Pentingnya Proteksi dan Dukungan Kebijakan untuk Industri Baja Nasional
Industri besi dan baja nasional menghadapi berbagai tantangan yang memengaruhi daya saingnya terhadap produk impor. Para pengusaha di sektor ini menilai bahwa perlindungan dan dukungan kebijakan sangat penting agar industri dalam negeri dapat tetap berkembang, terutama dalam menghadapi persaingan dari produk impor yang murah serta memanfaatkan peluang dari proyek-proyek strategis pemerintah.
Tantangan yang Dihadapi Industri Baja
Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Bidang Perindustrian, Saleh Husin, menjelaskan bahwa industri besi dan baja nasional masih menghadapi beberapa tantangan. Antara lain, impor baja yang berlebihan, praktik perdagangan tidak adil, utilisasi kapasitas produksi yang belum optimal, serta tuntutan untuk memenuhi standar global. Untuk menghadapi hal ini, Kadin menilai perlu adanya penajaman kebijakan yang lebih tepat sasaran.
Saleh menyebutkan tiga fokus utama yang harus menjadi perhatian pemerintah dan pelaku industri. Pertama, perlindungan industri nasional yang tegas dan terukur. Salah satu isu yang sering muncul adalah peredaran “besi banci” di pasar dalam negeri. “Besi banci” merujuk pada produk yang tidak sesuai dengan standar dan menghindari pajak, sehingga bisa membanting harga menjadi lebih murah. “Besi banci kalau di pasar itu biasanya tidak membayar pajak, sehingga akan sulit bagi pelaku industri yang melakukan kegiatan usahanya dengan benar untuk dapat bersaing,” jelas Saleh dalam Musyawarah Nasional Indonesian Iron and Steel Industry Association (IISIA) 2026.
Saleh juga menyampaikan bahwa pada akhir tahun lalu, pelaku industri telah menemui Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa untuk menyampaikan berbagai tantangan di lapangan, termasuk mengenai peredaran “besi banci”. “Alhamdulillah kita lihat dalam beberapa minggu terakhir ini ditindaklanjuti,” ujar Saleh.
Prioritas Penggunaan Produk Dalam Negeri
Fokus kedua yang disampaikan oleh Saleh adalah prioritas penggunaan besi dan baja nasional untuk proyek-proyek strategis pemerintah. Ia menyoroti program 3 juta rumah serta proyek-proyek yang dibiayai oleh anggaran negara (APBN dan APBD), yang semestinya menggunakan produk besi dan baja dalam negeri. Saleh menekankan pentingnya pemenuhan kewajiban Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN). “Kita memiliki pesaing kuat, misalnya dari China dan Vietnam. Tanpa keberpihakan dari pemerintah, ya tentu industri akan tergerus,” ujar Saleh.
Dukungan Transformasi Teknologi dan Produksi Hijau
Fokus ketiga yang disampaikan Saleh adalah dukungan transformasi untuk produk hijau dan teknologi produksi. Ia menegaskan pentingnya insentif untuk investasi teknologi rendah karbon, efisiensi energi, serta digitalisasi manufaktur agar industri besi dan baja bisa berdaya saing dan relevan secara global.
Sementara itu, Ketua Umum IISIA M. Akbar Djohan mengatakan bahwa dari berbagai pertemuan dan Focus Group Discussion (FGD), komitmen keberpihakan dari pemerintah membawa harapan baru bagi industri besi dan baja nasional. Di sisi lain, Akbar mengamini bahwa ekosistem industri besi dan baja nasional harus melakukan transformasi fundamental, termasuk dengan memacu efisiensi dan mendongkrak produktivitas.
Akbar menyoroti potensi permintaan dari sederet proyek strategis pemerintah. Salah satunya di sektor maritim melalui program pembangunan kapal. Di bidang ketahanan energi, ada peluang dari pembangunan kapal pengangkut minyak dan gas. Di bidang ketahanan pangan, peluang terbuka dari proyek pembangunan ribuan kapal nelayan.
Kepastian Kebijakan dan Penindakan Pajak
Wakil Menteri Perdagangan Dyah Roro Esti menegaskan komitmen pemerintah untuk melakukan proteksi terhadap industri besi dan baja nasional, salah satunya melalui komite anti-dumping. Dyah menambahkan, importasi perlu menyesuaikan permintaan di pasar domestik, khususnya untuk produk yang spesifikasinya belum bisa diproduksi di dalam negeri.
Direktur Jenderal Pajak Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Bimo Wijayanto menegaskan pihaknya menindaklanjuti keluhan dari pelaku industri, termasuk soal peredaran “besi banci”. Saat ini, Kemenkeu sedang mendalami kasus dugaan praktik penghindaran pajak yang dilakukan oleh 40 perusahaan yang mayoritas komposisi sahamnya dimiliki oleh pihak asing.
Performa Industri Logam Dasar
Secara makro, performa industri logam dasar sepanjang tahun 2025 melesat paling tinggi di antara sub sektor industri manufaktur lainnya. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat industri logam dasar tumbuh sebesar 15,71%. Hanya saja, lonjakan kinerja sub sektor industri logam dasar belum merata ke semua kategori.
Direktur Eksekutif IISIA Harry Warganegara memberikan catatan bahwa pertumbuhan industri logam dasar banyak didorong oleh peningkatan produksi dan ekspor bahan baku serta produk setengah jadi seperti ferronikel, semi finished steel, dan stainless steel. Dengan begitu, Harry menilai bahwa lonjakan kinerja industri logam dasar belum merata pada semua lini industri di sub sektor ini. “Capaian pertumbuhan dobel digit belum sepenuhnya mencerminkan kondisi seluruh segmen industri besi dan baja,” kata Harry saat dihubungi .co.id, Senin (9/2/2026).
Harry mengatakan bahwa konsumsi dalam negeri yang belum pulih sepenuhnya, tekanan impor, serta melemahnya sektor konstruksi masih berdampak pada rendahnya utilisasi pabrik baja nasional. Ke depan, Harry berharap keberlanjutan kinerja industri besi dan baja tidak hanya bergantung pada ekspansi bahan baku dan produk setengah jadi, tetapi juga pada penguatan industri baja bernilai tambah di dalam negeri.












