Puluhan Anak di Aceh Timur Dilarikan ke Rumah Sakit Usai Konsumsi Makanan Gratis
Puluhan siswa dan balita di Indra Makmu, Kabupaten Aceh Timur, dilarikan ke Puskesmas dan rumah sakit karena diduga mengalami keracunan setelah menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG). Gejala muntah hebat dan diare muncul secara bersamaan sejak siang hingga malam hari. Salah satu siswi bahkan harus dirawat intensif akibat dehidrasi berat.
Anak-anak yang terkena dampak kejadian ini berasal dari Gampong Bandar Baro dan Blang Nisam, Kecamatan Indra Makmu. Mereka mulai menunjukkan gejala serupa setelah mengonsumsi MBG pada Jumat (24/1/2026). Sejumlah warga melaporkan bahwa anak-anak mereka mengalami muntah-muntah hebat dan diare akut. Keadaan memburuk hingga banyak dari mereka harus dibawa ke fasilitas kesehatan.
Informasi yang diperoleh menyebutkan bahwa Penjabat (Pj) Keuchik Bandar Baro, Rasyidin, belum dapat memastikan apakah kejadian ini benar-benar disebabkan oleh keracunan makanan. Namun, fakta bahwa banyak warganya harus dilarikan ke rumah sakit setelah mengonsumsi MBG menjadi perhatian serius.
“Saya bukan ahli gizi dan tidak berani menuduh ini keracunan. Tapi kenyataannya, balita dan anak-anak di kampung saya harus dibawa ke rumah sakit setelah makan MBG. Mereka muntah-muntah dan diare,” ujar Rasyidin.
Hingga saat ini, sebanyak 19 anak dan balita di Gampong Bandar Baro harus mendapatkan perawatan medis, sementara sebagian lainnya telah diperbolehkan pulang. Pendataan identitas korban masih dilakukan oleh perangkat desa setempat.
Menu MBG yang dikonsumsi para korban terdiri dari semangka, mihun bakso, tahu, dan sayuran. Tak lama setelah waktu makan siang berlalu, gejala muntah-muntah mulai muncul dan menyerang para siswa SD, SMP, hingga balita di wilayah Indra Makmu. Warga yang panik segera membawa anak-anak tersebut ke Puskesmas terdekat.
Berdasarkan data sementara, sebanyak 16 warga yang terdiri dari pelajar dan balita menjalani perawatan di Puskesmas Alue Ie Mirah. Sementara satu pasien lainnya, Dila Tita Sari (15), warga Desa Bandar Baro, mengalami kondisi lebih serius hingga harus dirujuk ke RSUD Zubir Mahmud, Idi.
Direktur RSUD Zubir Mahmud, dr. Edi Gunawan, membenarkan adanya pasien yang dirawat akibat dugaan keracunan makanan tersebut. Menurutnya, saat ini pasien telah ditangani oleh tim medis sesuai prosedur.
“Iya benar, ada pasien yang dirawat akibat keracunan dan sekarang sedang ditangani pihak medis,” kata dr. Edi Gunawan.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Blang Nisam dan Bandar Baro terkait dugaan keracunan massal tersebut.
Dampak Keracunan yang Mengkhawatirkan
Dampak dugaan keracunan massal usai menyantap menu MBG di Kecamatan Indra Makmu kian mengkhawatirkan. Salah satu korban, Dila Tita Sari, siswi asal Indra Makmu, harus menjalani perawatan intensif setelah didiagnosa mengalami komplikasi medis serius akibat keracunan makanan.
Berdasarkan laporan medis terbaru, Dila didiagnosa menderita Vomitus (muntah hebat), Dehidrasi, dan Cefalgia (sakit kepala). Kondisinya yang sempat melemah membuat tim medis segera memindahkan pasien ke Ruang Perawatan Anak (RPA) RSUD Zubir Mahmud, Idi, guna mendapatkan penanganan spesialis.
“Iya benar, korban didiagnosa muntah-muntah hingga dehidrasi dan saat ini dirawat di Ruang Perawatan Anak (RPA),” ujar dr. Edi Gunawan, Sabtu (24/1/2026).
Tiga gejala yang dialami Dila menunjukkan bahwa tubuh pasien sedang berjuang melawan kontaminasi zat asing atau bakteri. Vomitus atau muntah hebat terjadi sebagai reaksi alami tubuh untuk mengeluarkan racun yang diduga berasal dari makanan yang dikonsumsi, seperti mihun bakso dan buah.
Akibat muntah dan diare yang berlangsung terus-menerus sejak Jumat (23/1/2026), cairan tubuh korban mengalami penurunan drastis. Kondisi ini sangat berisiko, terutama bagi pelajar dan balita, karena dapat menyebabkan lemas ekstrem hingga penurunan kesadaran. Selain itu, dehidrasi juga memicu gangguan keseimbangan elektrolit dalam tubuh yang menyebabkan nyeri kepala hebat, sehingga memperburuk kondisi fisik pasien.
Mengingat tingkat dehidrasi yang dialami masuk dalam kategori membutuhkan pengawasan ketat, Dila Tita Sari kemudian dipindahkan ke unit RPA untuk memastikan pasien mendapatkan asupan cairan melalui infus secara berkelanjutan serta pemantauan ketat terhadap detak jantung dan tekanan darah.
Warga setempat berharap adanya investigasi menyeluruh terhadap SPPG Blang Nisam dan Bandar Baro agar penyebab kejadian ini dapat diungkap secara transparan dan kejadian serupa tidak terulang di masa mendatang.












