Peran Ranjau Laut dalam Konflik di Selat Hormuz
Selat Hormuz, yang menjadi jalur vital bagi perdagangan global, kini menjadi pusat perhatian akibat penyebaran ranjau laut oleh Iran. Sejak awal konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Israel pada Februari 2024, Iran telah memasang ranjau di sepanjang jalur sempit ini, menutup sebagian besar lalu lintas maritim. Operasi anti-ranjau oleh AS kini sedang dipertimbangkan untuk mengembalikan keamanan wilayah tersebut.
Jenis Ranjau yang Digunakan Iran
Iran diperkirakan menggunakan dua jenis ranjau modern yang dipicu sensor: Maham 3 dan Maham 7. Maham 3 adalah ranjau yang ditambatkan dengan berat sekitar 300 kg, mampu beroperasi hingga kedalaman 100 meter. Sementara itu, Maham 7 adalah ranjau yang terletak di dasar laut dengan berat sekitar 220 kg. Kedua jenis ranjau ini dirancang untuk perairan dangkal dan dapat menghindari deteksi sonar. Mereka menggunakan sensor magnetik dan akustik, bukan pemicu kontak sederhana, sehingga lebih sulit dideteksi.
Taktik Asimetris Iran dalam Konflik
Iran telah menerapkan taktik perang asimetris dalam konflik ini. Hal ini mencakup penggunaan drone, rudal anti-kapal, dan kapal serang cepat. Pemasangan ranjau di Selat Hormuz merupakan strategi tambahan dari taktik ini. Meskipun mengalami kerugian, Iran masih memiliki sebagian besar kapal kecil dan kemampuan pemasangan ranjau, menurut laporan dari Garda Revolusi Iran (IRGC).
Proses Pembersihan Ranjau oleh AS
Membersihkan ranjau jauh lebih sulit daripada memasangnya. Pasukan AS akan menghadapi risiko ranjau meledak atau serangan dari kapal IRGC. Kapal penyapu ranjau berawak rentan di selat yang sempit, sehingga metode yang lebih disukai melibatkan sistem tanpa awak. Ini termasuk drone selam Knifefish dan kapal permukaan tak berawak MCM yang mirip perahu cepat. Mereka juga dapat menggunakan sistem udara seperti AN/ASQ-235 atau Archerfish, yang diterbangkan dari helikopter MH-60S, menggunakan perangkat berpemandu sonar untuk menghancurkan ranjau.
Risiko yang Dihadapi AS
Meskipun menggunakan drone, kapal dan pesawat AS harus beroperasi di dekat Selat Hormuz, sehingga menjadi sasaran rudal atau kawanan drone jika pertempuran kembali terjadi. Terdapat laporan bahwa dua kapal perusak AS, USS Frank E Petersen dan USS Michael Murphy, melewati selat tersebut pada tanggal 11 April.
Keuntungan Strategis Bagi Iran
Ranjau darat murah namun memiliki kekuatan strategis karena bahkan sejumlah kecil bahan peledak tersembunyi ini dapat menutup jalur pelayaran utama. Beberapa ranjau dapat meledak setelah beberapa kapal lewat, meningkatkan ketidakpastian dan gangguan. Hal ini memberi Iran pengaruh yang tidak proporsional atas perdagangan global.
Blokade Selat Hormuz dan Hukum Internasional
Iran mengklaim sebagian selat tersebut sebagai perairan teritorialnya, meskipun hukum internasional umumnya melarang pemblokiran selat yang digunakan untuk pelayaran non-militer. Namun, baik Iran maupun AS belum menandatangani Konvensi PBB tentang Hukum Laut tahun 1994. Saat perundingan perdamaian berlanjut, masih belum jelas apakah Iran akan memberikan peta ladang ranjau kepada AS.
Kesimpulan
Penggunaan ranjau laut canggih oleh Iran, ditambah dengan ketidakpastian tentang jumlah dan lokasinya, telah membuat Selat Hormuz sangat berbahaya. AS memiliki teknologi untuk membersihkan ranjau tersebut, tetapi prosesnya tidak akan cepat, karena penyapuan ranjau lambat, berisiko, dan berpotensi meningkatkan ketegangan. Dengan situasi yang semakin rumit, stabilitas global kini bergantung pada kemampuan AS untuk melakukan operasi pembersihan ranjau secara efektif.












