PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA) akan membagikan dividen tunai final kepada para pemegang saham sebesar US$ 8.888.000. Besaran dividen ini berasal dari saldo laba ditahan atau retained earnings perusahaan. Keputusan tersebut telah disetujui oleh pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) dan Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang diadakan pada Kamis, 16 April 2026.
Dividen tunai final akan dibayarkan secara proporsional kepada setiap pemegang saham yang tercatat dalam Daftar Pemegang Saham pada tanggal pencatatan pembagian dividen. Hal ini disampaikan oleh manajemen TOBA melalui keterangan resmi yang dikeluarkan pada hari yang sama.
Sebagai informasi, TOBA mencatatkan kerugian bersih sebesar US$ 162,27 juta pada tahun 2025. Sebelumnya, pada tahun 2024, TOBA berhasil meraih laba bersih sebesar US$ 25,36 juta. Dividen yang dibagikan pada tahun 2024 berjumlah US$ 10 juta. Direktur Utama TOBA, Dicky Yordan, menjelaskan bahwa keputusan ini mencerminkan keyakinan manajemen terhadap arus kas perusahaan serta komitmen untuk memberikan nilai bagi pemegang saham meskipun menghadapi tantangan kondisi makroekonomi.
Selain itu, TOBA juga telah mendapatkan persetujuan untuk menjajaki Penawaran Umum Terbatas (rights issue). Langkah ini dilakukan sebagai upaya memperkuat struktur keuangan perusahaan guna mendukung proyek-proyek hijau di masa depan.
“Kami sedang mempersiapkan langkah ini agar bisa memberikan ruang bagi perseroan dalam memperkuat struktur keuangan apabila diperlukan,” ujarnya dalam keterangan resmi.
Di samping itu, TOBA juga mengumumkan program pembelian kembali saham (buyback). Ini menjadi tanda kepercayaan manajemen terhadap fundamental perusahaan dan prospek pertumbuhan jangka panjang.
Menurut Nafan Aji Gusta, Senior Market Analyst dari Mirae Asset Sekuritas, dividend yield TOBA pada tahun 2024 berkisar antara 4-5%. Namun, pada buku tahun 2025, dividend yield hanya mencapai hampir 3%.
“Penurunan ini wajar mengingat kinerja TOBA pada tahun lalu yang rugi,” ujarnya dalam komentar yang diterima pada hari Kamis, 16 April.
Dari segi topline, pendapatan TOBA dari kontrak dengan pelanggan sebesar US$ 365,86 juta pada 2025, turun 5,16% YoY dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya sebesar US$ 385,78 juta. TOBA juga mengalami kerugian atas divestasi entitas anak sebesar US$ 96,87 juta pada 2025.
Pada Oktober 2024, TOBA melakukan divestasi dua aset Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) dengan kapasitas total 200 Megawatt (MW). Aksi ini dilakukan melalui penjualan seluruh saham TOBA langsung maupun tidak langsung di PT Minahasa Cahaya Lestari (MCL) dan PT Gorontalo Listrik Perdana (GLP).
Ke depan, kinerja TOBA diharapkan dapat pulih mulai dari peningkatan EBITDA di tahun 2026. Hal ini didukung oleh fokus bisnis TOBA yang bergeser ke energi baru terbarukan (EBT) dan electric vehicle (EV).
Rencana rights issue dan buyback saham juga dapat menjadi pendorong kinerja TOBA ke depan. Sentimen positif terhadap rights issue dinilai baik karena dana yang terkumpul akan digunakan untuk proyek hijau.
“Program buyback ini berfungsi sebagai buffer demi menjaga saham dan menunjukkan keyakinan manajemen kepada investor bahwa harga saham TOBA masih undervalued,” ujarnya.
Namun, risiko yang membayangi kinerja TOBA di tahun ini adalah delusi saham akibat rights issue dan beban bunga pinjaman untuk mendanai proyek baru. Nafan merekomendasikan maintain buy untuk TOBA dengan target harga Rp 735 per saham.
Seorang penulis berita online yang terbiasa bekerja cepat tanpa mengabaikan akurasi. Ia menaruh perhatian pada isu sosial, budaya, dan tren masyarakat. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca buku psikologi, berjalan kaki di taman, dan merawat tanaman hias. Ia percaya bahwa ide terbaik muncul dari ketenangan. Motto: “Ketelitian adalah kunci dari kredibilitas.”












