Opini  

Jeritan hati generasi sandwich: Jika semua bersandar padaku, ke mana aku bisa bertumpu?

Fenomena Generasi Sandwich di Tengah Masyarakat Perkotaan

Fenomena generasi sandwich, di mana seseorang harus menanggung beban finansial dan emosional bagi orangtua sekaligus keluarga kecilnya, semakin nyata di tengah masyarakat perkotaan. Fenomena ini menuntut generasi produktif menghadapi tekanan berat sekaligus mengatur keuangan dan prioritas hidup dengan bijak.

Generasi sandwich adalah istilah yang menggambarkan posisi seseorang “terjepit” antara tanggung jawab merawat orangtua dan menafkahi keluarga sendiri. Kondisi ini menuntut individu menjalankan dual caregiving, yaitu bertanggung jawab terhadap keluarga prokreasi (anak dan pasangan) sekaligus keluarga orientasi (orangtua).

Jerit Hati Generasi Sandwich

Beban menjadi generasi sandwich dirasakan berat oleh banyak orang. Salah satunya Inta (28), warga Tanjung Priok, Jakarta Utara, yang harus menafkahi keluarganya sejak lulus kuliah pada 2019. Ia mengaku capek banget, kadang mikir, “jika semua bersandar pada ku, aku harus bersandar ke mana?” Namun, ia tak bisa memilih harus terlahir di keluarga yang seperti apa.

Inta tetap bersemangat bekerja untuk menghidupi orangtua yang sudah lanjut usia, sebagai bentuk balas budi atas pengorbanan mereka membiayai pendidikannya hingga menjadi sarjana. Ia tahu, keluarganya bukan merupakan orang yang berada. Kedua orangtuanya terpaksa harus berutang demi bisa menyekolahkannya menjadi sarjana.

Sama halnya Verel (27), yang menjadi generasi sandwich sejak 2021 ketika ayahnya berhenti bekerja dan ibunya sakit. Selain menanggung biaya hidup orangtua, ia juga membantu kakak yang merawat ibunya. Ia mengaku, tak jarang pula dirinya ingin menyerah dengan keadaan. Namun, niat itu ia urungkan berkali-kali karena memikirkan nasib kedua orangtuanya, jika ia berhenti berjuang.

Adapun kakak perempuan Verel yang bertugas merawat sang ibunda juga bercerai dengan suaminya, sehingga ikut menjadi tanggungan anak bontot tersebut. “Alhamdulillah sudah karyawan tetap, meski penghasilan belum besar, tapi niatkan untuk ibadah, sebagai bagian berbakti dan merawat orangtua,” ujar Verel.

Bantu Pendidikan Sang Adik

Sementara itu, Ruby Rachmadina (27) dari Bogor turut menanggung biaya pendidikan adiknya karena penghasilan orangtuanya dari usaha warung kecil tidak cukup. Ia juga memberikan jatah bulanan untuk orangtua dan siap membantu kakaknya jika ada kebutuhan mendesak. Ia mengaku, secara otomatis menjadi generasi sandwich ketika mulai bekerja sekitar 2020-an.

“Kayaknya mulai kerasa pas awal-awal mulai kerja. Begitu punya penghasilan tetap, otomatis ikut bantu kebutuhan keluarga dan berjalan terus sampai sekarang,” ujar dia. Ruby bercerita, orangtuanya masih berpenghasilan karena memiliki usaha warung kecil-kecilan di rumah. Namun, jika mengandalkan pendapatan dari situ saja, ia khawatir orangtuanya tak bisa membiayai kuliah adiknya.

Oleh sebab itu, ia berinisiatif untuk ikut mengambil peran membantu membiayai kuliah adik tercintanya. “Uang kuliah adik. Satu semester per enam bulan harus bayar kuliah rata-rata pembayaarannya Rp 11 juta,” jelas Ruby. Selain itu, ia juga memberi jatah bulanan untuk orangtuanya sekitar Rp 1 juta. Bahkan, Ruby juga tak segan memberikan bantuan finansial ke kakak perempuannya jika dalam kondisi mendesak.

Kelola Keuangan

Lantaran harus menanggung adik dan orangtuanya, Ruby harus berputar otak mengatur gaji yang diterimanya setiap bulan. Untuk mengatur keuangan, Ruby menggunakan sistem persentase yang fleksibel, menyesuaikan pengeluaran keluarga, kebutuhan pribadi, dan tabungan. Ia percaya bahwa rezeki akan selalu ada jika diniatkan untuk membantu keluarga.

“Ada bagian khusus buat keluarga, ada buat kebutuhan pribadi, ada juga sedikit tabungan. Kadang porsinya fleksibel, apalagi kalau tiba-tiba ada kebutuhan mendadak dari rumah,” ucap dia. Dengan demikian, ia pun tak bisa mematok berapa banyak uang yang harus disediakan untuk keluarga atau dirinya sendiri karena tergantung kondisi di setiap bulannya. Ruby percaya bahwa rezeki akan terus mengalir jika diniatkan untuk membantu keluarga di rumah.

Kondisi Sosial dan Strategi Finansial

Menurut Rista Zwestika, CFP, WMI, MPS, financial planner, generasi sandwich menghadapi kondisi sosial keuangan yang kompleks. “Seseorang harus menopang dua generasi orangtua dan anak atau keluarga sendiri secara bersamaan. Di satu sisi, ini bisa dilihat sebagai bentuk bakti, tanggungjawab, dan kasih sayang terhadap keluarga,” jelas Rista.

Namun, di sisi lain, beban ini berisiko menyebabkan stres, kehabisan tabungan, dan masa depan finansial pribadi terabaikan. Generasi sandwich bukan sekadar suka rela membantu keluarga, tetapi harus diatur bijak melalui perencanaan, prioritas, batasan, dan komunikasi.

Cara Mengatur Prioritas

Rista menyarankan beberapa langkah yang dapat dilakukan generasi sandwich untuk mengatur prioritas antara orangtua, adik atau kakak, anak, dan kebutuhan pribadi. Penting untuk melakukan komunikasi terbuka dengan seluruh anggota keluarga, terutama orangtua, pasangan, atau anak. Penjelasan jujur mengenai kondisi keuangan, pendapatan, dan batasan akan membuat semua anggota keluarga memahami kemampuan seseorang sebagai generasi sandwich serta keterbatasannya.

Selanjutnya, buatlah anggaran keluarga secara menyeluruh dengan mencatat semua pemasukan dan pengeluaran. Susun daftar kebutuhan pokok, seperti biaya makan, sekolah, kesehatan, tagihan, dan tanggungan terhadap orangtua maupun anak, serta sisihkan sebagian untuk tabungan, dana darurat, dan investasi.

Ketiga, tentukan skala prioritas berdasarkan urgensi dan jangka panjang. Misalnya, kebutuhan dasar orangtua—kesehatan, makan, pendidikan anak—lalu dana darurat dan proteksi, baru ke investasi atau keinginan pribadi. Seorang generasi sandwich juga dianjurkan untuk melibatkan anggota keluarga lain, seperti adik atau kakak, dalam membantu orangtua. Dengan berbagi tanggung jawab secara finansial, beban tidak harus ditanggung oleh satu orang saja.

Pembagian Keuangan

Di setiap gajian, generasi sandwich kerap bingung menentukan proporsi ideal untuk mengalokasikan pendapatan. “Tidak ada formula tunggal yang cocok untuk semua, karena sangat tergantung pendapatan, jumlah tanggungan, biaya hidup lokal, dan lainnya,” jelas Rista. Namun, berdasarkan literatur perencanaan keuangan dan panduan bagi generasi sandwich, terdapat beberapa acuan yang bisa dijadikan pedoman.

Generasi sandwich sebaiknya memiliki dana darurat setara 6–12 bulan biaya hidup dasar untuk mengantisipasi kejadian tak terduga, seperti kehilangan pekerjaan atau bangkrutnya usaha. Sekitar 40–60 persen dari pendapatan bersih setelah dipotong pajak dan kebutuhan pokok dapat dialokasikan untuk kebutuhan dasar, termasuk makan, biaya sekolah anak, dan tanggungan orangtua. Sementara 10–20 persen dapat disisihkan untuk investasi atau tabungan jangka panjang serta proteksi, seperti asuransi, dana pensiun, dan masa depan anak, meski sulit, langkah ini tetap perlu dijalankan.

Sekitar 5–10 persen pendapatan bisa diperuntukkan untuk kebutuhan pribadi, uang cadangan fleksibel, keinginan, hiburan, serta kesehatan mental dan sosial. “Boleh ada, tapi harus dalam batas wajar. Mungkin 5–10 persen cukup agar kamu tetap bisa punya ‘ruang bernapas’ tanpa mengorbankan prioritas. Banyak perencana keuangan menyarankan agar tetap ada porsi untuk kehidupan pribadi agar tidak jenuh atau stres,” jelas Rista.

Rafitman

Reporter digital yang mencintai dunia jurnalisme sejak bangku sekolah. Ia aktif mengikuti perkembangan media baru dan belajar teknik storytelling modern. Hobinya antara lain menyunting foto, menonton film thriller, dan berjalan malam. Motto: "Setiap cerita punya sudut pandang yang menunggu ditemukan."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× How can I help you?