Suasana Haru dan Tegang di Lapangan Futsal Indramayu
Di tengah suasana haru dan tegang, sebuah rekonstruksi kasus pembunuhan satu keluarga digelar di lapangan futsal berumput hijau di Indramayu, Jawa Barat, pada Rabu (12/11/2025) siang. Kejadian ini mengundang perhatian masyarakat setempat dan memicu rasa sedih serta kekecewaan.
Kasus yang menimpa Haji Sahroni, beserta anak, menantu, dan cucunya, sempat mengguncang warga Kelurahan Paoman. Polisi melakukan rekonstruksi untuk memperjelas kronologi kejadian dan memastikan tidak ada fakta yang terlewat dalam penyidikan. Total, 90 adegan dilakukan oleh dua tersangka berinisial P dan R, termasuk perencanaan, eksekusi, hingga proses penguburan lima korban dalam satu liang.
Rekonstruksi Dilakukan dengan Detail
Kasat Reskrim Polres Indramayu, AKP Muchammad Arwin Bachar, menjelaskan bahwa tujuan dari rekonstruksi adalah untuk mengetahui secara detail peristiwa pembunuhan tersebut. “Pada rekonstruksi ini telah diperagakan sebanyak 90 adegan oleh kedua tersangka, yakni P dan R,” ujarnya dalam keterangan resminya.
Dari seluruh rangkaian adegan, satu momen yang membuat banyak orang tak sanggup menahan napas adalah ketika bocah 7 tahun, Ratu Khairunnisa, sempat menangis sebelum dihabisi oleh pelaku. Dalam rekonstruksi, terungkap bahwa tersangka P sempat memberi susu untuk menenangkannya, sebelum kemudian membunuhnya di kamar mandi.
Polisi memastikan bahwa kedua tersangka akan dijerat dengan Pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana, dengan ancaman hukuman mati atau penjara seumur hidup. “Kami pastikan seluruh proses penyidikan dilakukan secara profesional dan transparan agar kasus ini segera disidangkan,” jelas dia.
Lima Orang Dikubur di Bawah Pohon Nangka
Dalam kasus ini, lima korban yang ditemukan terkubur secara berjajar di belakang rumah merupakan satu keluarga, yaitu Sachroni (76), Budi Awaludin (40), Euis Juwita Sari (37), Ratu Khairunnisa (7) dan Bela (10 bulan). Mereka dikubur di bawah pohon nangka. Salah satu kaki korban ternyata menyembul sehingga penolong dapat segera mengenali para korban.
Polisi juga menghadirkan pihak Kejaksaan Negeri Indramayu dalam rekonstruksi tersebut untuk menyamakan persepsi dan memastikan sinkronisasi berkas perkara. “Untuk fakta, sejauh ini masih sama seperti hasil pemeriksaan sebelumnya. Belum ditemukan fakta baru,” katanya.
Rekonstruksi sebagai Rangkaian Pengungkapan Kasus
Rekonstruksi yang dilakukan kali ini menjadi rangkaian lanjutan dari pengungkapan misteri kelam pembunuhan keluarga Sahroni yang sempat mengguncang masyarakat Indramayu pada awal September lalu. Sebelumnya, warga Kelurahan Paoman, Indramayu, sempat digemparkan oleh penemuan lima jenazah dalam satu liang di halaman rumah Haji Sahroni pada Senin (1/9/2025) malam.
Bau busuk menyengat menjadi awal terungkapnya tragedi berdarah itu. Polisi kemudian menangkap dua pelaku, P dan R, di wilayah Kedokan Bunder pada Senin (8/9/2025) dini hari. Keduanya diketahui memiliki hubungan dekat dengan korban. Motif pembunuhan diduga dilatarbelakangi rasa sakit hati akibat konflik sewa mobil antara pelaku dan korban.

Tragedi ini juga menarik perhatian publik setelah Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengucapkan apresiasi kepada pihak kepolisian melalui media sosial atas keberhasilan pengungkapan kasus. “Saya ucapkan terima kasih kepada jajaran kepolisian atas pengungkapan pembunuhan keluarga Sahroni. Semoga pelaku mendapat hukuman setimpal,” tulisnya.
Kelima korban kemudian dimakamkan di TPU Nyairesik, Desa Sindang, pada Rabu (3/9/2025). Tangis keluarga pecah saat peti-peti jenazah diturunkan ke liang lahat. “Ini keluarga baik dan kini kami kehilangan satu keluarga sekaligus. Kami hanya ingin keadilan,” tutur Agus Suhendi (51), kerabat korban.
Kini, dengan rekonstruksi yang telah digelar, harapan keluarga korban dan masyarakat Indramayu agar kasus ini segera tuntas kian besar. Polisi berjanji akan menuntaskan berkas perkara secepatnya agar keadilan bisa segera ditegakkan.












