Ringkasan Berita
Update kasus dugaan perundungan siswa SMA Pertiwi 2 Padang yang telah dilaporkan ke Polresta Padang. Korban mengalami trauma hingga terjadi perubahan perilaku sejak awal April 2026. Korban lulus jalur SNPMB di Universitas Andalas jurusan Sastra Indonesia. Pihak kepolisian akan memanggil sejumlah pihak terkait. Ibu korban menyebut anaknya juga diancam dengan kapak.
Keluarga Siswa Korban Melapor ke Polisi
Keluarga siswa korban dugaan perundungan di SMA Pertiwi 2 Padang resmi melapor ke Polresta Padang pada Kamis (9/6/2026). Korban juga diduga mendapatkan ancaman sehingga mengalami tekanan mental. Hal itu disampaikan ibu korban, Muswan Tiara (37), saat membuat Laporan Polisi (LP) ke Polresta Padang terkait dugaan perundungan yang dialami oleh anaknya. Pihak keluarga merasa dirugikan dan tidak terima dengan peristiwa tersebut hingga melaporkannya ke kepolisian. Kondisi psikis korban dilaporkan terguncang hebat akibat tekanan mental dan teror yang dialaminya di lingkungan sekolah tersebut.
Menurutnya, dugaan perundungan yang dialami anaknya tidak hanya berupa tekanan verbal, tetapi juga disertai ancaman menggunakan senjata tajam. “Anak saya bahkan diancam dengan kapak. Kejadian itu membuat mentalnya terganggu hingga ketakutan saat bertemu orang baru,” ungkap Tiara. Ia berharap proses hukum dapat memberikan keadilan serta memulihkan kondisi anaknya. “Saya ingin anak saya kembali seperti dulu,” tuturnya.
Muswan Tiara, datang ke Polresta Padang bersama dua orang kerabatnya pada Kamis. Mereka tampak menjalani pemeriksaan di Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA). Laporan itu dibuat setelah keluarga mengaku mengantongi sejumlah bukti terkait dugaan peristiwa yang dialami korban. Proses pemeriksaan berlangsung hingga siang hari dan sempat dihentikan sementara sekitar pukul 13.00 WIB untuk istirahat.
Awal Terungkapnya Kasus Dugaan Perundungan
Dugaan kasus perundungan yang dialami seorang siswa di SMA Pertiwi 2 Padang, Sumatera Barat (Sumbar) mulai terkuak. Ibu korban, Muswan Tiara (37), mengungkapkan perubahan drastis pada perilaku anaknya hingga akhirnya berujung laporan ke pihak kepolisian. Tiara menceritakan, peristiwa itu bermula pada Rabu (1/4/2026), saat dirinya dipanggil oleh wali kelas anaknya. Dalam pertemuan tersebut, ia hanya mendapat informasi adanya siswi yang merasa tidak nyaman karena anaknya menyukai siswi tersebut, serta laporan bahwa ujian anaknya tidak selesai.
“Saya bingung, tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada anak saya,” ujarnya. Namun, perubahan mulai terlihat pada dini hari keesokan harinya. Anak Tiara mendadak menunjukkan rasa takut dan menolak pergi ke sekolah. “Dia bilang tidak mau sekolah, bahkan menyebut guru sekongkol semua dan tidak berakhlak. Saya semakin tidak mengerti,” katanya. Keesokan paginya, saat kembali ditanya ingin pergi sekolah atau tidak, anak tersebut justru panik dan berlari keluar rumah. Tiara yang khawatir langsung mengejar dan mendapati anaknya menuju Polresta Padang.
“Dia bilang ingin meminta perlindungan ke polisi,” ungkapnya. Sejak kejadian itu, kondisi psikologis anaknya disebut berubah. Ia menjadi takut terhadap orang berpakaian biasa, namun merasa lebih tenang saat berada di dekat aparat kepolisian. Di hadapan polisi, untuk pertama kalinya korban mulai menceritakan apa yang dialaminya. Selama ini, menurut Tiara, sang anak tidak pernah mengungkapkan hal tersebut kepada keluarga. “Ia menyebut ada beberapa orang yang terlibat, bahkan nama-nama yang ada di video viral itu,” katanya.
Korban mengaku kerap menjadi sasaran ejekan, mulai dari sebutan “nasi goreng”, “mata juling”, “gigi ompong”, hingga “anak yatim”. Tiara menjelaskan, sebutan tersebut berkaitan dengan kondisi anaknya. Ia mengaku hanya mampu membekali anaknya dengan nasi goreng setiap hari. “Kami bukan orang mampu, hanya itu yang bisa saya berikan, memang setiap harinya saya memberi anak saya bekal nasi goreng, memang apa salahnya,” ujarnya. Selain itu, kondisi gigi anaknya yang tidak rata juga disebut menjadi bahan olokan. Bahkan, korban sempat meminta agar giginya dicabut karena merasa tidak percaya diri.
Awalnya, Tiara sempat meragukan cerita tersebut. Namun, setelah anaknya diperiksa oleh psikiater, keterangan yang disampaikan tetap konsisten. “Atas dasar itu, saya meminta anak saya dirawat di rumah sakit karena khawatir terjadi hal yang tidak diinginkan, apakah dia kabur atau bagaimana,” katanya. Tiara juga menemukan sejumlah bukti dari ponsel anaknya berupa tangkapan layar percakapan yang telah dihapus dari aplikasi, namun tersimpan di galeri. “Isi percakapan itu sesuai dengan apa yang disampaikan anak saya, walaupun chatnya sudah terhapus, tapi masih tersimpan di galerinya,” ucapnya.
Ia mengaku sempat menahan diri selama beberapa hari untuk memastikan kondisi anaknya sebelum akhirnya memutuskan melapor ke polisi. Di sisi lain, Tiara membantah anggapan pihak sekolah yang menyebut kondisi anaknya dipengaruhi latar belakang karena telah lama ditinggal ayahnya yang meninggal dunia. “Kalau memang sejak SMP bermasalah karena ayahnya meninggal, kenapa baru sekarang terjadi seperti itu, kenapa tidak dari dulu ada sifat-sifat yang janggal,” tegasnya. Menurutnya, sang anak dikenal sebagai pribadi yang pendiam dan mandiri. Bahkan, untuk memenuhi kebutuhan sendiri, ia bekerja sambilan mengangkat barang berupa buah-buahan di pasar.
“Anak saya anak yang baik, dia sopan, apapun yang terjadi pada dirinya malah dia simpan sendiri, tidak pernah menyusahkan orang tua. Bahkan ia pun mencari kerja sampingan untuk mencari uang saku, bahkan dari kerja sampingannya itu ia bisa membayar uang sekolahnya sendiri, ia bekerja sebagai pengangkut-pengangkut buah di pasar,” jelasnya. Bahkan ia juga menyebutkan bahwa anaknya merupakan anak yang pintar. Anaknya pun telah dinyatakan lulus Seleksi Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru (SNPMB) 2026 di Universitas Andalas, jurusan Sastra Indonesia.
“Anak saya ini juga hampir sama dengan anak-anak lainnya jika kemampuan belajarnya. Ia pun saat ini sudah lulus sekolah, bahkan anak saya lulus jalur Seleksi Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru (SNPMB) tahun 2026 ini dengan di Universitas Andalas di jurusan Sastra Indonesia,”

Korban Lulus SNPMB di Unand Jurusan Sastra Indonesia
Ibu korban, Muswan Tiara (37), menyebut anaknya merupakan pribadi yang pendiam dan mandiri. Untuk memenuhi kebutuhan sekolah, ia bekerja sambilan sebagai pengangkut buah di pasar. “Anak saya anak yang baik, dia sopan, apapun yang terjadi pada dirinya malah dia simpan sendiri, tidak pernah menyusahkan orang tua. Bahkan ia pun mencari kerja sampingan untuk mencari uang saku, dari kerja itu dia bisa membayar uang sekolahnya sendiri,” ujar Tiara. Menurutnya, kemampuan belajar anaknya juga tidak berbeda dengan siswa lain. Hal itu dibuktikan dengan keberhasilannya lolos SNPMB tahun 2026.
“Ia pun saat ini sudah lulus sekolah, bahkan lulus jalur SNPMB di Universitas Andalas jurusan Sastra Indonesia,” katanya. “Kita belum tau bagaimana kelanjutan sekolahnya, karena kita juga belum mendapat informasi dari pihak kampus,” tambahnya. Tiara juga mengatakan bahwa dari beberapa yang dinyatakan lulus dari SMA Pertiwi 2 Padang tersebut, salah satunya merupakan diduga pelaku yang melakukan perundungan, terduga pelaku tersebut juga dinyatakan lulus di Universitas Andalas (Unand).
Di sisi lain, Tiara juga membantah anggapan pihak sekolah yang menyebut kondisi anaknya dipengaruhi latar belakang keluarga, karena telah lama ditinggal ayahnya yang meninggal dunia. “Kalau memang sejak SMP bermasalah karena ayahnya meninggal, kenapa baru sekarang terjadi seperti itu,” tegasnya. Tiara menuturkan, perubahan perilaku anaknya mulai terlihat pada awal April 2026, setelah dirinya dipanggil pihak sekolah. Saat itu, ia hanya mendapat informasi adanya persoalan dengan teman di sekolah serta ujian yang tidak selesai.
Namun, pada dini hari setelahnya, anaknya mulai menunjukkan rasa takut dan menolak pergi ke sekolah. Keesokan harinya, anak tersebut bahkan berlari ke Polresta Padang untuk meminta perlindungan. “Dia bilang ingin meminta perlindungan ke polisi,” ungkapnya. Sejak kejadian itu, kondisi anaknya berubah. Ia disebut takut dengan orang berpakaian biasa, namun merasa lebih nyaman saat berada di dekat polisi. Di hadapan polisi, korban kemudian menceritakan dugaan perundungan yang dialaminya, termasuk ejekan dari sejumlah teman. Tiara mengaku sempat menahan diri beberapa hari untuk memahami kondisi anaknya sebelum akhirnya melaporkan kejadian tersebut ke pihak kepolisian.
Ia juga menemukan bukti berupa tangkapan layar percakapan di ponsel anaknya yang disebut sesuai dengan cerita korban. Kini, ia berharap proses hukum dapat memberikan keadilan sekaligus memulihkan kondisi anaknya. “Saya ingin ada keadilan. Saya hanya ingin anak saya kembali seperti dulu,” tutupnya.

Polisi akan Panggil Sejumlah Pihak Terkait
Satreskrim Polresta Padang tengah menyelidiki dugaan kasus perundungan yang terjadi di SMA Pertiwi 2 Padang, Sumatera Barat. Penyelidikan dilakukan setelah adanya laporan dari keluarga korban serta beredarnya video yang diduga memperlihatkan kejadian tersebut. Kasat Reskrim Polresta Padang, Kompol Muhammad Yasin, mengatakan pihaknya saat ini masih dalam tahap awal penyelidikan dengan mengumpulkan keterangan dari sejumlah pihak. “Laporan sudah kami terima. Saat ini kami masih melakukan penyelidikan dengan meminta keterangan dari beberapa pihak,” ujarnya, Kamis (9/6/2026). Menurutnya, kepolisian akan memanggil pihak-pihak terkait, termasuk dari lingkungan sekolah, guna mendalami dugaan peristiwa tersebut.
“Kami akan lakukan pemanggilan terhadap pihak sekolah maupun pihak lain yang berkaitan untuk memastikan kronologi kejadian,” katanya. Yasin menambahkan, proses penyelidikan masih berjalan sehingga pihaknya belum dapat merinci jumlah saksi yang telah diperiksa. Ia memastikan perkembangan kasus akan disampaikan secara berkala. Selain itu, polisi juga memperhatikan kondisi korban yang saat ini dikabarkan tengah menjalani pemeriksaan medis dan pendampingan. “Dari informasi yang kami terima, korban sedang dalam penanganan dan pemeriksaan, termasuk secara kesehatan,” jelasnya. Ia menegaskan, penanganan perkara ini akan mengacu pada sistem peradilan anak, mengingat pihak-pihak yang terlibat masih berusia di bawah umur.
“Baik korban maupun terduga pelaku yang masih anak-anak akan ditangani sesuai dengan ketentuan sistem peradilan anak,” tegasnya. Klarifikasi Sekolah Video dugaan perundungan yang melibatkan siswa SMA Pertiwi 2 Padang, Sumatera Barat (Sumbar) viral di media sosial dan memicu perhatian publik. Dalam video tersebut, terlihat pihak sekolah, orang tua korban, serta empat siswa yang diduga terlibat. Keluarga korban tampak emosional saat menyampaikan kondisi anaknya yang disebut mengalami gangguan psikis akibat dugaan perundungan. Informasi yang beredar menyebutkan korban saat ini tengah menjalani observasi di salah satu rumah sakit jiwa di Kota Padang.
Menanggapi hal itu, Kepala SMA Pertiwi 2 Padang, Syafril, menyatakan pihak sekolah belum dapat membenarkan tudingan perundungan tersebut dan masih melakukan penelusuran. “Kami tidak serta-merta menerima tuduhan itu. Saat ini kami masih melakukan penelusuran untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi,” ujarnya, Rabu (8/4/2026). Ia menjelaskan, peristiwa dalam video bermula saat pihak keluarga datang ke sekolah dalam kondisi emosi, sehingga terjadi perdebatan yang kemudian direkam dan beredar di media sosial. “Kami sempat menyarankan agar persoalan ini diselesaikan secara kekeluargaan, namun belum ada kesepakatan,” katanya. Sementara itu, Wakil Kepala Sekolah SMA Pertiwi 2 Padang, Desi Nofita Sari, mengatakan pihak sekolah berupaya bersikap objektif dan mengedepankan empati terhadap semua pihak.
“Kami memiliki empati besar, baik kepada siswa yang disebut sebagai korban maupun yang dituduh sebagai pelaku. Saat ini kami masih dalam tahap penelusuran fakta secara menyeluruh,” ujarnya. Menurutnya, sekolah telah mengambil sejumlah langkah, di antaranya menghubungi keluarga korban, mendatangi siswa terkait, serta berdiskusi dengan orang tua dari siswa yang disebut terlibat. “Kami tidak diam. Semua pihak kami hubungi dan kami lakukan evaluasi untuk mengetahui penyebab kejadian ini,” katanya. Terkait dugaan perundungan, Desi menyebut pihak sekolah belum dapat memastikan kebenarannya karena proses penelusuran masih berlangsung.
“Informasi yang ada saat ini belum lengkap. Kami tidak bisa mengambil kesimpulan dari satu sisi saja. Semua pihak harus menyampaikan fakta secara adil,” ujarnya. Ia menambahkan, berdasarkan pengamatan pihak sekolah, korban dikenal sebagai siswa yang cenderung pendiam dan kurang berinteraksi dengan teman-temannya. “Korban ini anaknya pendiam. Sementara teman-temannya lebih periang. Bisa jadi ada perbedaan cara menerima candaan,” katanya. Namun demikian, ia menegaskan hal tersebut belum dapat dijadikan dasar untuk menyimpulkan adanya perundungan. Pihak sekolah juga telah meminta keterangan dari empat siswa yang disebut sebagai pelaku. Menurut Desi, para siswa tersebut mengaku tidak memahami tuduhan yang dialamatkan kepada mereka.
“Mereka mengaku hanya bercanda seperti biasa dan tidak merasa melakukan perundungan,” ujarnya. Saat ini, kondisi korban masih dalam tahap observasi di rumah sakit dan belum dapat ditemui. Pihak sekolah menyatakan akan terus melakukan penelusuran mendalam guna memastikan fakta yang sebenarnya, serta menegaskan komitmen untuk menangani kasus ini secara adil. Kadisdik Sumbar Tegaskan Zero Tolerance Perundungan Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Barat, Habibul Fuadi, menegaskan pihaknya tidak akan mentolerir segala bentuk perundungan di lingkungan sekolah. Pernyataan itu disampaikan menyusul viralnya video dugaan perundungan yang melibatkan siswa SMA Pertiwi 2 Padang dan menjadi perhatian publik.
“Tidak ada toleransi untuk perundungan di sekolah. Kami akan memantau kasus ini melalui mekanisme yang ada,” ujar Habibul Fuadi saat dihubungi, Rabu (8/4/2026). Ia menjelaskan, penanganan kasus dilakukan secara berjenjang, dimulai dari pihak sekolah, kemudian dilanjutkan oleh pengawas satuan pendidikan guna memastikan penyelesaian berjalan objektif dan kejadian serupa tidak terulang. “Ada mekanisme berjenjang. Sekolah terlebih dahulu melakukan penanganan, lalu diawasi oleh pengawas satuan pendidikan. Ini penting agar pembinaan berjalan maksimal,” katanya. Menurutnya, peran guru dalam mendidik siswa sangat kompleks, sehingga diperlukan pembinaan berkelanjutan.
“Namanya mendidik tidak bisa sekali jadi. Orang dewasa saja masih banyak yang melakukan kesalahan, apalagi anak-anak. Di sinilah peran guru sangat berat,” ujarnya. Habibul menambahkan, pihaknya akan terus meningkatkan pengawasan dan pembinaan di seluruh sekolah di Sumbar agar kasus serupa tidak kembali terjadi. “Kami minta seluruh kepala sekolah meningkatkan pembinaan kepada siswa. Perundungan tidak boleh terjadi di mana pun karena dampaknya merugikan semua pihak,” tegasnya. Sementara itu, terkait video yang beredar, pihak SMA Pertiwi 2 Padang menyatakan masih melakukan penelusuran untuk memastikan kebenaran dugaan perundungan tersebut. Kepala SMA Pertiwi 2 Padang, Syafril, mengatakan pihaknya belum dapat menyimpulkan adanya perundungan dan masih mengumpulkan fakta dari berbagai pihak. “Kami masih melakukan penelusuran untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi,” katanya. Hal senada disampaikan Wakil Kepala Sekolah, Desi Nofita Sari. Ia menegaskan sekolah berupaya bersikap objektif dan mengedepankan empati terhadap semua pihak, baik yang disebut sebagai korban maupun yang dituduh sebagai pelaku. Saat ini, korban dikabarkan tengah menjalani observasi di salah satu rumah sakit jiwa di Kota Padang dan belum dapat ditemui. Pihak sekolah menyatakan akan terus melakukan pendalaman guna memastikan fakta yang sebenarnya, serta menangani persoalan tersebut secara adil.
Seorang penulis berita online yang terbiasa bekerja cepat tanpa mengabaikan akurasi. Ia menaruh perhatian pada isu sosial, budaya, dan tren masyarakat. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca buku psikologi, berjalan kaki di taman, dan merawat tanaman hias. Ia percaya bahwa ide terbaik muncul dari ketenangan. Motto: “Ketelitian adalah kunci dari kredibilitas.”












