Tantangan dalam Mengembangkan Obat Tradisional Menjadi Obat Modern
Sebagai salah satu perusahaan farmasi terkemuka di Indonesia, Dexa Medica telah melakukan berbagai upaya untuk mengembangkan obat tradisional menjadi produk yang memiliki dasar ilmiah dan dapat dipertanggungjawabkan. Salah satu tantangan utama dalam proses ini adalah menerjemahkan pengetahuan tradisional menjadi formulasi modern yang efektif dan aman.
Raymond Tjandrawinata, Direktur Bisnis dan Ilmu Pengetahuan Dexa Medica, menjelaskan bahwa para ilmuwan di perusahaan tersebut menghadapi banyak tantangan selama proses penelitian. “Dalam proses penelitiannya, para saintis mengalami banyak tantangan yang harus dipecahkan hingga Obat Modern Alami Integratif ini dirasakan manfaatnya oleh pasien,” ujarnya.
Pada dunia medis modern, khasiat ramuan tradisional sering kali berada di wilayah abu-abu—diakui secara empiris, tetapi belum sepenuhnya terbukti secara ilmiah. Namun, titik balik terjadi pada tahun 2005 ketika Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menerbitkan sertifikat fitofarmaka bagi produk herbal yang lolos uji klinis. Salah satu contohnya adalah Stimuno dari Dexa Medica, yang menandai lahirnya era Obat Modern Alami Integratif (OMAI).
Stimuno berasal dari tanaman meniran (Phyllanthus niruri L.), yang telah lama digunakan oleh masyarakat dan tercatat dalam berbagai naskah historis. Pengetahuan turun-temurun ini kemudian menjadi fondasi riset modern melalui Dexa Laboratories of Biomolecular Sciences (DLBS), di mana meniran diteliti secara biomolekuler, distandardisasi, dan diuji secara praklinik serta klinik. Dari proses inilah lahir Stimuno sebagai imunomodulator berbasis bahan alam dengan khasiat yang terukur dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
Di balik keberhasilan obat-obatan seperti Inlacin, Redacid, Herbakof, Disolf, dan Stimuno, terdapat perjalanan riset yang penuh tantangan. Tantangan tersebut tidak hanya terletak pada pemilihan bahan, tetapi juga pada upaya menerjemahkan kompleksitas alam menjadi terapi yang terstandar, aman, dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
Laurentius Haryanto, Group Research Innovation & Invention Manager DLBS, menjelaskan beragam tantangan yang dihadapi saat proses penelitian produk OMAI. Ia memberikan contoh tantangan utama pada Inlacin atau obat fitofarmaka antidiabetes, yaitu bagaimana meramu kayu manis dan bungur, dua bahan dengan karakter kimia berbeda agar dapat diekstraksi secara bersamaan dan menghasilkan efek sinergis sesuai khasiat yang dituju. Proses ini menuntut pendekatan ilmiah yang presisi agar potensi masing-masing bahan tidak saling meniadakan, melainkan saling memperkuat.
Sementara itu, pengembangan fitofarmaka Redacid yang berkhasiat sebagai obat untuk membantu meringankan gangguan lambung berfokus pada tantangan keamanan. Kayu manis diketahui mengandung coumarin, senyawa yang berpotensi toksik jika tidak dikendalikan. Tantangannya adalah menurunkan kadar coumarin hingga berada dalam batas aman, tanpa menghilangkan fraksi bioaktif yang berperan penting dalam memberikan khasiat terapeutik yang diharapkan.
Pada Herbakof, kompleksitas muncul dari upaya meramu empat bahan sekaligus yakni mahkota dewa, saga, legundi, dan jahe, yang masing-masing memiliki profil senyawa aktif dan karakteristik ekstraksi yang berbeda hingga menjadi produk yang dapat membantu meredakan batuk dan sakit tenggorokan. Tantangan ini menuntut formulasi yang cermat agar kombinasi bahan tersebut tetap stabil, konsisten, dan memberikan manfaat terapeutik yang optimal.
Adapun obat fitofarmaka yang dapat membantu melancarkan sirkulasi darah yakni Disolf, menghadapi tantangan yang tidak kalah unik, dimulai dari pencarian spesies cacing tanah untuk bahan baku yang paling sesuai untuk khasiat yang ditargetkan. Disolf dikembangkan dari fraksi bioaktif cacing tanah jenis Lumbricus rubellus. Tantangan berlanjut pada proses budidaya serta pengolahan bahan aktif yang sebagian besar berupa protein, sehingga diperlukan teknologi dan kontrol mutu yang ketat untuk menjaga stabilitas, keamanan, dan efektivitas produk hingga sampai ke pasien.
Raymond menambahkan bahwa tantangan tersebut berhasil dipecahkan bahkan terus mengalami perbaikan dan memberikan kontribusi lebih pada kesehatan pasien dan berkontribusi pada aspek ekonomi. OMAI terbukti secara klinis mampu menjadi substitusi obat kimia impor. Langkah ini sejalan dengan tantangan kemandirian obat nasional. “Hingga kini, sekitar 90 persen bahan baku obat di Indonesia masih bergantung pada impor, ironi bagi negara dengan biodiversitas melimpah,” kata Raymond.
Produk-produk OMAI pun telah menembus pasar global. Nigeria, Kamboja, Singapura, Filipina, Myanmar, Vietnam, Mongolia, hingga Timor Leste menjadi tujuan ekspor. ”Penerimaan mereka terhadap OMAI itu lebih tinggi daripada di Indonesia. Ini yang sangat disayangkan,” ungkap Raymond.
Di dalam negeri, tantangan OMAI bukan lagi soal sains semata, melainkan ekosistem kebijakan. Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Ari Fahrial Syam menilai pemanfaatan fitofarmaka di Indonesia masih belum optimal. ”Sekarang ini sudah ada beberapa produk fitofarmaka yang telah dihasilkan. Produk tersebut pun sudah dipasarkan di masyarakat. Akan tetapi, pemanfaatannya belum optimal. Hal ini terutama karena fitofarmaka belum masuk dalam formularium nasional sehingga tidak dijamin oleh Jaminan Kesehatan Nasional (JKN),” ungkapnya.
Dengan kata lain, masa depan OMAI sangat ditentukan oleh kolaborasi lintas sektor. Akademisi memastikan landasan ilmiah, industri menjamin kualitas dan kesinambungan riset, pemerintah membuka ruang kebijakan, masyarakat menjadi pengguna rasional, dan media menjalankan fungsi literasi publik.
Sejak akhir 2000-an, industri farmasi nasional telah membuktikan keseriusannya mengembangkan OMAI dari tanaman obat asli Indonesia. “Hasilnya jelas obat herbal yang diolah secara ilmiah mampu “head to head” dengan obat kimia,” kata Raymond.












