Pengalaman Dokter Arimbawa dalam Mengatasi Epilepsi Kebal Obat pada Anaknya
Dokter Made Arimbawa adalah salah satu tenaga medis yang memiliki pengalaman pribadi dalam menghadapi kondisi epilepsi kebal obat pada anaknya. Ketika diwawancarai dalam seminar awam bertajuk “Kenali Epilepsi Kebal Obat pada Anak & Remaja” yang diselenggarakan oleh SMC RS Telogorejo melalui Telogorejo Neuro Center di Kuta, Bali, Sabtu 11 April 2026, ia berbagi kisah perjalanan panjangnya dalam mencari solusi untuk putrinya.
Awal Mula Kejang dan Upaya Pengobatan
Anak dr. Arimbawa pertama kali mengalami kejang pada tahun 2008 ketika usianya sekitar 6,5 tahun. Saat itu, ia sedang duduk di TK besar. Setelah kejang tersebut, dr. Arimbawa dan keluarga melakukan berbagai pengobatan, tetapi kondisi anaknya tidak kunjung membaik. Ia mencoba beberapa jenis obat, mulai dari Topiramate hingga Zonisamide, yang diberikan secara rutin oleh dokter spesialis. Namun, meskipun telah menjalani pengobatan intensif, anaknya masih sering mengalami kejang.
Pencarian Solusi Medis
Pada awal 2016, dr. Arimbawa mendapatkan informasi bahwa Rumah Sakit Tlogorejo, Semarang, menawarkan tindakan bedah untuk epilepsi refrakter atau kebal obat. Ia langsung menghubungi rumah sakit tersebut dan berkomunikasi dengan Spesialis Bedah Saraf, Prof Zainal. Dari sana, dr. Arimbawa diminta untuk menyiapkan video saat anaknya mengalami kejang, data pendukung pemeriksaan, serta hasil laboratorium terbaru.
Setelah menerima informasi tersebut, anaknya kembali mengalami kejang. Dr. Arimbawa segera mencari rujukan dari Puskesmas ke Rumah Sakit Umum Mataram, lalu ke poli bedah saraf Rumah Sakit Tlogorejo. Akhirnya, pada tanggal 7 April 2026, anaknya diperiksa oleh Prof Zainal. Di rumah sakit tersebut, dilakukan pemeriksaan MRI dan EEG, serta beberapa pemeriksaan lainnya sebelum tindakan operasi dilakukan.
Operasi Pertama dan Hasilnya
Pada tanggal 10 April 2026, operasi pertama dilakukan di Rumah Sakit Tlogorejo. Operasi ini berlangsung dari siang hingga malam hari. Setelah operasi, Prof Zainal memberi informasi bahwa operasi berjalan lancar. Dari hasil pemeriksaan sebelum reseksi, ada dua titik aktif, namun setelah reseksi hanya tersisa satu titik di daerah temporal kiri. Hippocampus, yang merupakan pusat memori, tidak menunjukkan aktivitas dan dipertahankan.
Hasil LAPA (pemeriksaan patologi anatomi) menunjukkan adanya heterotopia yang dibawa sejak lahir. Setelah dirawat selama 11 hari, anak dr. Arimbawa dapat dipulangkan dengan rekomendasi dari Prof Zainal untuk melanjutkan pengobatan dan kontrol setiap 3 bulan.
Operasi Kedua dan Perubahan Signifikan
Beberapa minggu setelah operasi pertama, anak dr. Arimbawa kembali mengalami kejang. Ia kembali ke Rumah Sakit Tlogorejo untuk pemeriksaan EEG jangka panjang. Dari hasil observasi tim dokter, direncanakan operasi kedua pada tanggal 23 Juli 2016 di Rumah Sakit Karyadi, Semarang. Pada operasi kedua, Hippocampus sebelah kiri dan sebagian jaringan temporal diambil karena masih mengganggu.
Hasil pemeriksaan PA menunjukkan kerusakan pada Hippocampus dan bagian temporal. Setelah operasi kedua, kejang yang dialami anak dr. Arimbawa berkurang signifikan. Prof Zainal menyarankan untuk hanya menggunakan dua jenis obat dan menghindari pemicu seperti kelelahan, kurang tidur, atau gangguan sinar.
Perkembangan Anak dan Harapan
Sejak operasi kedua, kejang yang dialami anak dr. Arimbawa hanya tercatat sebanyak 5 kali dalam 10 tahun, jauh lebih rendah dibandingkan sebelumnya. Sekarang, usia anaknya sudah 23 tahun dan telah menyelesaikan pendidikan S1 Prodi Hukum. Di bidang akademik, ia pernah beberapa kali menjadi juara umum saat SD dan SMP.
Saat ini, anak dr. Arimbawa bekerja di salah satu perusahaan Jepang di Ubud, yang menekuni AI animasi. Dari pengalamannya, dr. Arimbawa menyampaikan harapan agar kemajuan ilmu kedokteran dapat membantu para penderita epilepsi, serta mengurangi stigma di masyarakat sehingga mereka tidak merasa down secara mental.












