JAKARTA — Pihak Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI menegaskan bahwa isu mengenai “super flu” tidak perlu menyebabkan kepanikan berlebihan. Pemerintah memastikan bahwa vaksin influenza yang tersedia saat ini masih efektif dalam menurunkan risiko sakit berat, rawat inap, hingga kematian akibat influenza A (H3N2), termasuk subklade K yang belakangan menjadi perhatian.
Juru Bicara Kemenkes RI, Widyawati, memberikan penjelasan tersebut sebagai respons terhadap pemberitaan mengenai situasi influenza A (H3N2) subklade K di beberapa negara. Menurutnya, berdasarkan evaluasi dari World Health Organization (WHO) dan kondisi epidemiologi terkini, subklade K tidak menunjukkan peningkatan tingkat keparahan dibandingkan dengan klade atau subklade lainnya.
“Gejala umumnya seperti flu musiman, yaitu demam, batuk, pilek, sakit kepala, nyeri tenggorokan,” ujar Widyawati di Jakarta, Kamis (1/1/2026).
Meski demikian, pemerintah tetap meningkatkan kewaspadaan dengan melakukan surveilans dan pelaporan secara berkelanjutan, serta menyiapkan kebijakan dan langkah mitigasi sesuai perkembangan situasi.
Tren Global dan Asia
Widyawati menjelaskan bahwa di tingkat global, peningkatan kasus influenza tipe A (H3) mulai terpantau di Amerika Serikat sejak minggu ke-40 tahun 2025 atau sekitar Oktober. Lonjakan tersebut sejalan dengan masuknya musim dingin, pola yang juga terjadi pada tahun-tahun sebelumnya.
“Jumlah kasusnya yang dilaporkan di Amerika Serikat sebanyak 1.127 kasus,” katanya.
Sementara di kawasan Asia, subklade K telah terdeteksi di sejumlah negara, antara lain China, Korea, Jepang, Singapura, dan Thailand sejak minggu ke-30 tahun 2025. Varian dominan di wilayah tersebut adalah influenza A (H3). Kendati demikian, tren kasus influenza di negara-negara Asia itu justru menunjukkan penurunan dalam dua bulan terakhir. Kondisi serupa juga terjadi di Indonesia.
Situasi di Indonesia
Di dalam negeri, varian influenza yang dominan masih influenza A (H3). Berdasarkan pemantauan Kemenkes, tren kasus influenza nasional juga menurun dalam dua bulan terakhir. Hasil Whole Genome Sequencing (WGS) yang diselesaikan pada 25 Desember 2025 menunjukkan subklade K telah terdeteksi sejak Agustus 2025. Temuan tersebut berasal dari laporan 88 sentinel Influenza-Like Illness (ILI) dan Severe Acute Respiratory Infection (SARI) yang tersebar di seluruh Indonesia.
Hingga akhir Desember 2025, tercatat total 62 kasus subklade K di delapan provinsi. Kasus terbanyak ditemukan di Jawa Timur, Kalimantan Selatan, dan Jawa Barat. Terbanyak, influenza A (H3) ada pada perempuan, yaitu sebanyak 64 persen, di usia 1-10 tahun 35 persen.
Dari 843 spesimen yang dinyatakan positif influenza, sebanyak 348 sampel dilakukan pemeriksaan genome sequencing. Hasilnya menunjukkan 152 sampel atau 44 persen merupakan tipe A (H1), 172 sampel atau 49 persen tipe A (H3), dengan 62 sampel atau sekitar 36 persen di antaranya merupakan subklade K. Sementara itu, 24 sampel atau 7 persen lainnya merupakan tipe B/Victoria.
Menurut Kemenkes, seluruh varian yang ditemukan tersebut merupakan virus yang telah dikenal dan telah lama bersirkulasi secara global. Seluruhnya juga terpantau dalam sistem surveilans WHO.
Upaya Pencegahan yang Dianjurkan
Di tengah isu super flu yang berkembang, Kemenkes mengimbau masyarakat untuk tetap menerapkan langkah-langkah pencegahan dasar. Upaya tersebut antara lain dengan memperkuat daya tahan tubuh melalui perilaku hidup bersih dan sehat, rutin mencuci tangan, istirahat yang cukup, serta mengonsumsi makanan bergizi.
Pemerintah juga menganjurkan vaksinasi influenza tahunan, terutama bagi kelompok rentan seperti lansia, ibu hamil, dan individu dengan penyakit penyerta. Selain itu, masyarakat diminta tetap berada di rumah saat sakit, memperbanyak istirahat, menerapkan etika batuk, serta menggunakan masker bila diperlukan.
Pihak Kemenkes menegaskan akan terus memantau dinamika penyebaran influenza di dalam dan luar negeri. Termasuk memastikan masyarakat mendapatkan informasi yang akurat agar tidak terjebak pada informasi yang menyesatkan.












