Semangat Seorang Bocah dengan Alat Pacu Jantung
Senyum Mikayla (8), bocah asal Desa Jeriji, Kecamatan Toboali, Kabupaten Bangka Selatan, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, selalu memberikan semangat kepada ibunya, Rati. Kini, bocah yang mengidap kelainan jantung sejak usia empat bulan itu bisa beraktivitas seperti anak-anak lain seumurannya.
“Dulu kondisi anak kami sangat lemah. Aktivitasnya sangat terbatas, bergerak sedikit saja sudah terlihat capek dan tidak kuat untuk jalan paling kuat 50 meter saja,” ujar Rati mengenang kondisi Mikayla sebelum menjalani operasi pemasangan alat pacu jantung atau pacemaker (PPM) yang kini menjadi penopang utama hidupnya.
“Dulu aktivitasnya paling banyak di rumah. Jarang sekali keluar. Jalan-jalan ke mana pun hampir enggak pernah, bahkan sekadar ke pantai juga enggak,” lanjut Rati kepada Bangkapos.com, Rabu (4/2).
Perubahan signifikan, kata Rati, mulai terlihat setelah Mikayla menjalani operasi pemasangan alat pacu jantung pada usia 6 tahun. Dengan alat pacu jantung tersebut, Mikayla kini dapat beraktivitas lebih baik dan mengikuti kegiatan sekolah. Meski demikian, kondisi kesehatan Mikayla tetap harus dipantau secara ketat oleh tim medis.
“Tetap harus kontrol dan dipantau terus. Dokter bilang kondisi jantungnya tidak boleh lepas dari pengawasan,” katanya.
Diberitakan sebelumnya, Mikayla harus menjalani rangkaian operasi berat akibat kelainan jantung bawaan sejak bayi. Kelainan jantung Mikayla terdeteksi saat ia berusia empat bulan. Saat itu, Mikayla mengalami muntah berulang hingga tubuh dan bibirnya membiru. Pemeriksaan lanjutan di RS Bakti Timah Pangkalpinang menunjukkan Mikayla menderita Tetralogy of Fallot (TOF), kelainan jantung bawaan berupa kebocoran jantung disertai penyempitan pembuluh darah ke paru-paru.
Karena keterbatasan layanan jantung anak di Bangka Belitung, Mikayla dirujuk ke Rumah Sakit Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita, Jakarta. Dokter menyatakan operasi jantung terbuka menjadi satu-satunya pilihan. Namun, Mikayla harus menunggu antrean nasional pasien jantung anak. Selama masa penantian, kondisi Mikayla tidak stabil. Pada usia sekitar lima tahun, ia sempat pingsan hampir dua jam.
Pemeriksaan CT scan di RSUP Mohammad Hoesin Palembang mengungkap adanya abses otak yang diduga berkaitan dengan kekurangan oksigen akibat kelainan jantung. Mikayla menjalani operasi pengangkatan abses dan pemulihan hampir dua bulan. Awal 2023, Mikayla akhirnya menjalani operasi jantung terbuka selama sembilan jam di Jakarta. Pascaoperasi, ia mengalami gangguan irama jantung (aritmia) sehingga dokter memutuskan memasang alat pacu jantung permanen tipe single chamber.
Seluruh rangkaian perawatan, mulai dari operasi jantung, operasi otak, hingga pemasangan PPM yang nilainya puluhan juta rupiah, ditanggung BPJS Kesehatan. “Kalau tanpa BPJS, kami tidak sanggup. Semua biaya ditanggung,” kata Hendi, ayah Mikayla.
Rutin Minum Obat
Serupa disampaikan Rati yang juga menyampaikan rasa terima kasih kepada pemerintah dan BPJS Kesehatan yang telah membantu pembiayaan pengobatan Mikayla. Ia mengakui, tanpa bantuan BPJS, keluarga akan sangat kesulitan menanggung biaya pengobatan yang nilainya mencapai ratusan juta rupiah.
“Kalau enggak ada BPJS, kami enggak tahu harus bagaimana. Biayanya sangat besar, ratusan juta. Kami sangat terbantu,” ucapnya.
Meski begitu, baik Hendi maupun Rati kini berjaga-jaga untuk mengantisipasi hal buruk yang masih mungkin menimpa Mikayla. Rati mengungkapkan, dokter telah menjelaskan bahwa ke depan masih terdapat kemungkinan tindakan lanjutan, khususnya apabila kondisi jantung Mikayla tidak memungkinkan, maka harus dilakukan pemasangan PPM jenis double. Jika tidak dilakukan, terdapat risiko abses seperti yang dialami Mikayla saat berusia 5 tahun kembali muncul.
“Kata dokter, kalau kondisi jantungnya tidak memungkinkan, harus dipasang PPM double. Kalau tidak, abses bisa muncul lagi,” kata Rati. Ia menegaskan, keluarga akan mengikuti seluruh saran medis demi keselamatan dan kesehatan anaknya.
“Apapun saran dokter, Insya Allah kami ikut. Yang penting anak kami sehat,” ujarnya.
Mulai Menabung
Hendi mengungkapkan jika tanpa dukungan BPJS Kesehatan, biaya pengobatan Mikayla ditaksir mencapai Rp400–500 juta. Taksiran itu membuatnya mulai menabung sebagai persiapan jika Mikayla membutuhkan penanganan medis lebih lanjut seperti yang telah disampaikan Rati, istrinya.
“Kalau yang single alhamdulillah ditanggung BPJS. Tapi kalau yang double, katanya tidak ditanggung,” ujarnya. “Kami juga kurang tahu alasannya. Apakah karena biayanya atau alasan lain, kami belum tahu, atau mungkin menunggu anak kami besar baru bisa di-cover BPJS,” katanya.
Saat ini, Hendi menyebut keluarga belum mengetahui berapa lama masa pakai alat pacu jantung tersebut dan apakah nantinya perlu diganti atau dilakukan tindakan lanjutan. “Kami juga belum tahu baterai ini bertahan berapa lama, apakah selamanya atau nanti diganti,” ujarnya.
Dengan kondisi tersebut, Hendi menyampaikan bahwa keluarga mulai mempersiapkan diri untuk kemungkinan tindakan medis lanjutan di masa depan. “Kami mulai menabung. Karena sudah tahu kisaran harganya, kalau ke depan memang disarankan dokter pasang yang double, kami harus siap,” katanya.
Ia menegaskan, segala upaya akan terus dilakukan demi keberlanjutan pengobatan anaknya sesuai rekomendasi medis. Hendi juga menyampaikan keterbatasan kondisi ekonomi keluarga. Ia menuturkan bahwa dirinya bekerja sebagai pegawai swasta sekaligus mengelola kebun sebagai petani. Dengan penghasilan tersebut, ia mengakui tidak mampu jika harus menanggung biaya medis bernilai ratusan juta rupiah secara langsung.
“Kalau untuk biaya sebesar itu, kami jelas tidak mampu. Saya pegawai swasta, sekaligus bertani. Tapi mau tidak mau harus tetap berusaha,” ujar Hendi. Hendi menegaskan bahwa upaya tersebut harus dilakukan demi keselamatan anaknya. Ia mengatakan, keluarga tidak memiliki pilihan lain selain berusaha semaksimal mungkin untuk memenuhi kebutuhan pengobatan yang dibutuhkan.
“Mau bagaimana lagi, kami akan berusaha sebaik mungkin. Kalau tidak begitu, nyawa anak kami bisa terancam,” ujar Hendi.












