Kondisi Imunisasi Anak di Aceh yang Mengkhawatirkan
Dinas Kesehatan (Dinkes) Aceh mencatat sebanyak 281.984 anak di provinsi tersebut dalam periode 2021 hingga 2025 tidak menerima imunisasi lengkap. Angka ini menunjukkan bahwa kondisi imunisasi anak-anak di Aceh sangat memprihatinkan, terutama karena risiko tinggi terhadap berbagai penyakit menular, seperti campak.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Aceh, dr Iman Murahman, menyebutkan bahwa sebagian besar dari anak-anak tersebut bahkan tidak memiliki riwayat imunisasi sejak bayi hingga usia lima tahun. “Sekitar 281 ribu anak di Aceh dalam lima tahun terakhir sama sekali tidak ada riwayat imunisasi dari bayi sampai dengan umur lima tahun,” ujarnya.
Penyebab Rendahnya Cakupan Imunisasi
Berdasarkan hasil survei Dinkes Aceh, rendahnya cakupan imunisasi disebabkan oleh faktor utama berupa ketidakmauan orang tua. Banyak orang tua merasa khawatir terhadap efek samping imunisasi. Keikhawatiran ini sering kali muncul karena kurangnya pemahaman tentang manfaat imunisasi.
“Ada yang memang sama sekali tidak mau ya. Jadi, kekhawatirannya itu lebih besar saat sebelum pelaksanaan imunisasi, dan tidak mengetahui manfaat yang terbaik dari imunisasi itu sendiri,” ujarnya.
Wilayah dengan Anak Tidak Diimunisasi Terbanyak
Data Dinkes Aceh menunjukkan bahwa terdapat tiga daerah dengan jumlah anak tidak diimunisasi tertinggi, yaitu:
- Kabupaten Pidie sebanyak 34.182 anak
- Kabupaten Aceh Utara sebanyak 31.491 anak
- Kabupaten Bireuen sebanyak 30.302 anak
Wilayah-wilayah ini menjadi prioritas pemerintah daerah dalam upaya peningkatan cakupan imunisasi.
Dampak Rendahnya Imunisasi
Anak-anak yang tidak mendapatkan imunisasi memiliki risiko tinggi terpapar penyakit menular, salah satunya campak. Penyakit ini masih menjadi masalah kesehatan di Aceh dengan jumlah kasus yang cukup signifikan setiap tahunnya.
Iman menyebutkan bahwa rata-rata terdapat sekitar lima ribu kasus campak setiap tahun di Aceh, dan sebagian besar penderitanya berasal dari kelompok anak yang tidak diimunisasi. “Bahkan, untuk tahun ini saja sudah 724 kasus sejak Januari sampai Maret 2026, dan saya pikir tahun ini juga pasti angkanya ada berjumlah ribuan, karena memang anak-anak tadi kita belum dikejar untuk imunisasi,” ujarnya.
Posisi Aceh Secara Nasional
Secara nasional, capaian imunisasi lengkap anak di Aceh masih tergolong rendah. Pada periode Januari hingga Maret 2026, Aceh berada di peringkat ke-37 dari 38 provinsi di Indonesia. “Kalau secara nasional pada 2026, kita 1,9 persen atau baru 2 persen anak-anak, bayi di Aceh yang sudah imunisasi lengkap, dan itu kita menduduki peringkat ke 37, di atas Papua Pegunungan yang baru 0,1 persen,” kata Iman.
Angka ini menunjukkan perlunya upaya lebih intensif untuk meningkatkan cakupan imunisasi di daerah tersebut.
Langkah yang Dilakukan Pemerintah
Dinkes Aceh bersama pemerintah kabupaten/kota terus melakukan berbagai upaya untuk mengejar ketertinggalan imunisasi. Salah satu strategi yang dilakukan adalah dengan mengoptimalkan peran petugas kesehatan di lapangan.
“Sedikit demi sedikit, karena kita juga meminta ke petugas kesehatan untuk menyarankan dan kejar anak-anak yang ikut posyandu untuk imunisasi, sehingga mereka punya kekebalan, terutama terhadap campak,” ujarnya.
Selain itu, pemerintah juga melakukan pendekatan kepada pemerintah daerah agar turut aktif dalam sosialisasi kepada masyarakat. Beberapa daerah seperti Aceh Tengah dan Aceh Tenggara telah menunjukkan hasil positif berkat dukungan penuh dari pemerintah setempat.
Dinkes Aceh saat ini fokus meningkatkan capaian imunisasi di sejumlah daerah dengan tingkat cakupan rendah, seperti Pidie, Bireuen, Aceh Jaya, dan Aceh Besar. “Sekarang kita sedang mencoba di Kabupaten Pidie, Bireuen, Aceh Jaya, Aceh Besar, karena daerah ini capaian imunisasinya sangat rendah sekali, mudah-mudahan dengan pendekatan tersebut kita bisa melakukan peningkatan di 2026,” kata Iman.












