ACEH TAMIANG,
Direktur Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Muda Sedia Aceh Tamiang Andika Putra menyampaikan bahwa banyak warga setempat mengalami gangguan kesehatan atau penyakit setelah bencana banjir bandang dan tanah longsor yang terjadi akhir November 2025.
Andika menjelaskan bahwa sejak RSUD Muda Sedia kembali beroperasi pada 9 Desember 2025, jumlah pasien yang datang semakin meningkat. Ia mengatakan:
“Saat ini, kami sudah membuka layanan di rumah sakit sejak tanggal 9 Desember. Semakin hari memang jumlah kunjungan pasien makin meningkat.”
Menurutnya, penyakit yang paling umum dialami oleh masyarakat adalah gangguan pencernaan, saluran pernapasan, serta penyakit kronik yang semakin berat.
Meski operasional rumah sakit belum pulih sepenuhnya, RSUD Muda Sedia telah membuka beberapa layanan seperti operasi dan rawat inap. Andika menambahkan:
“Pelayanan kami yang sudah berjalan, selain pelayanan gawat darurat, juga pelayanan rawat inap. Yang awalnya rawat inap ini kami tempatkan di ruang IGD, alhamdulillah sekarang sudah kami pindahkan ke ruang rawat inap semula. Kami sudah membuka dua ruangan.”
Selain itu, pelayanan rawat jalan juga sudah dikembalikan ke poliklinik rawat jalan, dan layanan cuci darah juga telah berjalan.
Andika menyebutkan bahwa saat ini sekitar 90 persen ruangan RSUD Muda Sedia sudah dibersihkan pasca-bencana. Namun, masih ada kendala dalam hal pemenuhan alat-alat medis yang rusak.
“Kami masih menunggu bantuan alat-alat yang rusak untuk bisa melengkapi sarana-sarana untuk pelayanan di ruangan-ruangan tersebut,” ujarnya.
Beberapa fasilitas di RSUD Muda Sedia Aceh Tamiang belum dapat beroperasi secara optimal, antara lain ICU (intensive care unit), radiologi, unit pengelolaan darah, laundry, dan dapur gizi. Fasilitas-fasilitas ini sementara dialihkan ke lokasi lain.
“Kemudian, yang penting juga adalah pembersihan saluran-saluran drainase, yang mana itu juga menjadi bagian penting dari penunjang pelayanan,” tambahnya.
Untuk aliran listrik di rumah sakit, kondisinya sudah stabil. Meski demikian, sesekali masih terjadi mati listrik. Namun, RSUD Muda Sedia memiliki genset yang cukup untuk digunakan ketika listrik padam.
Sementara itu, pasokan air bersih dari PDAM sudah mulai masuk, tetapi masih terdapat gangguan pada salurannya, sehingga air yang mengalir kecil.
“Mungkin karena banyak lumpur atau kotoran atau angin, jadi mau segera di-flush, dibersihkan salurannya semuanya supaya airnya bisa mengalir optimal. Saat ini, di depan itu mengalir tapi kecil, mungkin perlu optimalisasi,” ujar Andika.
Dalam kesempatan yang sama, Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan (Kapusdatin) Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Abdul Muhari memberikan tanggapan terkait permasalahan listrik dan air di Aceh Tamiang.
“Kalau untuk aliran listrik, ini masih terus berjalan menuju kondisi normal, perbaikan gardu-gardu utama tegangan tinggi di wilayah Aceh Timur ini sebenarnya sudah selesai dilakukan, tapi sinkronisasi alirannya, dari PLN masih terus menyempurnakan,” ujarnya.
Sementara untuk air bersih, Muhari mengatakan tantangan pemulihan air bersih di Aceh Tamiang besar karena tidak hanya pipa airnya yang terganggu, tetapi beberapa titik sumber air bersihnya juga terganggu akibat banjir dan longsor.
Oleh karena itu, pihaknya saat ini tengah mengusahakan alternatif dengan menggunakan sumur bor. Setidaknya hal itu dilakukan sampai jaringan PDAM 100 persen pulih.
“Untuk sumur bor ini kita sudah cukup intens melakukan pembangunan sumur bor, ini juga butuh waktu,” ujar Muhari.
“Tetapi, kita akan kejar di beberapa titik krusial, khususnya faskes (fasilitas kesehatan), fasdik (fasilitas pendidikan), fasum (fasilitas umum), fasos (fasilitas sosial), termasuk di hunian sementara itu akan menggunakan sumur bor untuk air bersih.”
Sambil menunggu sumur bor dibangun, Muhari menuturkan, pihaknya akan mengoptimalkan distribusi air bersih menggunakan tangki sebagai solusi jangka pendek untuk pemenuhan air bersih di daerah terdampak bencana.












