Tren Penurunan Perusahaan Asuransi yang Menyediakan Produk Kesehatan
Industri asuransi kesehatan di Indonesia mengalami perubahan signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Data yang dirilis oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan bahwa jumlah perusahaan asuransi yang memasarkan produk asuransi kesehatan mengalami penurunan. Pada 2023, terdapat 81 dari 144 perusahaan asuransi yang menyediakan layanan ini, dan pada 2024 angka tersebut turun menjadi 78 dari 146 perusahaan.
Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) juga mencatat tren serupa di industri asuransi jiwa. Ketua Dewan Pengurus AAJI, Budi Tampubolon, menjelaskan bahwa beberapa perusahaan asuransi jiwa akhirnya memutuskan untuk tidak lagi memasarkan produk asuransi kesehatan karena tingginya rasio klaim. Meski demikian, ia tidak merinci jumlah pasti perusahaan yang mundur.
“Ada perusahaan asuransi jiwa yang memutuskan untuk tidak memasarkan produk asuransi kesehatan. Namun, bagi perusahaan swasta, keputusan ini bisa jadi pilihan. Kami bersyukur jumlah perusahaan yang mundur saat ini tidak terlalu banyak. Namun, jika kondisi ini berlanjut, bisa saja semakin banyak perusahaan yang mengambil langkah serupa,” ujarnya saat konferensi pers AAJI, Senin (12/8).
Budi menekankan bahwa penurunan jumlah perusahaan yang menyediakan produk asuransi kesehatan akan mengurangi pilihan bagi masyarakat. Di sisi lain, ia menyoroti bahwa permintaan terhadap asuransi kesehatan masih tinggi. Hal ini didorong oleh meningkatnya biaya kesehatan dan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya perlindungan kesehatan.
Sejak pandemi Covid-19, fenomena kenaikan klaim sudah mulai terlihat dengan nominal yang besar. Namun, hal ini dibarengi dengan kenaikan premi. “Preminya naik dan klaimnya juga naik, meskipun kenaikan klaim lebih cepat dan tinggi daripada kenaikan preminya. Artinya, masyarakat masih mencari asuransi kesehatan,” tambahnya.
Penyesuaian premi menjadi salah satu opsi yang dilakukan perusahaan asuransi untuk mengantisipasi lonjakan klaim dan menjaga keberlanjutan proteksi bagi masyarakat. Budi menjelaskan bahwa penyesuaian premi bukan hanya sebesar 1% atau 2%, melainkan bisa mencapai belasan hingga puluhan persen.
Jika penyesuaian premi tidak dilakukan, masyarakat bisa terkena dampak langsung. Ujung-ujungnya, mereka mungkin harus mengambil dana dari kantong sendiri untuk kebutuhan kesehatan. Jika masyarakat lebih cenderung bergantung pada BPJS Kesehatan, maka keberlanjutan perlindungan kesehatan juga bisa terganggu.
“Jika klaim terus meningkat tanpa ada penyesuaian premi, maka tidak akan sustainable baik bagi masyarakat maupun industri asuransi,” katanya.
Terkait isu ini, AAJI menyambut baik regulasi dan kerja sama yang telah dilakukan oleh berbagai pihak, termasuk OJK, untuk memperbaiki ekosistem asuransi kesehatan. Salah satunya adalah perjanjian kerja sama dengan Kementerian Kesehatan dan rencana keluarnya Peraturan OJK (POJK) baru pada tahun depan.
Dengan harapan ekosistem kesehatan yang lebih baik pada tahun depan, Budi tidak menutup kemungkinan bahwa tidak ada lagi perusahaan asuransi jiwa yang mundur dari sektor asuransi kesehatan. “Harapan kami, perusahaan yang sempat mundur bisa kembali, serta perusahaan yang belum memasarkan asuransi kesehatan bisa ikut masuk. Tujuan kami hanya menjaga sustainability dari pertanggungan kesehatan,” ujarnya.
Data AAJI menunjukkan bahwa total pembayaran klaim kesehatan per kuartal III-2025 mencapai Rp 19,35 triliun. Angka ini turun 7,5% dibandingkan total klaim kesehatan pada periode yang sama tahun lalu, yaitu sebesar Rp 20,91 triliun. Jumlah penerima manfaat untuk asuransi kesehatan mencapai 3,19 juta orang per kuartal III-2025.
Untuk klaim asuransi kesehatan perorangan, tercatat kenaikan tipis sebesar 1,9% secara year on year (YoY) dengan total nilai sebesar Rp 11,99 triliun, yang diberikan kepada 0,25 juta orang penerima manfaat. Sementara itu, klaim asuransi kesehatan kumpulan turun 19,5% YoY menjadi Rp 7,35 triliun per kuartal III-2025, dengan jumlah penerima manfaat sebanyak 2,94 juta orang.
Penulis online yang antusias mendalami topik kesehatan dan gaya hidup. Ia rutin mengikuti webinar, membaca jurnal kesehatan, dan menulis catatan pribadi tentang pola hidup seimbang. Hobi lain yang ia tekuni adalah membuat smoothie dan meditasi. Motto: "Informasi adalah alat untuk hidup lebih baik."












