Daftar Periksa Kesehatan: Mulai dari Kebiasaan Makan

Sumber Penyakit yang Perlu Diperhatikan

Menurut para ahli kesehatan, penyakit berasal dari dua sumber utama, yaitu perut dan pikiran. Oleh karena itu, untuk menjaga kesehatan, kita harus selalu memperhatikan apa yang kita masukkan ke dalam tubuh dan menjaga pikiran agar tidak terlalu khawatir atau terlalu banyak berpikir.

Pencegahan lebih baik daripada pengobatan. Seperti kata pepatah, “Sedia payung sebelum hujan.” Lebih baik menjaga diri agar tetap sehat daripada harus menghadapi sakit yang bisa sangat menyulitkan. Terlebih jika kita bergantung pada layanan kesehatan seperti BPJS, maka akan ada banyak hal yang harus dihadapi, termasuk kesulitan dalam proses pengobatan.

Perut bisa dibandingkan dengan ruang tamu di dalam rumah. Semakin banyak barang yang ditaruh di dalamnya, semakin sulit untuk merawat dan membersihkannya. Jika ingin tetap bersih, kita harus telaten dalam menjaganya, seperti menyapu, memel, dan melap sudut-sudutnya.

Demikian juga dengan perut kita, semakin banyak makanan yang masuk, semakin berat beban usus untuk mencerna. Belum selesai mencerna satu makanan, makanan lain sudah masuk lagi.

Deteksi Dini Kesehatan Diri Sendiri

Sebagai pengalaman pribadi, ketika saya datang ke dokter, saya diminta untuk mengambil sampel kotoran sendiri. Setelah hasil laboratorium keluar, dokter hanya berkata: “Bapak makannya jorok.” Kalimat tersebut cukup menohok, tapi benar-benar membuat saya sadar bahwa pola makan saya tidak sehat.

Sebelum pergi ke dokter, setiap kali saya sakit, biasanya disertai demam tinggi dan nyeri tulang yang sangat mengganggu. Saat berbicara dengan orang awam, mereka sering mengatakan bahwa saya terkena flu Hong Kong. Sakit saya selalu parah saat musim hujan. Selain itu, saya juga merasa lemas, dan akhirnya didiagnosis mengalami gejala typus.

Setelah dokter mengatakan bahwa saya memiliki kebiasaan makan yang jorok, saya mulai mencari tahu penyebabnya. Ternyata, setiap habis makan saya selalu minum minuman bersoda. Iklannya memang menggoda, dan setelah makan rasa mual hilang dengan minum minuman tersebut.

Selain itu, sarapan saya juga tidak teratur. Saya sering makan sesuka hati, termasuk makanan pedas berlebihan. Kata “JOROK” itu selalu melekat dalam pikiran saya.

Kebiasaan ini sesuai dengan kebiasaan kerja yang tidak teratur. Pekerjaan sering dibawa pulang, dan ada tekanan untuk terlihat rajin. Akibatnya, saya overthinking. Perut makan seenaknya, sedangkan pikiran terpengaruh oleh cara berpikir orang lain. Akhirnya, tubuh tidak bisa menahan lagi dan sakit pun datang.

Checklist Kebiasaan Makan yang Harus Diperbaiki

Awal dari checklist kebiasaan makan ini adalah langkah awal untuk mengubah kebiasaan saya. Pertama, saya mulai menghindari sambal berlebihan dalam sarapan pagi. Kedua, sejak tahun 2001, saya berhenti minum minuman bersoda. Awalnya total berhenti, sekarang hanya sekali-sekali, tetapi tidak sampai habis. Ketiga, saya menghindari minuman yang dicampur es. Saat haus, saya mengganti minuman beres dengan air dalam kemasan.

Hasilnya, saya berhasil mencapai usia yang mendekati kepala enam dengan jarang mengalami sakit. Pernah terkena sakit karena overwork, hampir terkena sakit kuning. Sebelum parah, saya curiga karena warna air kencing yang kuning pekat. Dokter mengatakan untung saya tahu lebih awal sehingga bisa dicegah. Dalam resepnya, dokter menyarankan untuk minum madu dan ternyata dokternya juga menjual madu.

Checklist kebiasaan ini harus terus ditingkatkan sesuai dengan pertambahan usia. Karena daya tahan tubuh juga tergantung pada usia. Istri saya berasal dari Minang, jadi makanan yang disajikan biasanya pedas. Oleh karena itu, saya mulai mengurangi rasa pedas untuk menjaga kesehatan perut yang semakin melemah.

Kesadaran Sehat Harus Dimulai dari Disiplin

Saat dokter mengatakan bahwa saya memiliki kebiasaan makan yang jorok, sebenarnya banyak orang sudah memberi peringatan. Buku-buku kesehatan, tips kesehatan, dan bahkan dari radio sering mengingatkan pentingnya pola makan sehat. Jadi, ketika dokter menyampaikannya secara langsung, semua informasi yang sudah ada di kepala seperti dinyalakan saklar.

Kesadaran ini membentuk disiplin yang saya terapkan hingga sekarang. Kuncinya adalah disiplin diri. Obat-obatan dan vitamin tetap perlu disiapkan, tetapi lebih penting lagi adalah memperkuat imun tubuh dengan kebiasaan hidup sehat. Dengan begitu, jika suatu saat sakit, tubuh akan cepat pulih.

Ingat, sakit saat ini sangat mahal. Lebih baik melakukan kebiasaan sehat sejak dini. Selamat mencoba!

Erina Syifa

Seorang penulis berita yang sering meliput isu pemerintahan dan administrasi publik. Ia memiliki kebiasaan membaca analisis kebijakan, menonton diskusi publik, dan membuat catatan ringkas. Waktu luangnya ia gunakan untuk berjalan santai. Motto: “Ketegasan dalam informasi adalah bentuk pelayanan publik.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× How can I help you?