Opini  

Opini: Hari Valentine dan Kehilangan Makna Cinta

Valentine’s Day: Antara Romantisme dan Kehilangan Makna

Valentine’s Day, atau yang dikenal sebagai hari kasih sayang, sering kali menjadi momen yang dinanti-nanti setiap bulan Februari. Di tengah dunia digital yang semakin berkembang, perayaan ini tidak hanya menjadi ajang untuk mengekspresikan cinta, tetapi juga menjadi bagian dari tren sosial media yang memengaruhi cara kita merayakan hubungan.

Perayaan yang Penuh Gaya, Tapi Apa Artinya?

Setiap tahun, banyak orang merayakan Valentine’s Day dengan berbagai cara. Mulai dari memberi bunga, hadiah mewah, hingga mengunggah foto romantis di akun media sosial. Tagar #ValentineDay sering muncul di berbagai platform, menunjukkan bahwa perayaan ini sangat populer. Namun, di balik kesan indahnya, muncul pertanyaan penting: apakah kita benar-benar merayakan cinta secara tulus, atau hanya ikut-ikutan arus?

Dalam era digitalisasi, relasi yang terjalin sering terasa seperti proyek pencitraan. Bahagia harus terlihat, romantis harus terdokumentasi, dan perhatian seolah-olah sah jika diposting ke ruang publik. Validasi datang cepat melalui jumlah like dan komentar, bukan lagi dari kesetiaan atau komitmen yang bertumbuh pelan-pelan.

Cinta yang Terluka dalam Kemeriahan

Perayaan yang meriah ini sering kali membuat makna cinta menjadi menipis. Cinta jadi terasa instan, reaktif, bahkan mudah diganti ketika tidak lagi memberi “sensasi yang sama.” Dalam konteks ini, yang penting adalah terlihat romantis, bukan sungguh-sungguh bertumbuh.

Di balik perayaan yang didominasi oleh kemeriahan dan keindahan, ada suatu diskontinuitas makna terdalam. Hari kasih sayang perlahan menjelma menjadi “ritus konsumsi,” di mana makna cinta ditakar dari harga hadiah, estetika unggahan, atau seberapa layak dipamerkan relasi itu di ruang digital.

Cinta dalam Bayang-Bayang Pasar dan Budaya Instan

Cinta yang kehilangan keutuhannya tidak muncul secara tiba-tiba. Ia tumbuh di zaman yang serba cepat, serba mudah, dan serba “harus perfeksionis dan efisien.” Kita hidup dalam budaya yang membuat cinta terasa seperti sebuah “hal transaksional.”

Ketika cinta hanya dilihat sebagai sesuatu yang bisa dibeli, maka ia akan mudah direduksi menjadi konsumsi emosional. Cinta dinikmati selama masih menyenangkan dan terlihat menarik, lalu ditinggalkan ketika “sensasinya memudar.”

Erich Fromm dan Seni Mencintai yang Terlupakan

Erich Fromm, seorang filsuf Jerman, dalam karyanya The Art of Loving, mengatakan bahwa cinta bukan sekadar perasaan spontan, melainkan sebuah seni. Setiap seni membutuhkan pemblajaran mekanistik tentang disiplin, konsentrasi, kesabaran, serta komitmen yang utuh.

Menurut Fromm, cinta sejati adalah tindakan memberi, bukan dalam arti kehilangan, tetapi dalam arti menegaskan eksistensi diri. Cinta adalah kekuatan yang memungkinkan dua pribadi tetap utuh, namun sekaligus bersatu. Cinta tidak menguasai, tidak mengonsumsi, apalagi memanfaatkan.

Kesimpulan: Mengembalikan Makna Cinta

Valentine’s Day sejatinya menjadi momentum untuk mengingat kembali dimensi cinta. Bukan sekadar merayakan perasaan, tetapi melatih diri dalam “seni mencintai,” tanggung jawab, respek, pengetahuan, dan kepedulian.

Tanpa itu, cinta akan terus retak. Bukan karena dunia yang kita pijaki ini kekurangan romantisme, tetapi karena manusia kehilangan kedewasaan dalam mencinta. Cinta yang terluka bukanlah akibat dari minimnya perayaan, melainkan dari dangkalnya pemahaman.

Jika Valentine’s Day hanya menjadi festival simbol semata, maka ia akan memperlebar retakan itu. Namun jika ia dijadikan instrumen untuk kembali pada makna terdalam kasih sebagai tindakan sadar, komitmen eksistensial, dan tanggung jawab moral, maka luka itu dapat dipulihkan.

Denis Arjuna

Seorang jurnalis digital yang terbiasa bekerja cepat dalam merangkum informasi penting menjadi berita yang mudah dipahami. Ia aktif menulis tentang gaya hidup, komunitas kreatif, dan isu keseharian. Hobi memasak dan mencoba resep baru membuatnya semakin peka pada detail. Motto: "Menulis adalah seni memahami manusia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× How can I help you?