Bisnis  

Indosat: RI Perusahaan Perlahan Adopsi AI, Investasi Berbasis Kebutuhan

Adopsi Kecerdasan Buatan di Kalangan Perusahaan Masih Bertahap

PT Indosat Tbk. (ISAT) mengamati bahwa adopsi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) di kalangan perusahaan masih dilakukan secara bertahap dan berbasis pada kebutuhan per kasus (use case). Director & Chief Business Officer Indosat, Muhammad Buldansyah atau yang akrab disapa Dany, menjelaskan bahwa sebagian besar perusahaan belum melihat AI sebagai transformasi menyeluruh di tingkat korporasi, melainkan sebagai solusi di unit-unit kerja tertentu yang dampaknya lebih cepat terlihat.

Melalui lini enterprise atau business to business (B2B), Indosat menawarkan berbagai solusi berbasis AI. Menurut Dany, kebanyakan perusahaan masih melihat penerapan AI satu per satu, use case by use case. Hal ini disebabkan karena banyak perusahaan masih menahan diri untuk melakukan investasi AI dalam skala besar karena menunggu kejelasan regulasi.

“Beberapa enterprise terutama wah aturannya belum ada sih saya gak berani jangan-jangan saya investasi di AI nanti aturannya gak mengizinkan jadi masih various tapi semua yang mengadoptasi AI,” ujarnya.

Namun, menurut Dany, perusahaan yang telah mengadopsi AI umumnya sudah merasakan manfaat langsung pada bidang yang diterapkan. Di Indosat, penerapan AI dilakukan melalui hyper segmentation, anti-spam, dan anti-scam yang dinilai memberi nilai signifikan.

Peningkatan Kinerja di Area Spesifik

Area seperti know your customer (KYC) hingga fraud management sering menjadi pintu masuk adopsi AI di banyak perusahaan. Penurunan biaya operasional dan peningkatan kinerja di area tersebut dinilai cukup signifikan, meskipun dampaknya terhadap keseluruhan perusahaan belum terlihat besar.

Penerapan AI juga meningkatkan segmentasi pelanggan. Melalui hyper personalization, segmentasi pelanggan yang sebelumnya di bawah 50 kelompok kini berkembang menjadi ratusan ribu hingga puluhan ribu segmen yang lebih spesifik, sehingga penawaran dapat disesuaikan lebih detail.

Temuan Riset Global tentang Kesenjangan AI

Temuan riset global menunjukkan adanya kesenjangan antara ekspektasi dan realisasi dampak finansial dari investasi AI. Berdasarkan data Amazon Web Services (AWS), sebanyak 59% perusahaan mencatat pertumbuhan pendapatan (revenue growth) dari penggunaan AI, sementara 68% perusahaan mengalami peningkatan produktivitas sepanjang 2024.

Namun, riset Deloitte bertajuk The State of AI in the Enterprise 2026: The Untapped Edge menemukan kesenjangan tajam antara target dan hasil nyata. Survei terhadap 3.235 pemimpin bisnis dan teknologi informasi di 24 negara menunjukkan bahwa 74% organisasi menargetkan AI untuk mendorong pertumbuhan pendapatan, tetapi hanya 20% yang benar-benar melihat hasil tersebut.

Temuan ini diperkuat survei PwC yang mencatat hanya 12% CEO yang merasakan dampak finansial langsung berupa penurunan biaya sekaligus peningkatan pendapatan dari investasi AI.

Fokus pada Efisiensi dan Keunggulan Kompetitif

Meski demikian, Deloitte menekankan bahwa keberhasilan AI tidak semata diukur dari keuntungan finansial jangka pendek, tetapi juga dari efisiensi operasional, diferensiasi strategis, serta keunggulan kompetitif jangka panjang.

Laporan tersebut juga mencatat meningkatnya adopsi AI di lingkungan kerja. Hampir 60% pekerja kini memiliki akses ke perangkat AI resmi perusahaan, meskipun tingkat pemanfaatannya dinilai masih belum optimal.

Selain itu, sekitar 82% perusahaan memperkirakan sedikitnya 10% pekerjaan akan terotomatisasi dalam tiga tahun ke depan, sementara mayoritas organisasi belum melakukan penyesuaian struktur kerja yang memadai.

Tantangan dan Kekhawatiran CEO

Salah satu kekhawatiran utama adalah perubahan teknologi yang sangat cepat, termasuk AI. Jika sebelumnya AI dipandang sebagai solusi untuk meningkatkan kinerja bisnis, kini hanya 12% CEO yang merasa AI benar-benar memberikan keuntungan finansial.

Sebanyak 56% CEO bahkan mengaku belum melihat manfaat finansial signifikan dari penerapan AI. Ketua Global PwC, Mohamed Kande, menyebut hanya sedikit perusahaan yang berhasil menjadikan AI sebagai sumber keuntungan nyata, sementara sebagian besar masih berada pada tahap uji coba.

“Tahun 2026 tampaknya akan menjadi tahun yang menentukan bagi AI,” ujar Kande, dikutip dari situs resmi PwC, Selasa (20/1/2025).

Perusahaan yang Serius Mengintegrasikan AI Lebih Unggul

Perusahaan yang telah mengintegrasikan AI secara serius dalam produk dan layanan tercatat mampu meraih keuntungan hampir 4% lebih tinggi dibandingkan perusahaan yang belum menerapkannya. Ini menunjukkan bahwa meski adopsi AI masih bertahap, potensi manfaatnya sangat signifikan jika dikelola dengan baik.

Almahdi Sharique

Penulis yang aktif meliput dunia hiburan dan tren media sosial. Ia menghabiskan waktu senggang dengan mendengarkan musik pop, mengedit video ringan, dan menjelajahi akun kreator. Ia percaya bahwa hiburan adalah bagian dari dinamika masyarakat. Motto: “Kreativitas adalah energi kehidupan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× How can I help you?