Pengalaman Pribadi dengan ADHD dan Disleksia
Ada fase panjang dalam hidup saya ketika rasanya selalu melangkah ke arah yang salah. Saat banyak orang berjuang keras untuk memulai sesuatu, saya justru terus-menerus berjuang untuk bertahan. Proyek yang sudah berjalan, capaian yang sudah di depan mata, bahkan pujian yang datang tulus sering menjadi titik di mana saya ingin berhenti. Sebagai penyandang disleksia dan ADHD, saya tumbuh dengan keyakinan diam-diam bahwa ada yang rusak dalam diri saya. Saya mengira penerimaan diri berarti belajar menjadi “normal”: konsisten, rapi, fokus, dan tidak mudah bosan. Nyatanya, pemahaman itulah yang selama ini justru menyakiti saya.
Dalam banyak literatur psikologi, ADHD disebut sebagai gangguan fungsi eksekutif kesulitan mengelola fokus, emosi, waktu, dan dorongan. Russell Barkley, salah satu pakar ADHD paling berpengaruh, menegaskan bahwa ADHD bukan soal seseorang tidak tahu apa yang harus dilakukan, melainkan kesulitan mengeksekusi apa yang sudah ia ketahui secara konsisten. Sayangnya, pemahaman ilmiah ini jarang sampai ke ruang kelas, kantor, bahkan ruang keluarga. Di lapangan, anak-anak dan orang dewasa dengan ADHD lebih sering dicap malas, tidak disiplin, tidak komitmen, atau dianggap menyabotase diri sendiri. Label itu melekat kuat, seolah masalahnya adalah karakter, bukan cara kerja otak.
Saya mengalami label itu secara personal. Berkali-kali saya begitu tenggelam dalam satu ide, satu proyek, satu mimpi, sampai lupa makan, lupa tidur, lupa dunia. Fase ini sering disebut hyperfocus, kondisi khas ADHD di mana perhatian justru bisa sangat intens. Namun ketika rasa “penuh” itu tercapai, otak saya seolah berkata, selesai. Bukan karena saya tidak mampu melanjutkan, bukan karena takut sukses, apalagi malas. Banyak riset neurosains menjelaskan bahwa otak ADHD tidak kekurangan dopamin, tetapi mengelolanya secara berbeda. Distribusi dopamin yang tidak merata membuat ketertarikan bisa menyala sangat terang, lalu padam tiba-tiba. Dari luar, itu terlihat seperti inkonsistensi. Dari dalam, itu adalah kelelahan neurologis.
Fakta-fakta lapangan semakin menguatkan pemahaman saya. Dalam perjalanan Dyslexia Keliling Nusantara, saya bertemu banyak guru dan orang tua yang kebingungan menghadapi anak-anak yang tampak cerdas, kreatif, dan penuh ide, tetapi sulit bertahan dalam sistem sekolah. Di kelas inklusi, saya melihat anak ADHD yang bersinar saat diskusi bebas, eksplorasi proyek, atau kegiatan berbasis minat. Namun anak yang sama bisa runtuh ketika dihadapkan pada struktur kaku, tugas repetitif, dan tuntutan duduk diam berjam-jam. Ini bukan soal anak yang “tidak mau”, tetapi anak yang “tidak mampu” bertahan dalam sistem yang tidak ramah pada keragaman cara belajar.
Sayangnya, sistem pendidikan dan sosial kita masih terlalu sering memaksa semua otak bekerja dengan pola yang sama. Kurikulum, metode evaluasi, hingga standar keberhasilan disusun seolah semua manusia memiliki sistem saraf yang seragam. Ketika ada yang berbeda, yang disalahkan adalah individunya. Padahal, jika sistemnya sedikit lebih lentur memberi ruang pada variasi ritme, minat, dan cara berpikir, banyak anak ADHD justru menunjukkan potensi luar biasa dalam kreativitas, pemecahan masalah, dan empati.
Perjalanan berdamai dengan ADHD bagi saya bukan tentang memperbaiki diri agar sesuai standar mayoritas, melainkan berhenti memusuhi cara kerja otak saya sendiri. Saya belajar bahwa berpindah minat tidak selalu berarti gagal, dan berhenti tidak selalu berarti mundur. Ada fase hidup di mana berhenti justru bentuk mendengarkan tubuh dan pikiran. Seperti kisah burung-burung yang berkelana mencari rajanya, saya menyadari bahwa selama ini saya mencari “keutuhan” di luar diri: pengakuan, validasi, label sukses. Padahal yang saya cari sejak awal ada di dalam: penerimaan.
Hari ini, saya tidak lagi sibuk bertanya, “Apa yang salah dengan saya?” Pertanyaan itu terlalu lama membuat saya lelah dan marah pada diri sendiri. Saya menggantinya dengan pertanyaan yang lebih jujur dan manusiawi: “Bagaimana saya bisa hidup selaras dengan cara otak saya bekerja?” Pertanyaan itu mengubah cara saya bekerja, cara saya mendampingi anak-anak berkebutuhan khusus, dan cara saya memandang masa depan. ADHD dan disleksia bukan sesuatu yang harus disembuhkan, melainkan dipahami. Dari pemahaman itulah lahir strategi yang realistis, empati yang tulus, dan harapan yang tidak palsu.
Pada akhirnya, penerimaan diri yang sejati bukan tentang menjadi versi lain dari diri kita, tetapi keberanian untuk berdiri sebagai diri sendiri tanpa rasa bersalah. Keutuhan tidak lahir dari upaya memperbaiki sesuatu yang tidak rusak, melainkan dari keberanian berdamai dengan siapa diri kita sebenarnya utuh dengan segala keunikan dan keterbatasannya.
“Saya berhenti ingin diperbaiki sejak saya sadar, yang saya butuhkan bukan perubahan diri, tetapi penerimaan yang jujur terhadap cara otak saya bekerja.” Imam Setiawan
Penulis online yang antusias mendalami topik kesehatan dan gaya hidup. Ia rutin mengikuti webinar, membaca jurnal kesehatan, dan menulis catatan pribadi tentang pola hidup seimbang. Hobi lain yang ia tekuni adalah membuat smoothie dan meditasi. Motto: "Informasi adalah alat untuk hidup lebih baik."












