Hiris: Solusi Krisis Ekologi Melalui Kebun

Krisis ekologi yang kita alami saat ini bukanlah sekadar peristiwa alamiah, melainkan hasil dari kesombongan manusia. Ketika keseimbangan kehidupan dihancurkan, kiamat bukan lagi nubuat Ilahi, tetapi konsekuensi dari tindakan kita sendiri. Vandana Shiva, seorang feminis India, telah memperingatkan hal ini jauh sebelumnya, dan kini buktinya terlihat dengan jelas.

Kerusakan ekologi atau kehancuran ruang hidup alam yang disebabkan oleh tindakan manusia dan jejaringnya kini menjadi tantangan global. Cuaca panas yang menyengat di pagi hari, diikuti hujan deras di sore hari, adalah indikasi adanya perubahan iklim yang luar biasa. Suhu bumi telah melebihi 1,5 derajat Celsius lebih panas dari rata-rata sebelumnya. Laporan terbaru menunjukkan bahwa suhu bumi naik di atas 2 derajat Celsius, melebihi panas akhir abad ini, yang berdampak pada peningkatan risiko dan perubahan iklim.

Kebakaran hutan tropis, cuaca ekstrem, dan banjir bandang yang menghancurkan pesisir dan daratan semakin menghantui makhluk bumi. Contohnya, banjir dahsyat pada 25-27 November 2025 menerjang provinsi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatra Barat, menjadi bukti nyata dari dampak buruk perubahan iklim.

Hilir Krisis Ekologi

Fenomena di atas adalah hilir dari tindakan manusia dan korporasi di hulunya. Di Indonesia, dampak krisis ekologi tidak merata. Masyarakat penghuni pulau kecil, perempuan miskin, penyandang disabilitas, dan kelompok terpinggirkan lainnya menanggung beban paling berat. Akses mereka terhadap sumber daya, layanan publik, dan ruang pengambilan keputusan terbatas, sehingga kapasitas untuk bertahan dan pulih lebih rendah dibanding kelompok lain.

Perempuan di Pulau Moratai, Maluku Utara, misalnya. Perubahan suhu laut dan cuaca ekstrem memicu serangan hama ke rumput laut, sumber penghidupan penduduk. Saat panen menurun, mereka harus mencari alternatif penghasilan seperti menjual ikan asin ke Daruba, kecamatan jauh dari desa, dengan transportasi mahal. Dampaknya, hilangnya pekerjaan harian dan kesulitan biaya sekolah anak.

Ibu Maria di Semarang kelelahan membersihkan rumah tergenang air rob, sedangkan Ibu Pasijah di Demak mengalami kerugian karena rumah leluhurnya terendam air laut. Jika ia pindah, akar hidupnya akan tercerabut. Dampak tidak langsungnya adalah peningkatan kasus kekerasan berbasis gender (KBG) seperti tingginya perkawinan anak dan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Setiap kenaikan 1 derajat Celsius, 40 juta manusia mengalami KBG secara global.

Hulu Kerusakan

Di hulu, perusahaan besar dan sebagian rakyat sekitar hutan melakukan penebangan dan pembakaran hutan yang berdampak pada peningkatan emisi karbon dan degradasi ekosistem bumi. Emisi karbon merupakan pelepasan gas karbon dioksida (CO2) dan gas rumah kaca lainnya yang dihasilkan dari pembakaran senyawa mengandung karbon. Emisi ini menjadi sumber pemanasan global dan kerusakan iklim.

Hutan tropis rimbun adalah salah satu cadangan karbon besar yang memiliki kemampuan alami menyerap CO2 dari atmosfer melalui proses fotosintesis. Namun, pemerintah Indonesia memperburuk situasi ini. Sejak 1970, melalui kebijakan tenurial yang mengatur kepemilikan tanah, terutama hutan dan non hutan dengan sertifikasi, hampir 70 persen lahan dimiliki negara yang memberikan konsesi ke perusahaan dan swasta melalui HPH (hak penguasaan hutan), yang berakibat meningkatkan emisi karbon luar biasa.

Kebun Hiris Mengkisahkan Cerita

Setelah memahami masalah ini, bagaimana kita dapat bertindak? Di hulu, individu dan keluarga dapat memanfaatkan lahan secara organik untuk kebutuhan pangan keluarga. Kebun Hiris, lokasi diskusi yang dikelola Dr Mia Siscawati dan suaminya, menjadi contoh inspiratif. Kebun ini dibangun dengan teknik pertanian alami sebagaimana leluhur petani pernah mempraktekkannya sebelum revolusi hijau.

Awalnya, lahan Kebun Hiris berupa tanah tandus, bekas pemakaian pupuk kimia dan pestisida. Tanah kering, pecah-pecah dengan komposisi sedikit pasir, tanpa nutrisi, cacing dan mikroba hilang. Akibatnya, tanaman layu. Bila dipaksakan menanam, tumbuhan akan kurus kering.

Kondisi ini mendorong Mia dan suami menyehatkan tanah dengan memasukkan vitamin dan protein dari luar. Mereka membuat eco enzim terbuat dari kulit nanas dan jeruk, serta tumbuh-tumbuhan dan limbah kecap. Kacang Porong, tanaman asli Indonesia, menjadi tanaman pertama yang ditanam. Selain langka, kacang ini bisa menjadi alat kedaulatan pangan.

Satu tahun berlalu, tanah Kebun Hiris mulai sehat. Ibu Mia menanam berbagai jenis tumbuhan lain, seperti pisang, sorgum, songgong, cabe rawit, bayam, timun, terong, dll. Pupuknya adalah kompos dan kotoran domba dari penduduk sekitar.

Di sudut lain, ada tiga kolam ikan tawar yang pakannya terdiri dari pelet 10% dan sisanya daun singkong, daun papaya, dll. Saat panen tiba, ikan-ikan itu memiliki bobot lebih besar dan rasa gurih dan sedikit manis dibanding ikan pemakan pellet saja.

Dengan perawatan sepenuhnya organik, ibu Mia dan suami melihat perubahan dalam jangka satu tahun dari perkiraannya tiga tahun. Nutrisi tanah mulai berwarna kecoklatan, bertanda sehat, sehingga dapat menghasilkan panen aneka sayuran dalam waktu tiga bulan. Lokasi ini sering dikunjungi saudara, teman, mahasiswa, dan masyarakat sambil memasak sayuran dari kebun Hiris yang organik dan alami untuk makan bersama. Pembaca tertarik, silahkan kunjungi kebun Hiris di Google.

Rafitman

Reporter digital yang mencintai dunia jurnalisme sejak bangku sekolah. Ia aktif mengikuti perkembangan media baru dan belajar teknik storytelling modern. Hobinya antara lain menyunting foto, menonton film thriller, dan berjalan malam. Motto: "Setiap cerita punya sudut pandang yang menunggu ditemukan."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× How can I help you?