Kenaikan Harga Pangan Global Akibat Konflik Regional
Perang antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel telah memicu kenaikan harga pangan global. Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) mengungkapkan bahwa jika konflik ini terus berlanjut, maka harga pangan akan terus meningkat. Hal ini disebabkan oleh kenaikan harga minyak yang secara langsung memengaruhi biaya produksi dan distribusi makanan di seluruh dunia.
FAO dalam pernyataannya pada Jumat (3/4/2026) menambahkan bahwa jika perang berlangsung lebih dari 40 hari ke depan, aktivitas pertanian global juga akan terganggu. Petani kemungkinan harus mengurangi jumlah tanaman atau mengurangi biaya produksi untuk menjaga agar harga pangan tidak semakin mahal.
Kenaikan Harga Pangan pada Awal Konflik Masih Relatif Kecil
Menurut Kepala Ekonom FAO, Maximo Torero, harga pangan global pada Maret 2026 lalu mengalami kenaikan signifikan. Bahkan, Torero menyebut kenaikan tersebut merupakan yang tertinggi sejak September 2025.
Sejak perang antara Iran dengan AS-Israel pecah pada 28 Februari lalu, harga pangan dunia sebetulnya sudah mulai naik. Namun, kenaikan harga saat itu masih relatif kecil dan belum menimbulkan dampak yang meluas.
“Kenaikan harga sejak konflik dimulai relatif kecil, terutama didorong oleh harga minyak yang lebih tinggi dan diimbangi oleh pasokan sereal global yang melimpah,” kata Torero.
Perang Antara Iran dengan AS dan Israel Masih Berlangsung

Hingga saat ini, perang antara Iran dengan AS dan Israel masih berlangsung. Sebab, AS dan Israel masih melancarkan serangan ke Iran. Terbaru, AS berupaya meluncurkan serangan udara ke Iran pada Jumat malam waktu setempat. Namun, serangan itu gagal karena Iran mengklaim berhasil menjatuhkan jet tempur AS yang dipakai untuk menyerang mereka.
Untuk mengakhiri perang, AS sebetulnya sudah berulang kali mengajak Iran untuk bernegosiasi. Selain itu, AS juga sudah beberapa kali mengusulkan proposal perdamaian. Namun, semua upaya tersebut menemui jalan buntu karena Iran tidak kunjung sepakat.
Menurut Pakistan yang berperan sebagai mediator, Iran saat ini juga masih enggan bertemu dengan AS untuk membicarakan perdamaian. Ini membuat konflik antara kedua negara kian alot.
Donald Trump Yakin Bisa Mengakhiri Perang dengan Iran dalam Dua atau Tiga Minggu

Meski negosiasi berjalan buntu, Presiden AS, Donald Trump, beberapa waktu lalu mengatakan dirinya yakin bisa mengakhiri perang dengan Iran dalam waktu dua sampai tiga minggu. Dalam periode waktu tersebut, Trump juga berencana menyerang Iran jika mereka tidak juga sepakat untuk bernegosiasi dengan AS.
“Kita berada di jalur yang tepat untuk menyelesaikan semua tujuan militer AS dalam waktu singkat, sangat singkat. Kita akan menyerang mereka dengan sangat keras dalam dua hingga tiga minggu ke depan.” ujar Trump.
Langkah-Langkah yang Diambil untuk Mengatasi Kenaikan Harga Pangan
Beberapa langkah telah diambil oleh pemerintah untuk mengatasi kenaikan harga pangan. Salah satunya adalah penambahan impor daging sapi dari Argentina. Hal ini dilakukan untuk memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri dan menjaga stabilitas harga.
Selain itu, rencana besar Agrinas Pangan Nusantara juga menjadi fokus utama. Rencana ini bertujuan untuk meningkatkan produksi pangan lokal dan mengurangi ketergantungan pada impor.
Dalam konteks yang lebih luas, CIPS (Center for Indonesian Policy Studies) mencatat bahwa penetapan kebijakan pangan di Indonesia kurang melibatkan perempuan. Hal ini menjadi perhatian serius bagi para pemangku kebijakan agar kebijakan pangan dapat lebih inklusif dan merata.












