Perilaku penyebaran foto jenazah selebgram Lula Lahfah di media sosial memicu reaksi masyarakat karena dinilai tidak etis dan berpotensi menimbulkan dampak negatif. Namun, dari sudut pandang psikologis, tindakan ini tidak selalu bermotif jahat, melainkan bisa disebabkan oleh respons alami manusia terhadap peristiwa yang mengejutkan.
Kasus ini menjadi sorotan setelah Lula Lahfah ditemukan meninggal di apartemennya di kawasan Dharmawangsa, Jakarta Selatan, pada Jumat (23/1/2026). Sebelum ada konfirmasi resmi dari keluarga, sejumlah foto dan tangkapan layar sensitif mulai beredar secara luas di media sosial. Fenomena ini kemudian menggerakkan warganet untuk menyampaikan pesan-pesan seperti “Death is Not Content” sebagai pengingat bahwa kematian bukanlah sesuatu yang bisa dikonsumsi sebagai konten digital, melainkan peristiwa yang harus dihormati.
Bukan Sekadar Cari Sensasi
Psikiater dr. Lahargo Kembaren, SpKJ, dari Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PP-PDSKJI), menjelaskan bahwa motif penyebaran foto jenazah tidak selalu bersifat mencari ketenaran. Meskipun itu bisa menjadi salah satu alasan, banyak orang bertindak impulsif saat menghadapi situasi ekstrem seperti kematian mendadak.
Menurutnya, emosi tinggi dapat memicu kecenderungan untuk segera berbagi informasi kepada orang lain. Hal ini dikenal dengan istilah urgency bias, yaitu dorongan kuat untuk menyampaikan informasi secepat mungkin. Dalam kondisi seperti ini, kontrol diri sering kali menurun, sehingga tindakan bisa terjadi tanpa pertimbangan etis.
Emosi Mengambil Alih Nalar
Lahargo menegaskan bahwa dalam situasi syok, emosi sering kali mengalahkan nalar. Orang-orang bisa bertindak tanpa niat menyakiti, tetapi akibatnya tetap merugikan. Hal ini bisa terjadi karena adanya kebutuhan akan validasi sosial atau rasa eksklusif, seperti ingin menjadi orang pertama yang membagikan informasi atau merasa memiliki akses khusus.
Desensitisasi Emosional di Ruang Digital
Paparan berulang terhadap konten kekerasan dan kematian juga berpotensi menyebabkan desensitisasi emosional. Dalam kondisi ini, empati terhadap penderitaan orang lain semakin berkurang, sehingga perasaan manusiawi mulai kabur. Konten seperti ini bisa dianggap sebagai sekadar informasi yang bisa dikonsumsi, bukan sebagai bentuk penghormatan terhadap korban dan keluarganya.
Rasionalisasi Moral yang Menyesatkan
Beberapa orang membenarkan tindakannya dengan alasan edukasi atau penyampaian fakta, misalnya dengan dalih “agar jadi pelajaran”. Namun, Lahargo menegaskan bahwa edukasi tidak memerlukan visual jenazah. Ia menyebut pola ini sebagai moral disengagement, yaitu cara otak meredam rasa bersalah dengan pembenaran semu.
Dampak Nyata bagi Keluarga dan Publik
Penyebaran foto jenazah dapat menimbulkan dampak psikologis serius, terutama bagi keluarga korban dan individu yang rentan terhadap trauma. Foto semacam itu bisa memicu ingatan traumatis, memperberat proses berduka, dan meninggalkan luka psikologis jangka panjang.
Literasi Empati di Era Digital
Menurut Lahargo, masalah utama di ruang digital bukan hanya tentang niat, tetapi juga tanggung jawab atas dampak yang ditimbulkan. Ia menekankan bahwa empati di era digital perlu dilatih melalui literasi kesehatan jiwa dan kesadaran etika bermedia. Tidak semua yang membagikan ingin tenar, tetapi semua yang membagikan harus bertanggung jawab.
Di tengah derasnya arus informasi, Lahargo mengingatkan bahwa memilih untuk tidak menyebarkan konten sensitif adalah bentuk empati paling sederhana, sekaligus penghormatan bagi mereka yang telah meninggal dan keluarga yang ditinggalkan.












