Bisnis  

Nasib Kapal Pertamina Pasca Blokade Selat Hormuz



JAKARTA — PT Pertamina (Persero) mengungkapkan bahwa dua kapal yang dimilikinya masih terjebak di kawasan Selat Hormuz seiring meningkatnya ketegangan di wilayah tersebut. Perusahaan energi pelat merah ini terus memantau situasi yang sangat dinamis sambil menjaga komunikasi intensif dengan para kru yang berada di atas kapal.

Corporate Secretary Pertamina Arya Dwi Paramita menyatakan bahwa pihaknya terus melakukan berbagai upaya agar kedua kapal yang tertahan akibat konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran dapat segera melanjutkan perjalanan. Ia menekankan bahwa Pertamina terus berkoordinasi dan berkonsultasi dengan pemangku kepentingan terkait, termasuk Kementerian Luar Negeri.

Pertamina berharap dukungan dari diplomasi dan koordinasi lintas pihak akan memungkinkan kedua kapal tersebut segera melanjutkan perjalanan setelah kondisi keamanan di Selat Hormuz dinyatakan aman.

Vice President Corporate Communication Pertamina Muhammad Baron menambahkan bahwa pihaknya berharap kedua kapal dapat segera melanjutkan pelayaran setelah kondisi memungkinkan. “Sampai sejauh ini semuanya positif. Namun, dinamika yang terjadi di Selat Hormuz ini yang kami terus pantau. Pada saat semua sudah aman, kita berharap kapal dapat melewati Selat Hormuz,” ujarnya.

Menurutnya, komunikasi dengan berbagai pihak berjalan secara konstruktif. Namun, situasi di lapangan masih memerlukan pemantauan ketat agar keselamatan kru dan aset tetap menjadi prioritas utama.

Dalam perkembangan terbaru, Presiden AS Donald Trump mengindikasikan bahwa jalur diplomatik untuk mengakhiri konflik di Iran berpotensi kembali dibuka pekan ini, menyusul gagalnya perundingan pada akhir pekan yang berujung pada keputusan AS memberlakukan blokade terhadap pelabuhan Iran.

“Anda sebaiknya tetap berada di sana [Islamabad], karena sesuatu bisa terjadi dalam dua hari ke depan, dan kami lebih condong untuk menuju ke sana,” ujar Trump seperti dikutip BBC, Rabu (15/6/2026).

Komentar tersebut disampaikan di tengah konfirmasi militer AS bahwa tidak ada kapal yang berhasil melintasi blokade terhadap pelabuhan dan wilayah pesisir Iran dalam 24 jam pertama operasi. Kondisi kebuntuan ini memicu ketidakpastian terhadap keberlanjutan gencatan senjata dua pekan yang dijadwalkan berakhir pekan depan. Hingga kini, Teheran belum memberikan respons resmi. Namun, Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) António Guterres menilai sangat mungkin perundingan akan kembali dilanjutkan.

Pejabat dari kawasan Teluk, Pakistan, dan Iran mengindikasikan bahwa tim negosiasi dari Washington dan Teheran berpotensi kembali ke Pakistan dalam waktu dekat, meski jadwal belum difinalisasi. Optimisme terhadap kelanjutan diplomasi turut meredakan tekanan di pasar energi, dengan harga minyak acuan terkoreksi ke bawah US$100 pada Selasa.

Iran secara de facto telah menutup Selat Hormuz yang menjadi jalur vital perdagangan minyak dan gas global sejak menjadi target serangan udara AS dan Israel pada 28 Februari 2026. Sebagai respons, lebih dari selusin kapal perang AS dan sekitar 10.000 personel militer dikerahkan untuk menegakkan blokade terhadap seluruh kapal yang keluar-masuk pelabuhan Iran, secara efektif memutus salah satu urat nadi ekonomi negara tersebut.

Kebijakan ini dirancang untuk memberikan tekanan maksimal terhadap Teheran dengan menargetkan dua sumber utama pendapatan negara, yakni ekspor minyak dan pungutan transit dari kapal yang melintasi jalur strategis tersebut. Komando Pusat Amerika Serikat (Centcom) melaporkan bahwa enam kapal dagang mematuhi instruksi untuk berbalik arah dalam 24 jam pertama operasi. Namun demikian, analisis data pelacakan kapal oleh BBC menunjukkan setidaknya empat kapal yang terkait Iran tetap berhasil melintasi Selat Hormuz, termasuk dua yang sebelumnya berlabuh di pelabuhan Iran. Selain itu, tiga kapal non-Iran juga tercatat melintasi selat setelah blokade diberlakukan.

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× How can I help you?