Bisnis  

Mencari Nafkah di TPA Parit Enam, Pemulung Berjuang untuk Keluarga

Kehidupan di TPA Parit Enam: Kehidupan Pemulung yang Tak Terlihat

Di bawah langit abu-abu pada Jumat (6/2/2026), kehidupan di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Parit Enam Pangkalpinang tampak sibuk. Bau sampah menyengat sepanjang jalan, sementara dump truck datang silih berganti menurunkan muatan tanpa pemilahan. Sampah baru dan lama bercampur menjadi satu, menggambarkan kondisi TPA saat ini.

Lalat beterbangan mengerubungi tumpukan sampah. Di atas gundukan tertinggi, ekskavator bekerja mengais dan menata sampah, sementara di bawahnya sejumlah pemulung berusaha mengumpulkan barang bernilai untuk dijual. Ekskavator meraung di atas gundukan sampah tertinggi, sesekali berhenti untuk beristirahat sebelum kembali mengais dan menumpuk sampah. Di bawahnya, sejumlah manusia berusaha mengisi karung mereka, mencari sampah yang menentukan pendapatan mereka hari ini.

Beberapa naik ke atas gundukan sampah sembari memikul karung. Sementara semesta seperti tidak bersahabat lantaran angin membuat sampah terseret tak karuan. Sedikit maju ke depan, kita bisa melihat gapura yang bertuliskan TPA PARIT ENAM menjulang tinggi. Tepat di seberangnya nampak seorang pria yang sedang menyortir sampah-sampah, Enggak (48) yang sering orang-orang sebut sebagai Pemulung.

Enggak mengenakan setelan baju olahraga SMP Negeri 7 yang entah milik siapa, celana cokelat bernoda, dan sepatu bot yang berbeda warna keduanya. Setelan tersebut menjadi seragamnya dalam meremukkan botol di tangannya. Setiap hari, wajah Enggak bisa ditemui di TPA sejak pukul 08.00 WIB. Tujuannya jelas, yaitu datang, menyortir, dapat uang.

“Di sini lah saya tiap hari dari jam 8 sampe jam 5, nyortir barang biar dapat duit”, ucapnya. Setengah tahun lebih Enggak mengakui dirinya sebagai pemulung. Ia juga mengatakan kerabatnya juga menekuni pekerjaan ini, bahkan lebih awal.

Seperti pekerjaan lain, tentunya prioritas utama adalah memenuhi kebutuhan sehari-hari diri sendiri dan keluarga. Enggak juga bercerita bahwa tak pernah terkira ia yang berasal dari Jakarta berada di posisi sekarang ini. Alasan Enggak datang lebih awal agar tidak kalah cepat dari pemulung lain. Terlambat sedetik saja maka bisa-bisa tidak kebagian muatan.

“Rebutan ini sama pemulunga lain. Jadi kalo kita santai-santai bisa ga kebagian”, ujarnya. Enggak akan mendapatkan uang setelah ia menyetor sampah kepada pribadi yang sering mereka sebut Bos Pengepul. Dalam kasus Enggak, orang baik tersebut katanya berasal dari Madura.

“Ini nanti disetor ke bos. Sampahnya juga disortir agar harganya bisa lebih mahal. Kalau digabung dapatnya cuma sedikit”, ujarnya. Selama bekerja sebagai pemulung, Enggak mengaku tidak pernah sakit. Ia bercanda bahwa tubuhnya seakan sudah kebal akibat terlalu sering terpapar sampah.

“Alhamdulillah ga pernah. Kuman aja takut kayaknya sama kami”, ucapnya. Namun, kerjaan seperti ini pastinya sangat melelahkan. Enggak juga merasa pengalamannya jadi pemulung, bahkan lebih melelahkan dari kerja bangunan.

Syukurnya, keluarga dan kerabat Enggak tidak pernah mempermasalahkan pekerjaannya ini. Keluarganya bahkan membantu memberikan dukungan, seperti mengantar dan menjemput saat bekerja. Enggak sendiri sekarang sudah berkeluarga. Ia diberkahi tiga anak ditambah 1 cucu. Anak-anak Enggak tidak mempermasalahkan pekerjaan yang Enggak sebut pekerjaan halal dan tidak merugikan orang lain ini.

Dengan positif, Enggak juga menjelaskan bahwa pekerjaan ini adalah pekerjaan hanya perlu keinginan kuat dan tidak gengsi. Ia memberikan kiasan meskipun kerjanya kotor, tapo uang yang didapatkan bersih. Cerita Enggak sempat terhenti sejenak karena perhatiannya terfokus ke sebuah kaleng yang tidak ia ketahui bahan pembuatannya. Ia bergumam sendiri apakah yang dipegangnya itu timah atau alumunium, karena harga jualnya berbeda.

Enggak pun memberitahukan beberapa harga jual sortiran per kilonya seperti kaleng alumunium Rp22 ribu, besi Rp3,5 ribu, botol Rp600, mangkuk warna Rp1,5 ribu, kristal Rp2 ribu, dan lain-lain. Meski Enggak menceritakan pengalamannya ini dengan raut wajah yang ceria, namun ia juga tak mau menjadi pemulung selamanya. Jauh di dalam lubuk hatinya ia ingin mendapatkan pekerjaan yang lebih layak saat ini bagi ia dan keluarganya.

Apapun itu, Enggak tetap merasa bersyukur kepada Allah SWT. atas hidupnya. Dengan sedikit bercanda ia bilang masih bisa tidur nyenyak karena tidak ada pikiran yang mengganjal dalam kepalanya. “Kalo tidur saya masih tenang, kan tidak punya utang. Ga tau ya kalo orang lain hahaha”, ujarnya.

Dari Enggak kita bisa belajar untuk bekerja keras demi diri sendiri dan keluarga. Enggak juga mengajarkan bahwa Tuhan selalu memiliki jalan yang terbaik untuk hamba-Nya. Enggak pastilah bukan satu-satunya yang merasakan dinamika cerita barusan. Setiap orang memiliki lika-liku kehidupannya masing-masing. Hanya Tuhan dan pribadi kita yang menetukan bagaimana jalan kita ke depan.

Balqis Ufairah

Penulis yang fokus pada entrepreneurship dan pengembangan UMKM. Ia senang berkunjung ke pameran bisnis, berbincang dengan pelaku usaha, serta menulis ringkasan peluang pasar. Hobinya termasuk membuat desain sederhana. Motto: “Informasi membuka pintu kesempatan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× How can I help you?