Penjelasan Psikolog tentang Ekspresi yang Berbeda dengan Emosi
Ada banyak situasi di mana ekspresi seseorang tidak sejalan dengan perasaan yang dialaminya. Misalnya, seseorang bisa tertawa saat sedang dalam keadaan sangat sedih atau menangis ketika merasa bahagia. Hal ini disebut sebagai Dimorphous Expression (Ekspresi Dimorfik) dan merupakan fenomena psikologis yang wajar.
Menurut psikolog Danti Wulan Manunggal, kondisi tersebut bukan sekadar ungkapan puitis, melainkan mekanisme pertahanan tubuh yang nyata. Ia menjelaskan bahwa ekspresi yang berlawanan dengan emosi bisa terjadi karena beberapa alasan, seperti kapasitas otak yang terbatas dalam memproses emosi intensif atau proses homeostasis untuk mencapai keseimbangan.
Mengapa Ekspresi Bisa Berbeda dengan Emosi?
Danti menyampaikan bahwa penelitian oleh psikolog Oriana Aragon dari Yale University menunjukkan bahwa orang yang mengalami ekspresi dimorfik cenderung mampu mengatur emosinya lebih cepat dan efektif. Ini menandakan bahwa sistem regulasi emosi bekerja baik untuk melindungi individu dari kewalahan.
Ketika seseorang mencapai puncak dari suatu perasaan, sistem saraf bisa mengalami overload atau kelebihan beban. Pada titik ini, otak memicu respons dari arah yang berlawanan agar tidak merusak sistem saraf. Contohnya, tertawa saat sedih atau menangis saat bahagia bisa membantu menurunkan level gairah fisik yang terlalu tinggi.
Mekanisme Pertahanan Tubuh: Gallows Humor
Salah satu contoh ekspresi yang berbeda dengan emosi adalah tertawa saat sedih. Danti menyebutnya sebagai Gallows Humor atau humor gelap. Ketika rasa sakit sudah melampaui logika, tertawa menjadi cara terakhir untuk mencegah jiwa individu “hancur” total. Ini memberikan jarak psikologis antara diri Anda dan rasa sakit tersebut.
Sementara itu, air mata kebahagiaan pada puncak kesenangan juga memiliki makna. Menangis dalam kondisi ini membantu tubuh melepaskan energi positif yang terlalu meluap-luap, sehingga bisa menikmati kebahagiaan tanpa merasa kewalahan.
Kapan Kondisi Ini Menjadi Gangguan Mental?
Meskipun wajar sebagai respons sesaat terhadap puncak emosi, ekspresi terbalik bisa menjadi indikasi gangguan mental jika menunjukkan tanda-tanda berikut:
-
Incongruence (ketidaksesuaian yang kronis):
Seseorang tertawa saat mendengar berita duka bukan karena terkejut, tetapi karena tidak bisa merasakan empati atau kesedihan. Kondisi ini sering terkait dengan gangguan kepribadian atau disosiasi. -
Pseudobulbar affect (PBA):
Kondisi neurologis di mana seseorang tertawa atau menangis tiba-tiba tanpa kendali dan tidak sesuai dengan apa yang dirasakannya. Biasanya disebabkan oleh cedera saraf atau otak. -
Represi ekstrem:
Jika diam saat marah bukan karena regulasi diri, melainkan disebabkan oleh rasa takut yang melumpuhkan atau trauma masa lalu, ini bisa memicu gangguan kecemasan atau depresi di masa depan. -
Durasi:
Jika setelah puncak emosi berlalu, seseorang tetap tidak bisa kembali ke ekspresi yang normal atau terjebak dalam disosiasi (merasa asing dengan perasaan sendiri), ini bisa menjadi tanda gangguan mental.
Kesimpulan
Memahami bahwa emosi tidak selalu berjalan lurus dengan ekspresi membantu kita untuk lebih berempati pada diri sendiri dan orang lain. Meskipun wajar sebagai respons alami, kondisi ini bisa menjadi indikasi gangguan jika terjadi secara kronis atau disertai gejala yang memperlihatkan ketidakseimbangan psikologis.












