Fenomena “Mattembak-Tembak” di Makassar: Dari Nostalgia ke Kekerasan yang Tidak Terkendali
Fenomena “mattembak-tembak” yang kini marak terjadi di Makassar sebenarnya memiliki akar nostalgia yang panjang. Generasi milenial masih ingat dengan “plethokan”, senjata bambu dengan amunisi kertas basah yang bunyinya khas, atau tren senjata peluru plastik (BB Gun) di awal 2000-an. Namun, ada perbedaan fundamental antara dulu dan sekarang.
Dulu, permainan ini adalah aktivitas komunal yang dilakukan di lapangan atau lorong, dan berhenti saat magrib tiba. Hari ini, remaja menggunakan senjata replika “Omega” bukan sekadar untuk bermain, melainkan sebagai instrumen aktualisasi diri yang keliru di ruang publik. Dorongan untuk terlihat hebat, mendapatkan pujian, dan validasi instan melalui konten media sosial telah mengubah “permainan” menjadi “teater kekerasan” di jalan raya.
Remaja merasa bahwa mendominasi jalanan dengan senjata mainan adalah cara tercepat untuk mendapatkan identitas, meskipun itu membahayakan diri sendiri dan orang lain. Perilaku nekat ini secara akademis dapat dibedah melalui lensa Teori Desensitisasi Moral. Kondisi ini terjadi ketika kepekaan nurani meluruh akibat paparan kekerasan yang berulang.
Penelitian dari Craig A. Anderson dari Iowa State University dan Brad J. Bushman dari The Ohio State University dalam studi mereka yang dipublikasikan pada Journal of Experimental Social Psychology tahun 2007 membuktikan bahwa simulasi agresi yang dilakukan secara berulang dapat menumpulkan reaksi saraf manusia terhadap kekerasan nyata. Dalam bahasa yang lebih sederhana, desensitisasi adalah proses “mati rasa” emosional. Faktor utamanya adalah kebiasaan melakukan tindakan menyerang dalam koridor “permainan” tanpa merasakan konsekuensi sosial yang menjerakan, sehingga otak mulai mengklasifikasikan agresi sebagai hal yang normal dan tidak lagi memicu rasa bersalah.
Jenis desensitisasi ini membuat remaja kehilangan empati untuk merasakan penderitaan korban yang terluka atau warga yang ketakutan, karena fokus kognitif mereka telah terdistorsi sepenuhnya oleh sensasi “kemenangan” semu dalam simulasi perang jalanan tersebut.
Sebenarnya, keinginan remaja untuk memacu adrenalin dalam permainan taktis bukanlah hal yang sepenuhnya negatif jika diarahkan ke wadah yang tepat seperti komunitas Airsoft Gun. Berbeda dengan aksi jalanan yang liar, Airsoft adalah olahraga rekreasi yang sangat disiplin dengan protokol keamanan ketat, di mana pemain wajib menggunakan pelindung mata (goggle) dan dilakukan di arena yang terisolasi.
Hanya saja, memang Airsoft Gun ini masih kurang bisa dijangkau secara luas di Makassar. Fasilitas yang menyediakan arena khusus masih sangat jarang ditemukan, dan kalaupun ada, biaya peralatan serta sewa arenanya tergolong mahal bagi kantong pelajar. Kesenjangan akses inilah yang kemudian mendorong para remaja mencari alternatif “murah meriah” dengan senjata jeli di jalan raya.
Tanpa adanya arena yang terjangkau dan legal, energi agresi mereka tidak terwadahi secara disiplin, melainkan tumpah menjadi gangguan keamanan di ruang publik yang tidak terkontrol.
Langkah yang Perlu Dilakukan untuk Memutus Rantai Desensitisasi
Memutus rantai desensitisasi ini membutuhkan langkah sinkron dari berbagai lini. Pemerintah Daerah perlu bertindak tegas dalam meregulasi distribusi mainan replika serta mulai memikirkan penyediaan arena permainan taktis yang lebih terjangkau bagi anak muda agar mereka tidak lagi menggunakan jalan raya sebagai medan tempur.
Pihak kepolisian harus mengedepankan tindakan preventif melalui edukasi hukum untuk menyadarkan remaja bahwa status “mainan” tidak membebaskan mereka dari jerat pidana jika menyebabkan luka. Di lingkungan pendidikan, Guru BK berperan penting melakukan literasi emosi untuk mengasah kembali empati siswa, sementara orang tua harus menjadi pengawas partisipatif yang tidak membiarkan anak-anaknya keluar dengan senjata replika tanpa pengawasan.
Jika semua pihak bergerak, kita bisa memastikan bahwa masa remaja diisi dengan aktualisasi diri yang membanggakan, bukan dengan aksi yang berakhir dengan air mata atau tragedi di jalanan.
Seorang jurnalis digital yang terbiasa bekerja cepat dalam merangkum informasi penting menjadi berita yang mudah dipahami. Ia aktif menulis tentang gaya hidup, komunitas kreatif, dan isu keseharian. Hobi memasak dan mencoba resep baru membuatnya semakin peka pada detail. Motto: "Menulis adalah seni memahami manusia.












