Opini  

Kompasiana: Dari P.K Ojong ke Heru Margianto



Ada satu tulisan yang muncul di layar gue bulan lalu, tepatnya tanggal 22 Oktober 2025. Isinya tentang sejarah, dari meja redaksi di tahun 2008 sampai janji renovasi di Kompasianival 2025.

Gue bacanya perlahan, sambil minum kopi dan berpikir:

“Loh, kok dia tahu banget soal sejarah, ya?”

Tulisan itu dimulai dengan nostalgia:

nama “” diputuskan dalam rapat redaksi, diusulkan oleh wartawan senior, dan diambil dari rubrik sakral milik Pak Ojong.

Gue suka bagian itu. Rasanya seperti mendengar cerita bapak-bapak tentang nama anaknya yang penuh makna. Tapi di balik kekudusan nama, ada kenyataan:

rumah ini awalnya sepi.

Dibuat Untuk Wartawan, Tapi Wartawannya Sibuk

Platform ini katanya dibuat untuk wartawan Harian Kompas dan Kompas.com. Tujuannya adalah untuk menulis isi kepala yang tidak muat di ruang redaksi. Tapi wartawannya sibuk. Sangat sibuk. Akhirnya rumah ini kosong. Sepi. Hening.

Dan seperti semua rumah yang kosong, ia akhirnya dihuni oleh mereka yang tak diundang:

pensiunan jenderal, ibu rumah tangga, mahasiswa kosan, diaspora yang nulis sambil mencuci piring.

Kita semua masuk, duduk, dan mulai bercerita. Tanpa undangan. Tanpa protokol.

Blessing in Disguise atau Kebetulan yang Malu-Malu?

Ada satu kalimat yang membuat gue terdiam:

“Ketidakaktifan wartawan mengisi platform blog ini adalah sebuah blessing in disguise.”

Gue diam. Bukan karena setuju, tapi karena kalimat itu jujur. Tapi juga ngambang. Seperti bilang:

“Untung kita gagal, jadi bisa sukses.”

Tapi siapa yang gagal? Siapa yang sukses? Dan siapa yang sekarang disuruh menjaga rumah?

Kalimat itu seperti mengelus kepala sambil menyubit. Manis, tapi perih. Karena di balik “berkah terselubung” itu, ada kenyataan:

rumah ini hidup karena yang punya rumah tidak sempat mengisi.

Dan kita, yang awalnya hanya tamu, sekarang disuruh menjadi penjaga, pengisi, bahkan tukang bersih-bersih.

Komentar Panjang, Narasi Baru

Gue juga suka bagian tentang komentar yang panjangnya mengalahkan artikel. Tapi itu juga sindiran halus:

publik bukan cuma pembaca, tapi penulis terselubung.

Bahkan kadang lebih jujur, lebih kritis, dan lebih konsisten dari redaksi.

Kang Pepih yang awalnya jadi “mimin tunggal” akhirnya harus mengurus komentar, mengangkat tulisan, dan menyambungkan obrolan. Ini bukan platform blogging biasa. Ini ruang interaktif yang lahir dari kekacauan yang produktif.

Dan lo yang baca ini, mungkin juga pernah menulis. Atau sedang memikirkan untuk menulis. Atau hanya menyimak sambil mengangguk pelan. Tapi lo bagian dari rumah ini. Lo bagian dari api. Menyala ngab.

Spirit Pak Ojong yang Di-Remix

Pak Ojong disebut sebagai inspirasi. Rubrik dulu katanya tajam, reflektif, dan pendek-pendek. Tapi sekarang, tulisan di bisa panjang, absurd, spiritual, bahkan kadang typo.

Tapi justru di situ letak keindahannya. Karena semangat Pak Ojong bukan soal gaya, tapi soal keberpihakan. Dan keberpihakan itu sekarang dipegang oleh publik. Oleh lo. Oleh kita. Yang menulis bukan untuk AU, tapi untuk waras.

Tulisan-tulisan absurd, spiritual, dan nyentil itu bukan gangguan. Mereka adalah ritual. Bentuk bertahan. Bentuk doa. Bentuk pengakuan bahwa kita pernah ada.

COO yang “Bukan Kompasianer Aktif” Tapi Mau Gabung Lagi

Ini bagian paling goyang. COO-nya bilang dia bukan Kompasianer aktif, tapi sekarang mau gabung. Rasanya seperti mantan yang dulu ghosting, sekarang bilang “aku kangen.”

Gue sih tidak menolak. Tapi juga ingin bilang:

“Selamat datang kembali. Mas Mbonk. Tapi jangan cuma mampir. Duduk, baca tulisan absurd kita, dan jangan lupa bales komentar.”

Karena rumah ini bukan soal siapa yang punya kunci. Tapi siapa yang menyapu tiap hari. Siapa yang menyalakan lilin waktu listrik mati. Siapa yang menulis walau tahu tidak akan AU.

Janji Renovasi dan Spill di Kompasianival

Ada janji soal kejutan di Kompasianival. Rumah baru. Spill baru. Tapi kita tahu:

renovasi bukan soal tampilan.

Tapi soal sistemik. Soal algoritma yang tidak menghilangkan artikel absurd. Soal ruang yang tetap bisa menampung keresahan, kritikal, dan punchline setengah matang.

Jika rumah ini mau direnovasi, semoga bukan hanya ganti wallpaper. Tapi juga ganti cara mendengar. Bukan hanya membaca, tapi menyimak. Bukan hanya menyimak, tapi merespons.

Karena rumah ini bukan hanya platform. Doi it’s ritual kolektif. Tempat kita menyimpan luka, tawa, dan harapan. Sekali lagi, tempat kita menulis bukan untuk AU, tapi untuk bertahan.

Rumah Ini Tidak Butuh Kunci, Cukup Cerita

Gue tidak tahu lo baca tulisan itu sambil minum kopi, rebahan, atau sambil menahan emosi karena artikel lo pernah hilang. Tapi satu hal yang gue yakin:

lo pernah merasa menjadi bagian dari rumah ini.

Entah sebagai penulis, pembaca, komentator, atau hanya sekadar melihat dari kejauhan.

Dan rumah ini, , tidak pernah meminta kita membawa kunci. Cukup bawa cerita. Cerita yang nyata, mengalir, kadang absurd, kadang juga fiktif. Cerita yang tidak selalu perlu, tapi selalu jujur.

Jadi jika nanti rumah ini direnovasi, diganti wallpaper, atau di-spill kejutan di Kompasianival, gue harap satu hal tidak berubah. Ruang untuk kita yang menulis bukan untuk AU, tapi untuk bertahan. Buat waras. Buat bilang ke dunia:

“Gue ada. Gue punya cerita. Dan lo harus dengarkan.”

Karena kata-kata baik, katanya, tidak pernah tua. Tapi gue percaya:

kata-kata jujur juga tidak pernah mati.

Eka Syaputra

Penulis berita yang fokus pada isu politik ringan dan peristiwa harian. Ia menikmati waktu luang dengan menggambar, membaca artikel opini, dan mendengarkan musik indie. Menurutnya, tulisan yang baik adalah hasil dari pikiran tenang. Motto: "Objektivitas adalah harga mati."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× How can I help you?