Santri Ponpes Sholawat Darut Taubah Diduga Keracunan Usai Berbuka Puasa
Puluhan santri dari Pondok Pesantren (Ponpes) Sholawat Darut Taubah di Desa Betek, Kecamatan Mojoagung, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, diduga mengalami keracunan setelah berbuka puasa. Kejadian ini terjadi pada Kamis (5/3/2026) malam, yang menyebabkan sebagian besar santri harus mendapatkan perawatan medis.
Salah satu menu yang menjadi sorotan dalam kejadian ini adalah telur asin yang termasuk dalam paket Makan Bergizi Gratis (MBG). Telur asin tersebut berasal dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Betek dan diberikan sebagai bagian dari program bantuan gizi untuk para santri.
Pengalaman Santri Saat Mengonsumsi Makanan
Seorang santri asal Surabaya, Azizah Putri Salsabila (15 tahun), menceritakan pengalamannya saat berbuka puasa. Ia mengonsumsi nasi rawon dan dua butir telur asin yang merupakan bagian dari program MBG. Menurut Azizah, rasa nasi rawon yang ia makan normal dan tidak menunjukkan kejanggalan. Namun, telur asin yang ia konsumsi memiliki aroma dan rasa yang berbeda dari biasanya.
“Rawonnya normal saja, tidak ada yang aneh. Tapi telur asinnya baunya agak busuk dan rasanya juga berbeda,” ujar Azizah dalam keterangan yang diterima.
Meski sempat mencium bau tidak sedap, Azizah tetap menghabiskan telur asin tersebut. Tak lama setelah makan, ia mulai merasakan gejala seperti pusing dan mual. Kondisinya semakin memburuk dengan muntah berulang dan tubuh yang terasa sangat lemas. Akhirnya, pihak pesantren membawanya ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan medis.
Penjelasan Korwil BGN tentang Program MBG
Koordinator Wilayah Badan Gizi Nasional (BGN) Jombang, Deni Setiawan, memberikan penjelasan terkait kejadian ini. Menurutnya, paket MBG yang dikirim ke ponpes tidak hanya berisi telur asin, tetapi juga makanan tambahan lainnya seperti roti, pisang, apel, dan pir.
Deni menjelaskan bahwa telur asin diperbolehkan dalam program MBG karena tidak termasuk dalam kategori makanan olahan ultra atau Ultra-Processed Food (UPF). Selain itu, pengadaan telur asin juga melibatkan pelaku usaha mikro di sekitar wilayah tersebut.
“Telur asin masih diperbolehkan dalam program MBG karena bukan UPF dan juga bagian dari pemberdayaan UMKM lokal,” ujarnya.
Penjelasan Pengasuh Pondok
Salah satu pengasuh pondok, Mas Maulana Ulun atau Gus Ulun, menjelaskan bagaimana santri di ponpes bisa mengalami mual dan muntah massal. Ia menyatakan bahwa saat berbuka puasa, santri mengonsumsi nasi rawon dan telur asin dari SPPG.
Menurut Gus Ulun, keluhan pertama kali muncul dari santri putri yang merasakan mual dan muntah tidak lama setelah berbuka puasa. Sementara santri putra baru merasakan gejala serupa setelah menjalankan salat tarawih.
“Awalnya santri putri yang lebih dulu merasa mual dan muntah. Setelah itu, selesai tarawih baru santri putra mulai mengeluh,” jelasnya.
Melihat kondisi tersebut, pihak pondok segera mengambil langkah cepat dengan membawa para santri ke rumah sakit menggunakan tiga ambulans agar segera mendapatkan penanganan medis.
“Jadi setelah mual itu langsung kita bawa ke rumah sakit sini PKU Muhammadiyah, dibantu sama tiga ambulans. Alhamdulillah selamat semua,” kata Gus Ulun.
Ia juga menjelaskan bahwa paket MBG yang diterima ponpes saat itu merupakan distribusi yang digabung untuk kebutuhan tiga hari sekaligus. Dalam paket tersebut terdapat beberapa jenis makanan tambahan selain telur asin.
“Kebetulan ini dirapel tiga hari, untuk hari ini, besok, sama besoknya. Jadi ada banyak, ada dua roti, ada dua buah ada buah pisang, ada jeruk ada kacang dua bungkus,” jelasnya.
Meski secara kasat mata makanan yang diterima terlihat dalam kondisi baik, pihak pondok tetap akan melakukan evaluasi. Baik terhadap pengolahan makanan di dapur pondok maupun makanan yang berasal dari pihak penyedia.
“Kami tetap akan evaluasi, baik dari dapur pondok maupun dari SPPG, supaya ke depan lebih berhati-hati,” ungkapnya.
Gus Ulun menambahkan, menu rawon yang disajikan kepada santri pada saat kejadian dimasak pada hari yang sama sebelum waktu berbuka puasa.
“Rawonnya dimasak hari itu juga dan langsung disajikan,” tukasnya.
Situasi Terkini
Tercatat sebanyak 31 santri sempat dilarikan ke RSU PKU Muhammadiyah Mojoagung setelah mengalami mual, muntah, hingga ada yang sempat pingsan usai menyantap hidangan berbuka. Hingga kini, pihak kepolisian bersama Dinas Kesehatan Kabupaten Jombang masih melakukan penyelidikan untuk memastikan penyebab pasti kejadian tersebut.
Penulis yang aktif meliput dunia hiburan dan tren media sosial. Ia menghabiskan waktu senggang dengan mendengarkan musik pop, mengedit video ringan, dan menjelajahi akun kreator. Ia percaya bahwa hiburan adalah bagian dari dinamika masyarakat. Motto: “Kreativitas adalah energi kehidupan.”












