Tradisi Makan Kurma Saat Berbuka Puasa dalam Perspektif Islam
Bulan Ramadan selalu identik dengan berbagai kebiasaan yang dilakukan oleh umat Muslim ketika menjalankan ibadah puasa. Salah satu tradisi yang sering dijumpai adalah mengonsumsi kurma saat waktu berbuka tiba. Tradisi ini telah berlangsung sejak lama dan masih dipraktikkan hingga sekarang karena dianggap sebagai bagian dari sunnah yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Tidak heran jika kurma hampir selalu hadir di meja makan ketika azan magrib berkumandang selama bulan puasa.
Di balik kebiasaan tersebut, terdapat beberapa hal yang menarik perhatian banyak orang dan memunculkan rasa penasaran di kalangan umat Muslim. Sebagian orang mungkin pernah mendengar anjuran untuk mengonsumsi kurma dalam jumlah tertentu yang tidak sembarangan. Lalu sebenarnya kenapa makan kurma dianjurkan ganjil dalam tradisi Islam? Berikut penjelasannya.
1. Rasulullah Menyukai Bilangan Ganjil
Salah satu alasan utama yang menjelaskan mengapa makan kurma dianjurkan ganjil berkaitan dengan kebiasaan Rasulullah SAW yang menyukai bilangan ganjil dalam berbagai ibadah maupun aktivitas sehari-hari. Dalam banyak riwayat hadits dijelaskan bahwa Nabi Muhammad SAW sering memilih bilangan ganjil ketika melakukan berbagai amalan, termasuk saat mengonsumsi kurma sebelum melaksanakan salat Idul Fitri maupun ketika berbuka puasa. Kebiasaan ini menjadi bagian dari sunnah yang kemudian diteladani oleh umat Islam hingga saat ini karena dianggap memiliki nilai spiritual yang penting dalam ajaran Islam.
Bilangan ganjil sering dikaitkan dengan kesempurnaan tauhid karena Allah SWT sendiri adalah Dzat Yang Maha Esa dan menyukai bilangan ganjil dalam berbagai bentuk ibadah yang dilakukan oleh manusia. Riwayat mengenai kebiasaan Rasulullah SAW makan kurma dengan jumlah ganjil juga disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik. Dalam hadits tersebut dijelaskan bahwa Nabi Muhammad SAW tidak berangkat melaksanakan salat Idul Fitri hingga beliau terlebih dahulu memakan beberapa butir kurma dengan jumlah ganjil. Kebiasaan tersebut menunjukkan bahwa bilangan ganjil memiliki nilai simbolik dalam praktik sunnah Nabi, sehingga mengikuti pola tersebut dianggap sebagai bentuk kecintaan dan ketaatan terhadap ajaran Rasulullah SAW.
2. Kurma Ganjil Diyakini Menangkal Racun
Alasan lain yang sering disebut dalam berbagai literatur Islam mengenai kenapa makan kurma dianjurkan ganjil berkaitan dengan manfaat kurma yang dipercaya mampu memberikan perlindungan dari racun maupun gangguan tertentu. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Sa’ad bin Abi Waqqash, Rasulullah SAW menjelaskan bahwa seseorang yang mengonsumsi tujuh butir kurma Ajwa pada pagi hari tidak akan terkena racun maupun sihir pada hari tersebut. Hadits tersebut sering dijadikan rujukan oleh para ulama untuk menjelaskan bahwa kurma bukan hanya sekadar makanan biasa, tetapi juga memiliki nilai kesehatan dan keberkahan yang tinggi.
Kurma Ajwa secara khusus sering disebut memiliki keutamaan karena berasal dari Madinah dan menjadi salah satu jenis kurma yang sangat dianjurkan dalam berbagai riwayat hadits. Selain itu, beberapa kajian modern juga menunjukkan bahwa kurma mengandung berbagai nutrisi penting seperti antioksidan, serat, dan mineral yang membantu tubuh mempertahankan daya tahan. Kandungan alami tersebut membuat kurma sering dikaitkan dengan manfaat kesehatan yang dapat membantu tubuh tetap kuat selama menjalankan ibadah puasa.

3. Kurma Menjadi Sunnah Sahur dan Berbuka
Selain berkaitan dengan jumlah ganjil, kurma juga memiliki posisi penting dalam tradisi sahur dan berbuka puasa yang diajarkan oleh Rasulullah SAW. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud, Nabi Muhammad SAW menyebutkan bahwa sebaik-baik makanan sahur bagi seorang mukmin adalah kurma. Hadits tersebut menunjukkan bahwa kurma tidak hanya dianjurkan ketika berbuka, tetapi juga sangat baik dikonsumsi saat sahur karena memberikan energi yang cukup bagi tubuh selama menjalankan puasa sepanjang hari.
Kandungan gula alami dalam kurma dapat diserap dengan cepat oleh tubuh sehingga membantu memulihkan energi setelah seharian menahan lapar dan dahaga. Keutamaan kurma juga disebutkan dalam Al-Qur’an, salah satunya pada kisah Maryam ketika Allah SWT memerintahkan untuk menggoyangkan pohon kurma agar buahnya jatuh dan dapat dimakan. Ayat tersebut sering dijadikan bukti bahwa kurma merupakan buah yang memiliki nilai keberkahan dan manfaat bagi manusia sejak zaman dahulu.

Kebiasaan mengonsumsi kurma dalam jumlah ganjil, terutama tujuh butir kurma Ajwa, tetap dipertahankan oleh banyak umat Muslim hingga saat ini. Pada akhirnya, kebiasaan tersebut menjadi salah satu amalan sederhana yang dapat dilakukan oleh siapa saja selama bulan Ramadan. Memahami alasan kenapa makan kurma dianjurkan ganjil juga membantu memperkuat makna sunnah yang telah diajarkan oleh Rasulullah SAW sejak berabad-abad lalu.
Rusmawan adalah seorang penulis berita online yang serbabisa dalam menguraikan berbagai peristiwa menjadi berita yang jelas dan ringan. Ia suka membaca opini, melakukan riset pendek, dan membuat rangkuman harian. Di waktu senggang, ia menikmati musik instrumental. Motto: “Informasi yang baik dimulai dari niat yang baik.”












