Lima Warga Sipil Tewas Ditembak, Mahasiswa Dogiyai Minta Pigai Selidiki Kasus Ini

Desakan Mahasiswa Dogiyai untuk Investigasi Independen

Ikatan Pelajar Mahasiswa Dogiyai (IPMADO) di Manokwari, Provinsi Papua Barat, mengeluarkan desakan keras terhadap Kapolda Papua Tengah untuk segera mencopot Kapolres Dogiyai dan membentuk tim investigasi independen. Desakan ini dilakukan sebagai respons atas insiden penembakan warga sipil yang terjadi pada akhir Maret 2026. Peristiwa tersebut dikenal dengan istilah “Dogiyai berdarah”.

Pemicu Kekerasan dan Penembakan

Peristiwa kekerasan bermula dari pembunuhan seorang anggota polisi oleh orang tak dikenal sekitar pukul 10.00 WIT di sekitar pertigaan Gereja Ebenezer Moanemani. Korban sempat dievakuasi ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dogiyai namun meninggal dunia akibat luka parah.

Pascakejadian tersebut, aparat TNI-Polri di Moanemani melepaskan tembakan ke udara. Tak lama kemudian, sebuah mobil polisi mengejar sekelompok pemuda yang mengendarai sepeda motor dari pusat Moanemani hingga ke Distrik Kamuu Utara, yang diwarnai aksi penembakan. Menurut IPMADO, insiden ini menyebabkan jatuhnya korban dari kalangan warga sipil.

Beberapa korban meninggal dunia antara lain Sipi Tibakoto (19), Ester Pigai (60), dan Martinus Yobee (17). Selain itu, terdapat korban lain yang juga dilaporkan meninggal dunia serta sejumlah warga mengalami luka-luka, termasuk seorang anak berusia 11 tahun yang kini dalam kondisi kritis dan menjalani perawatan medis.

Selain penembakan, situasi juga diwarnai dengan pembakaran dua unit mobil oleh orang tak dikenal. Pelaku dilaporkan berhasil menyelamatkan diri ke hutan.

Kondisi Masyarakat Setelah Tragedi

Pada malam harinya, terjadi penyerangan terhadap Markas Polres Dogiyai oleh sekelompok orang bersenjata tajam. Satu bangunan milik warga di sekitar lokasi juga dilaporkan hangus terbakar.

Dewan Penasehat Organisasi (DPO) IPMADO, Edison Iyai, menyampaikan bahwa masyarakat di sejumlah wilayah kini mengalami trauma mendalam akibat peristiwa tersebut. Warga di beberapa kampung seperti Kamuu Tengah, Ekemanida, Kamuu Utara, Kamuu Selatan, dan Kamuu Barat mengalami ketakutan. Aktivitas seperti ke kebun, sekolah, maupun bekerja menjadi terhenti.

Tuntutan Mahasiswa dan LSM

Pernyataan sikap IPMADO ini turut didukung oleh Presiden Mahasiswa Universitas Papua (Unipa) Yenuson Rumaikeuw, perwakilan Amnesty International Unipa Paskalis Haluk, serta Ikatan Mahasiswa Pegunungan Tengah (IMPT). Mereka secara tegas meminta agar dugaan pelanggaran hak asasi manusia (HAM) dalam peristiwa tersebut segera diusut secara transparan dan adil.

Dalam pernyataan sikapnya, mahasiswa Dogiyai di Manokwari menyampaikan sejumlah tuntutan, antara lain:

  • Komnas HAM, pemerintah Provinsi Papua Tengah, Kapolda Papua Tengah dan Polres Dogiyai segera bentuk tim investigasi untuk mengusut tuntas rangkain konflik yang terjadi di Dogiyai.
  • Kapolres Dogiyai segera hentikan serangan terhadap warga sipil dan lakulan pendekatan secara humanis
  • Kami meminta militer yang terbukti melakukan pelanggaran HAM terhadap masyarakat sipil diberikan hukuman yang setimpal dan adili tampah perlakuan khusus.
  • Kami meminta kepada pemerintah Dogiyai dan Polres Dogiyai harus transparansi dalam penyelidikan pelaku penembakan tanpa impunitas.
  • Kapolres Dogiyai Mince Mayor hentikan meminta bantuan personel dari kabupaten tetangga ataupun, provinsi Papua Tengah karena dengan penambahan personel akan perpanjangan konflik.
  • Kami meminta kepada TNI Polri hentikan penggunaan senjata api di kerumunan warga dan di lingkungan rumah warga.
  • Negara Indonesia segera tarik kembali militer non organik yang ada di seluruh tanah Papua.
  • Kami menegaskan kepada DPRD Dogiyai jelih melihat konflik sosial di Dogiyai terlebih khusus pengunaan sanjata api oleh TNI/porli dan penembakan rakyat sipil diluar hukum.
  • Segera menghentikan tindakan kekerasan dan operasi yang berpotensi menimbulkan korban lebih banyak.

Data Korban dan Kecaman

Berdasarkan data di lapangan, sebanyak 8 orang menjadi korban usai sejumlah personel kepolisian masuk permukiman warga dan menembak secara membabi buta. Sebagian korban merupakan anak-anak bahkan wanita lanjut usia (Lansia) lumpuh. 5 orang diantaranya tertembak di bagian kepala, dagu, bahkan dada sehingga langsung tewas di tempat, sedangkan 3 diantaranya masih menjalani perawatan akibat tertebak.

Persoalan ini mendapat sorotan serius dari Mahasiswa di Jayapura, Komas HAM Perwakilan Papua serta Intelektual Dogiyai.




Muhammad Muhlis

Jurnalis digital yang menaruh perhatian besar pada perkembangan teknologi dan komunikasi. Ia senang membaca jurnal ilmiah, mencoba aplikasi baru, dan melakukan riset kecil untuk mempertajam analisis. Hobinya termasuk bermain catur dan mendengarkan musik klasik. Motto: "Pemahaman mendalam menghasilkan berita yang bernilai."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× How can I help you?