkuat makna dari doa tersebut. Di sini, dengan doa Salam Maria yang diulang-ulang, para peserta diminta untuk menjadi orang yang rendah hati atau merasa kecil di hadapan yang mulia dan suci.
Rendah hati atau merasa diri kecil adalah jalan menuju tujuan yang lebih besar dan benar. Ini adalah bentuk paksaan yang bertujuan membangun diri atau demi kemuliaan itu sendiri. Dalam artikelnya Studi Aplikatif Tentang Kerendahan Hati dan Keteladanan Hamba Kristus Pada Anggota Komsel Pradana, di GBI Stairway From Heaven, Bandung, Andri Budiman menyatakan bahwa kerendahan hati dan keteladanan akan mempengaruhi orang untuk beriman, membangun pertobatan, menjadi taat, dan menghilangkan rasa sombong, angkuh, atau tinggi hati.
Sementara itu, Aripin Tambunan dalam artikel berjudul Internalisasi Kerendahan Hati Sebagai Jati Diri Kristiani menjelaskan bahwa dalam Perjanjian Baru, konsep kerendahan hati adalah kerendahan pikiran atau penghinaan diri. Artinya, orang yang demikian menjadi pribadi yang rela melayani dengan melakukan tugas-tugas yang paling rendah, sebagaimana dikatakan dalam Filipi 2:5-7 dan 2 Korintus 4:7-12.
Atas dasar ini, dengan mendoakan Salam Maria yang menyadarkan dan mengantar orang untuk rendah hati, ungkapan “no body is perfect” menjadi jelas. Tidak ada manusia yang sempurna, dan hal ini tampak dalam wajah para dosen dan pegawai yang hadir dalam rekoleksi ini.
Doa mereka adalah ekspresi keberadaan diri yang sesungguhnya dan terdalam. Mereka bekerja di Lembaga Pendidikan Universitas Widya Mandira Kupang tanpa pernah merasa puas dan merasa diri sempurna. Mereka tidak pernah merasa cukup dengan apa yang telah diberikan untuk lembaga ini. Mereka tetap menjadi orang yang rendah hati dan selalu merasa diri kurang dan lemah.
Namun, dalam kerendahan hati ini, ada iman, langkah-langkah baru yang sedang dan terus diperjuangkan, serta pertobatan untuk lebih baik dan benar dalam tugas dan pelayanan yang dipercayakan oleh lembaga pendidikan.
Inilah hadiah, pengetahuan, dan buah yang ada dalam rekoleksi yang diberikan oleh Unika Kupang, yang dibuka atau dikuatkan dengan doa Salam Maria. Rendah hati, yang bisa dicapai dengan banyak cara, adalah jalan, pola, dan pilihan hidup yang baik dan memiliki banyak nilai positif bagi hidup dan pelayanan setiap orang beriman.
Terima kasih banyak kepada Universitas Widya Mandira Kupang yang memberikan waktu bagi para dosen dan pegawai untuk rekoleksi, apalagi menjelang liturgi Pekan Suci dan perayaan Paskah 2026. Terima kasih juga kepada para Frater Bunda Hati Kudus yang menyiapkan tempat rekoleksi bagi para dosen dan pegawai Unika Kupang dan memungkinkan mereka untuk berdoa dan mendaraskan doa Salam Maria dengan tenang dan penuh makna, terlebih khusus untuk menghayati syair doa ini: “Santa Maria Bunda Allah, doakanlah kami yang berdosa ini”.
Penulis yang memiliki perhatian besar pada dunia kesehatan dan kesejahteraan masyarakat. Ia suka mengikuti jurnal kesehatan, melakukan yoga, dan mempelajari resep makanan sehat. Menurutnya, informasi yang benar adalah kunci hidup lebih baik. Motto: “Tulisan yang sehat membawa pembaca sehat.”












