Tantangan Ekonomi di Bulan Februari 2026
Pada bulan Februari 2026, sejumlah indikator ekonomi mulai menjadi perhatian khusus bagi industri perbankan. Berbagai ketidakpastian, baik secara global maupun domestik, berpotensi mengganggu stabilitas sektor keuangan jika tidak ada persiapan yang matang.
Data sementara dari Bank Indonesia (BI) menunjukkan adanya perlambatan pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) dan kredit perbankan. Pada Februari 2026, pertumbuhan DPK melandai menjadi 9,2% secara tahunan (year-on-year/yoy), turun dari 10,8% yoy pada bulan sebelumnya. Sementara itu, pertumbuhan kredit juga melambat menjadi 8,9% yoy, dari 10,2% yoy sebelumnya.
Di akhir bulan Februari, situasi semakin memburuk karena meningkatnya ketidakpastian. Salah satu penyebab utamanya adalah konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran. Peristiwa ini memicu ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah, terutama setelah Iran memutuskan untuk menutup Selat Hormuz, yang berdampak langsung pada akses energi negara-negara lain.
Dari sisi domestik, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat adanya lonjakan inflasi yang signifikan. Inflasi naik menjadi 4,76% pada Februari 2026, meningkat lebih dari 100 basis point dari posisi 3,55% pada bulan sebelumnya. Lonjakan ini sejalan dengan momentum Ramadan yang menyebabkan kenaikan harga bahan pokok.
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, mengatakan bahwa saat ini banyak ketidakpastian yang mengancam industri perbankan. Ia menyoroti volatilitas gejolak global yang sulit diprediksi kapan akan berakhir.
“Ketika Presiden AS Donald Trump mengumumkan akan menghentikan serangannya, harga minyak langsung turun. Namun, setelahnya, situasi bisa berubah lagi. Ketidakpastiannya sangat luar biasa,” ujar Dian.
Ia menilai bahwa perang yang sedang berlangsung dapat merembet ke berbagai aspek ekonomi. Akibatnya, perlambatan kredit diperkirakan akan terus berlanjut, dan kredit bermasalah muncul dari sektor-sektor rentan seperti ekspor-impor.
Direktur Bank Central Asia (BCA), Santoso, setuju dengan pandangan tersebut. Ia menyatakan telah melihat pelemahan permintaan kredit di sejumlah sektor yang terkait dengan rantai pasok global.
Santoso menjelaskan bahwa tekanan pada rantai pasok akan memengaruhi dunia usaha, terutama sektor kimia yang bergantung pada komoditas turunan minyak. Saat ini, beberapa pelaku usaha sudah mengalami kesulitan dalam hal supply. “Kami melakukan assessment untuk mengetahui seberapa besar kesulitannya. Mereka berharap kami sebagai bank juga sadar dengan situasi ini,” jelas Santoso.
Buffer Permodalan dan Stress Test sebagai Antisipasi
Presiden Direktur Maybank Indonesia, Steffano Ridwan, menilai bahwa inflasi akan sulit dihindari jika kenaikan harga minyak akibat perang tidak kunjung reda. Dampaknya, biaya produksi akan meningkat, daya beli masyarakat menurun, dan pemutusan kerja meningkat. Hal ini berpotensi berdampak pada kredit bermasalah di bank-bank.
Ketua Umum Perhimpunan Bank Nasional (Perbanas) sekaligus Direktur Utama Bank Rakyat Indonesia (BRI), Hery Gunardi, menekankan pentingnya memperkuat prinsip kehati-hatian dalam industri perbankan. Ia menyatakan bahwa bank telah melakukan mitigasi risiko, salah satunya melalui stress test pada sektor-sektor sensitif terhadap kenaikan biaya energi, seperti transportasi, logistik, dan manufaktur.
Selain itu, perbankan meningkatkan disiplin dalam penyaluran kredit melalui pendekatan risk-based pricing. Dari sisi likuiditas, bank menjaga kecukupan melalui optimalisasi rasio liquidity coverage ratio (LCR) dan net stable funding ratio (NSFR). Di sisi lain, pengelolaan eksposur nilai tukar dilakukan lebih konservatif, termasuk strategi lindung nilai dan pengendalian posisi devisa neto.
Hery menegaskan bahwa langkah-langkah ini penting untuk memastikan fungsi intermediasi tetap berjalan optimal tanpa mengabaikan aspek stabilitas, terutama di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi.
Pentingnya Stress Test untuk Menghadapi Skenario Terburuk
Ekonom Global Markets di Maybank Indonesia, Myrdal Gunarto, menyarankan agar bank segera melakukan stress test dengan kondisi ekonomi saat ini. Stress test akan menguji ketahanan bank dalam menghadapi skenario terburuk yang mungkin terjadi.
Myrdal menjelaskan bahwa stress test tidak hanya membantu bank mengetahui kapabilitas mereka dalam menghadapi tekanan, tetapi juga memberi informasi tentang sektor-sektor yang prospektif selama ekonomi tertekan. “Mereka bisa melihat solusi terkait arah bisnis mana yang terkena dampak dan sektor apa yang bisa memberikan potensi keuntungan di skenario terburuk,” kata Myrdal.
Selain itu, stress test juga membantu bank menyiapkan profil risiko yang lebih baik jika kredit mengalami penurunan. Myrdal menyarankan agar stress test dilakukan oleh semua bank untuk membangun sinergi antara regulator dan perbankan.
“Dengan adanya stress test, kita berharap adanya akselerasi dari sektor-sektor yang tidak terkena dampak dari skenario stress test tersebut,” tambahnya.
Ke depannya, bank diharapkan tetap resilien menghadapi ketidakpastian ekonomi. Persiapan harus dilakukan sambil terus menggencarkan peluang pertumbuhan.
Seorang penulis berita online yang terbiasa bekerja cepat tanpa mengabaikan akurasi. Ia menaruh perhatian pada isu sosial, budaya, dan tren masyarakat. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca buku psikologi, berjalan kaki di taman, dan merawat tanaman hias. Ia percaya bahwa ide terbaik muncul dari ketenangan. Motto: “Ketelitian adalah kunci dari kredibilitas.”












