Persiapan Menghadapi Musim Kemarau yang Lebih Kering
BPBD Kota Blitar sedang mempersiapkan berbagai langkah antisipasi untuk menghadapi musim kemarau yang diprediksi lebih kering pada tahun 2026. Dalam rangka mengantisipasi kekeringan, BPBD telah menyiapkan sejumlah tandon air dan personel yang siaga 24 jam. Hal ini dilakukan sebagai upaya untuk memastikan ketersediaan air bersih bagi warga yang terdampak bencana kekeringan.
BMKG memprediksi bahwa musim kemarau tahun ini akan berlangsung lebih panjang dibandingkan tahun lalu. Meskipun tidak sepenuhnya disebut sebagai “kemarau panjang”, kondisi ini tetap menjadi perhatian serius karena tingkat kekeringan yang lebih parah dibandingkan tahun sebelumnya. Dengan demikian, BPBD Kota Blitar mengambil langkah-langkah preventif agar dapat merespons dengan cepat jika terjadi kekeringan.
Langkah-Langkah Antisipasi
Kepala BPBD Kota Blitar, Agus Suherli, menjelaskan bahwa pihaknya telah menyiapkan beberapa langkah antisipasi. Salah satunya adalah menyiapkan personel yang siaga 24 jam selama musim kemarau. Selain itu, BPBD juga membuka saluran pengaduan melalui call center, Pusdalops, serta masing-masing kelurahan. Hal ini bertujuan untuk memudahkan masyarakat dalam melaporkan kondisi kekeringan yang terjadi di wilayah mereka.
Selain itu, BPBD Kota Blitar juga telah menyiapkan 21 tandon air yang akan ditempatkan di wilayah-wilayah yang rentan terkena dampak kekeringan. Tandon air tersebut akan digunakan untuk mendistribusikan air bersih kepada warga yang membutuhkan. Namun, hingga saat ini, BPBD belum memiliki truk tangki sendiri untuk mensuplai air. Oleh karena itu, mereka meminjam truk dari DLH dan Pemadam Kebakaran.
Kerja Sama dengan OPD Terkait
Agus menjelaskan bahwa BPBD Kota Blitar berkoordinasi dengan OPD terkait, seperti DLH, untuk menggunakan truk tangki dalam kegiatan dropping air. Ia menyampaikan bahwa truk tangki dari Pemadam Kebakaran saat ini sedang dalam perbaikan. Oleh karena itu, pihaknya akan memaksimalkan penggunaan truk tangki dari DLH jika terjadi kekeringan.
Selain itu, BPBD juga bekerja sama dengan PDAM untuk mensuplai air ke warga yang terdampak kekeringan. Meskipun demikian, hingga saat ini, BPBD belum melakukan pengadaan sumur bor di daerah-daerah yang pernah terdampak kekeringan. Menurut Agus, jika ada sumur bor di wilayah rawan kekeringan, hal ini akan mempermudah distribusi air.
Imbauan kepada Masyarakat
Agus mengimbau masyarakat untuk memelihara sumber air yang ada di sekitar lingkungan mereka. Sumber air tersebut bisa dimanfaatkan saat musim kemarau tiba. Ia juga meminta masyarakat untuk segera melapor jika terjadi kekeringan. Dengan begitu, BPBD dapat segera merespons dan memberikan bantuan yang diperlukan.
Petakan Wilayah Rawan Kekeringan
Di sisi lain, Kepala BPBD Kabupaten Blitar, Wahyudi, menjelaskan bahwa pihaknya sedang melakukan persiapan menghadapi musim kemarau 2026. BPBD Kabupaten Blitar telah memetakan wilayah-wilayah yang rawan terkena kekeringan. Ada 22 desa di tujuh kecamatan yang teridentifikasi sebagai wilayah rawan kekeringan.
Tujuh kecamatan yang rawan kekeringan di Kabupaten Blitar antara lain Wates, Binangun, Panggungrejo, Sutojayan, Wonotirto, Bakung, dan Kademangan. BPBD Kabupaten Blitar juga telah menyiapkan dua unit truk tangki untuk suplai air bersih. Selain itu, mereka juga berkoordinasi dengan PDAM dan PMI, yang masing-masing memiliki truk tangki tambahan.
Reporter berita yang mengutamakan akurasi dan objektivitas. Ia memiliki ketertarikan pada isu sosial dan ekonomi, serta mengikuti perkembangan dunia digital. Waktu luangnya dihabiskan untuk membaca laporan penelitian, mendengarkan podcast edukasi, dan berjalan santai di taman kota. Motto: "Fakta adalah kompas bagi setiap penulis."












