Daerah  

Larangan Mengemis, Pak Tarno Pilih Jualan Mainan Pakai Tongkat di Kota Tua

Kehidupan yang Penuh Perjuangan

Pak Tarno, pesulap senior yang dikenal dengan jargon ikonik “Tolong dibantu ya, prok-prok-prok jadi apa?”, selama ini menjadi sumber keceriaan bagi banyak orang. Namun, di balik senyum dan tawa yang sering ia bagikan, tersembunyi kisah perjuangan yang sangat berat. Saat ini, Pak Tarno sedang berjuang keras untuk menyambung hidup di tengah kondisi kesehatan yang menurun.

Ia tidak ingin berpangku tangan atau meminta belas kasihan. Justru, ia memilih untuk bekerja dan berjualan mainan di kawasan Kota Tua, Jakarta. Meski kondisi fisiknya tidak lagi seprima dulu akibat serangan darah tinggi, ia tetap rajin turun ke jalan setiap hari Senin hingga Jumat.

Kursi Roda sebagai Gerobak Dagangan

Pemandangan yang mengharukan terlihat saat Pak Tarno beraktivitas. Kursi roda yang biasanya digunakan untuk duduk bagi mereka yang sakit, kini ia gunakan sebagai sarana membawa barang dagangan. Ia sendiri memilih berjalan kaki perlahan dengan bantuan tongkat kayu.

“Kursi rodanya kan buat naruh barang itu, jualan. Bapak jalan pakai tongkat,” ujar Lisa Karlina, istri Pak Tarno, saat ditemui di kontrakan kawasan Warakas, Jakarta Utara, Jumat (10/4/2026).

Lisa menjelaskan bahwa suaminya tetap bersikeras bekerja karena tuntutan kebutuhan hidup yang tidak bisa menunggu. “Habis gimana? Perut nggak bisa lapar, nggak bisa ditahan,” tambahnya lirih.

Meski hidupnya kini susah, Pak Tarno menegaskan ia tak mau mengandalkan belas kasihan. Padahal selama ini masih banyak penggemar yang masih memberikan bantuan karena iba melihat kondisi sang pesulap.

Tangis Pecah Ceritakan Kebaikan Pembeli

Dalam wawancara tersebut, suasana sempat berubah haru hingga Pak Tarno meneteskan air mata. Ia menceritakan bagaimana masyarakat masih sangat peduli padanya. Tak jarang, pembeli sengaja memberikan uang jauh di atas harga barang yang ia jual.

“Ada yang beli Rp 2.000, bayarnya pakai uang Rp 100.000, nggak usah dikembaliin katanya. ‘Buat Bapak biar cepat sembuh ya Pak’,” cerita Istri Pak Tarno.

Namun, ia juga tak menampik bahwa realita di lapangan sering kali pahit. Jika sedang sepi dan tidak ada orang yang memberi “bonus”, penghasilannya dalam sehari bisa sangat minim.

“Kalau asli dari dagangan doang, pernah dapat cuma Rp 2.000,” ungkapnya.

Jiwa Seni yang Tak Pernah Luntur

Meski disibukkan dengan jualan dari pagi hingga siang, jiwa seni Pak Tarno tidak luntur. Setiap Sabtu dan Minggu malam, ia masih menyanggupi tawaran bermain sulap di pasar malam.

Agar jargon “Tolong dibantu ya” tetap bisa diucapkan dengan jelas di hadapan penonton, ia melakukan terapi mandiri yang ia sebut sebagai “senam mulut”. Dibantu sang istri, ia juga rutin mengonsumsi rebusan bumbu dapur seperti jahe, sereh, dan daun salam untuk menjaga staminanya.

“Kalau mau main sulap, diterapi dulu sama Ibu. Senam mulut dulu supaya suaranya mendingan, nggak pelat,” tutup Pak Tarno dengan semangat yang masih tersisa.

Fitri Rafifah

Seorang Jurnalis yang rutin meliput dunia kecantikan, lifestyle, dan keseharian. Ia suka mencoba skincare, menonton ulasan produk, dan memotret detail kecil. Hobinya membantu meningkatkan sensitivitasnya pada tren. Motto: “Kecantikan adalah cerita yang terus berubah.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× How can I help you?