Opini  

Apakah Kita Masih Butuh Resolusi?

Mungkin bagi sebagian orang, membuat resolusi tahun baru menjadi kebiasaan yang selalu diulang. Namun, ada juga yang mulai mempertanyakan apakah perlu atau tidak. Apakah lebih baik menjalani sesuatu yang menurut kita baik tanpa harus terikat pada formalitas resolusi? Pada akhirnya, ketika dianggap serius, resolusi justru bisa menjadi beban dan membuat segala sesuatu tidak berjalan sesuai harapan.

Kegagalan sering kali berasal dari diri sendiri yang tidak setia dengan janji personal. Meskipun kita tahu bahwa hal itu baik dan jika dilakukan secara konsisten akan sangat positif. Anggap saja ini tulisan yang terlambat dibahas, tapi setidaknya bisa menguji apakah resolusi kita masih baik-baik saja setelah dua pekan.

Mulainya Mudah, Menjaganya yang Sulit

Di awal tahun baru, banyak dari kita hampir selalu mengulang ritual yang sama. Berkontemplasi, merenung sejenak tentang apa yang sudah dicapai dalam setahun belakangan, lalu mulai memikirkan rencana baru agar hidup menjadi lebih baik dalam bentuk resolusi. Kita ingin hidup lebih sehat, lebih produktif, hingga lebih kaya.

Jangan tanya soal daftarnya, karena biasanya panjang karena kita banyak maunya. Tapi rasanya nyaris seragam dari tahun ke tahun, cuma mirip laporan kantor yang diduplikasi, hanya tanggalnya yang berganti. Masalah yang paling ironis adalah resolusi itu sering kali tidak bertahan lama. Bahkan ada yang berakhir tragis dalam hitungan minggu, sebagian bahkan hanya bertahan beberapa hari.

Buat jadwal olahraga pagi, malah berakhir jadi ajang cari jajanan. Mau aktif membaca, malah jadi ajang belanja buku baru. Koleksi nambah, tapi waktu baca menyusut. Makanya tak heran jika muncul pertanyaan yang membuat kita jadi skeptis, masihkah kita membutuhkan resolusi?

Sebenarnya ini bukan lagi sekedar refleksi personal, melainkan pengalaman kolektif banyak orang. Meskipun harus diakui bahwa kegagalan menjaga konsistensi sebenarnya bukanlah hal yang memalukan, tetapi sayangnya selalu saja kesalahan itu berulang. Ternyata kebanyakan orang yang gagal, sebenarnya bukan tidak tahu apa yang perlu diperbaiki dalam hidup, tapi justru kesulitan menjaga komitmen saat menjadikan sesuatu jadi rutinitas, karena bisa jadi karena tekanan pekerjaan, kelelahan emosional, dan berbagai distraksi yang datang silih berganti.

Dari Target Besar ke Atomic Habit

Salah satu kekeliruan paling umum saat membuat resolusi adalah fokus pada target besar tanpa membangun sistem pendukungnya. Kita mau “lebih sehat”, tapi tidak menata pola tidur. Kita ingin “lebih produktif”, tetapi tidak mengelola distraksi. Kita ingin “lebih disiplin”, tetapi tidak menciptakan struktur hidup yang memungkinkan disiplin itu bisa kita lakukan.

Pendekatan yang lebih realistis adalah menggeser fokus dari hasil ke proses. Kata teman saya, bukan hanya apa yang ingin kita capai, tapi kebiasaan apa yang perlu dibangun. Mestinya hal itu harus sesuatu yang sederhana, nyata, bisa diulang setiap hari daripada target sulit yang mengandalkan motivasi sesaat.

Kita butuh solusi realistis biar resolusi itu bisa jalan. Daripada mikir “Saya akan olahraga setiap hari.” mungkin akan lebih baik diubah jadi “Saya akan bergerak 10–15 menit, tiga kali seminggu.”

Karena resolusi yang realistis itu sesuatu yang masih bisa dilakukan saat kita lelah. Jika resolusi yang kita buat cuma bisa dilakukan saat waktu ideal, hampir pasti ia akan gagal. Otak kita lebih mudah mengulang perilaku daripada mengejar hasil abstrak.

Evaluasi dan Perubahan

Jadi bukannya mikir; “Menurunkan 10 kilogram” atau “Menjadi sukses” atau “Lebih produktif” lebih baik lakukan tindakan “Berjalan kaki setelah makan malam, Menulis 300 kata setiap pagi atau Menutup media sosial pukul 21.00.” Sehingga perilaku kecil yang konkret jauh lebih kuat daripada tujuan besar yang samar.

Apalagi kalau kita sudah berniat, semuanya bisa jadi goyah begitu ada gangguan, yang bertahan itu cuma sistem. Makanya resolusi yang digerakkan itu wujudnya bisa, “menaruh buku di samping tempat tidur (bukan niat membaca), Menyiapkan pakaian olahraga sejak malam, Mengatur pengingat otomatis. Bagaimanapun jika resolusi terus bergantung pada “nanti kalau sempat”, hampir pasti ia kalah oleh rutinitas.

Dan sebagai orang yang bisa merusak resolusi kita sendiri, lebih baik gunakan Prinsip, konsistensi tidak berarti sempurna karena semua orang bisa berubah, maka aturan realistisnya: Boleh gagal satu hari, tapi jangan dua hari berturut-turut. Dengan cara ini, akan menjaga ritme tanpa menimbulkan rasa bersalah berlebihan.

Resolusi sebagai Identitas

Bagaimanapun akan lebih baik jika kita mengukur sesuatu dengan Proses, bukan hanya hasil, karena banyak resolusi terasa gagal padahal prosesnya berjalan. Misalnya; Berat badan belum turun, tetapi pola makan lebih teratur, Tabungan belum besar, tetapi kebiasaan mencatat keuangan terbentuk, Produktivitas belum optimal, tetapi distraksi berkurang. Akan lebih baik kita membiasakan mencata apa yang dilakukan, bukan hanya apa yang dicapai. Proses itu fondasi hasil yang penting.

Kata orang bijak, jangan menunggu resolusi runtuh baru mengevaluasi. Lebih baik buat jadwal evaluasi ringan: Mingguan: “Apa yang berjalan?” atau Bulanan: “Apa yang perlu disesuaikan?” Pada akhirnya evaluasi untuk menyelaraskan sesuai realitas hidup kita yang terus berubah.

Akhirnya

Bagaimanapun membangun resolusi butuh motivasi, tapi motivasi itu bisa datang dan pergi. Jadi mengandalkan motivasi saja berisiko tinggi untuk gagal, jadinya saran dari para pakar; Rutinitas dibuat sederhana, Lingkungan sebisanya mendukung dan Komitmen minimal yang bisa dilakukan tanpa motivasi.

Saya sementara ini mencoba menjadikan resolusi sebagai bagian dari identitas, jadi daripada memilih “Saya ingin rajin membaca.” tapi saya berpikir “Saya adalah orang yang membaca setiap hari.” Identitas membentuk perilaku, bukan sebaliknya dan dimulai dari tindakan kecil, yang konsisten agar identitas baru terbentuk secara alami.

Apakah resolusi masih diperlukan? Bagaimanapun resolusi layak diperjuangkan. Solusi realistis mewujudkan resolusi bukan terletak pada disiplin keras atau motivasi tanpa batas, tapi bentuk resolusi harus sesuai dengan kehidupan kita yang riel. Dengan pendekatan ini, resolusi tidak lagi jadi formalitas tahunan, tapi bisa jadi alat pembangun disiplin yang berproses agar nantinya bisa kita nikmati hasilnya seperti yang kita mau.

Dian Sasmita

Penulis yang memulai karier dari blog pribadi sebelum akhirnya bergabung dengan media online. Ia menyukai dunia tulis-menulis sejak sekolah. Hobinya adalah traveling, membaca novel klasik, dan membuat jurnal harian. Setiap perjalanan dan interaksi manusia selalu menjadi bahan inspirasinya. Motto: "Setiap sudut kota punya cerita yang patut dibagikan."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× How can I help you?