Opini  

Opini: Magang di Jepang

Kesempatan Baru untuk Tenaga Kesehatan Indonesia di Panggung Global

Dalam era yang semakin terhubung, sebuah bangsa diuji oleh peluang-peluang internasional. Apakah ia siap melangkah masuk atau hanya berdiri terpukau melihat peluang lewat begitu saja. Penandatanganan MoU antara Universitas Muhammadiyah Semarang (UNIMUS) dan Suenoba Cooperative Association dari Prefektur Fukuoka, Jepang, adalah salah satu momen penting yang tidak boleh dilewatkan.

Ini bukan sekadar seremoni bertukar dokumen, melainkan wujud perjalanan panjang perguruan tinggi Indonesia untuk mengangkat derajat profesi perawat di panggung global. Di ruang pertemuan FIKKES UNIMUS Semarang yang sederhana namun penuh harapan, saya melihat sesuatu yang lebih besar daripada kata internasionalisasi.

Ada wajah-wajah muda yang menunggu wawancara, tangan mereka bergetar tapi mata mereka berbinar. Mereka bukan hanya menunggu kesempatan ke Jepang, tetapi menunggu validasi bahwa mimpi anak bangsa juga berhak terbang jauh. Dan bagi saya, inilah inti dari seluruh cerita.

Internasionalisasi Pendidikan Kesehatan Bukan Lagi Pilihan, Tetapi Keharusan

Wakil Rektor 4 UNIMUS Semarang, Muhammad Yusuf, dengan tepat menyebut kerja sama ini sebagai “langkah nyata” internasionalisasi kampus. Pernyataan itu bukan jargon. Jepang saat ini menghadapi super-aging society yang menuntut jutaan tenaga kesehatan tambahan dalam dua dekade ke depan.

Sementara Indonesia, ironisnya, memiliki surplus lulusan keperawatan yang sering kali terhambat kualitas, bahasa, dan kurangnya eksposur standar global. MoU UNIMUS dan Suenoba Jepang adalah jawaban dari dua kebutuhan besar ini dari dua negara yang sama-sama mencari jalan keluar yang saling melengkapi.

Namun lebih dari itu, ia menjawab kegelisahan lama: Kapankah institusi pendidikan kesehatan Indonesia benar-benar menyelaraskan diri dengan standar dunia?

Keberanian Institusi: Dari Teori Global ke Praktik Global

Selama ini banyak perguruan tinggi berbicara tentang “global mindset” sebagai slogan, bukan implementasi. UNIMUS Semarang memilih jalur berbeda. Lima jenjang Pendidikan D3, S1, Profesi Ners, S2, hingga Spesialis KMB dibangun bukan hanya demi akreditasi, melainkan untuk menciptakan ekosistem keilmuan yang sanggup berdiri setara dengan lembaga internasional.

Ketika Kaprodi S1 Ilmu Keperawatan Machmudah menyebut bahwa banyak lulusan UNIMUS telah bekerja di luar negeri, saya melihat itu bukan sebagai klaim, tetapi sebagai indikator bahwa institusi ini punya tradisi melahirkan perawat yang siap bertarung secara global.

Lalu hadir Kaprodi Profesi Ners, Mariyam, yang menegaskan bahwa tahap wawancara oleh Suenoba adalah gerbang awal menuju standar layanan kesehatan Jepang—salah satu yang terbaik di dunia. Ini pengakuan bahwa mahasiswa tidak diperlakukan sebagai penonton, tetapi sebagai calon aktor utama dalam sistem kesehatan internasional.

Perawat Indonesia: Di Mana Martabat Itu Ditempatkan?

Opini ini tidak lengkap tanpa menyinggung kenyataan pahit: tenaga kesehatan Indonesia sering kali direduksi sebagai “pekerja murah” di luar negeri. Stigma itu bukan hanya tidak adil, itu salah besar. Perawat kita tangguh, adaptif, dan secara budaya memiliki empati tinggi, sesuatu yang sangat dihargai di Jepang.

Namun, selama ini mereka kurang mendapat dukungan institusional untuk menembus standar global. Program internship UNIMUS Semarang dan Suenoba Jepang memberikan sesuatu yang selama ini hilang: pengakuan internasional terhadap kompetensi anak bangsa sebelum mereka “dilempar” ke dunia kerja global. Dan itu adalah bentuk martabat yang sesungguhnya.

Tantangan Tidak Hilang, Tapi Kita Sudah Memulai

Kita tetap harus jujur: internship ke Jepang bukan tiket emas. Ada tantangan besar bahasa, adaptasi budaya kerja, jam kerja panjang, hingga kedisiplinan super ketat. Tetapi justru di sinilah perguruan tinggi berperan memastikan mahasiswa tidak menghadapinya sendirian.

Kerja sama seperti ini harus menjadi role model bagi kampus kesehatan lainnya: internasionalisasi bukan hanya mengundang narasumber dari luar negeri, tetapi membangun ekosistem mobilitas yang terstruktur, aman, dan berkelanjutan.

Harapan untuk Generasi Perawat Indonesia

Ketika saya melihat para mahasiswa UNIMUS Semarang duduk menunggu giliran wawancara, saya sadar: inilah representasi masa depan tenaga kesehatan Indonesia. Tidak lagi berkutat pada narasi “tenaga kerja asing”, tetapi narasi “kompetensi global”.

Indonesia memiliki lebih dari cukup potensi untuk menjadi eksportir tenaga kesehatan profesional terbesar di Asia. Tapi itu hanya dapat terjadi bila perguruan tinggi berani memulai langkah-langkah konkret seperti yang dilakukan UNIMUS.

MoU ini mungkin terlihat seperti berita kampus biasa, tetapi sesungguhnya ia adalah fondasi masa depan: masa depan di mana perawat Indonesia bukan hanya bekerja di luar negeri, tetapi dihormati dan diakui sebagai bagian penting dari sistem kesehatan dunia.

Dan di hari penandatanganan itulah, saya melihat pintu yang selama ini tertutup kini mulai terbuka. Tidak dengan gegap gempita, melainkan dengan keyakinan pelan namun pasti: anak-anak muda Indonesia siap mengharumkan nama bangsanya di negeri Sakura dengan kepala tegak, kompetensi kuat, dan martabat global.

Fitri Rafifah

Seorang Jurnalis yang rutin meliput dunia kecantikan, lifestyle, dan keseharian. Ia suka mencoba skincare, menonton ulasan produk, dan memotret detail kecil. Hobinya membantu meningkatkan sensitivitasnya pada tren. Motto: “Kecantikan adalah cerita yang terus berubah.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× How can I help you?