Bisnis  

Industri susu nasional butuh dukungan pemerintah dan swasta

Kemitraan dan Kolaborasi dalam Pengembangan Industri Susu Nasional

Industri pengelolaan susu nasional memiliki potensi besar untuk berkembang, terutama jika terdapat kerja sama antara pelaku industri, sektor swasta, serta pemerintah. Asisten Deputi Peningkatan Daya Saing Produk Peternakan Kementerian Koordinator Bidang Pangan Republik Indonesia, Karsan, menyatakan optimisme terhadap masa depan industri persusuan nasional.

Menurutnya, ada tiga hal yang perlu dilakukan untuk mengembangkan industri ini. Pertama adalah penguatan kapasitas peternak dan koperasi dengan memperkuat akses pembiayaan, teknologi, dan pendampingan agar produktivitas meningkat secara berkelanjutan. Kedua, diperlukan investasi dari industri dalam negeri. Ketiga, kolaborasi lintas sektor sangat penting. Tidak ada satu pihak pun yang bisa bekerja sendiri. Pemerintah, industri, koperasi, akademisi, dan peternak harus bekerja bersama dalam satu visi, yaitu mewujudkan swasembada susu nasional.

Memenuhi Tantangan Program Makan Bergizi Gratis

Kementerian Perindustrian melaporkan bahwa industri pengolahan susu nasional mampu memenuhi tantangan kebutuhan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Direktur Industri Minuman, Hasil Tembakau, dan Bahan Penyegar Kementerian Perindustrian, Merrijantij Punguan Pintaria, menyatakan bahwa optimisme pelaku industri masih memiliki kecenderungan ekspansi. Hal tersebut terlihat dari indeks kepercayaan industri pada November 2025 di angka 53,45, sedangkan indeks Purchasing Managers Index (PMI) November 2025 berada di angka 53,3.

Namun, tantangan muncul dengan adanya keterbatasan unit pengisian (filling) untuk kemasan berukuran kecil yang kapasitasnya belum sesuai. Meski demikian, saat ini industri pengolahan susu nasional masih berupaya memenuhi kebutuhan MBG. Diharapkan dalam waktu dekat, masalah tersebut dapat terselesaikan secara nasional.

Konsumsi Susu Nasional Masih Rendah

Merrijantij menjelaskan bahwa untuk mendorong kemajuan industri susu nasional, baik sektor swasta maupun Kementerian Perindustrian Republik Indonesia turut memperkuat rantai pasok bahan baku susu segar dalam negeri. Hal ini dilakukan melalui peningkatan teknologi melalui bantuan mesin peralatan digitalisasi di pos penampungan susu dan peralatan cooling unit untuk meningkatkan kualitas bahan baku bagi industri.

Data World Population Review menunjukkan bahwa tingkat konsumsi susu per kapita masyarakat Indonesia pada 2022 berada di level 17,76 liter per kapita per tahun. Angka ini masih jauh di bawah negara-negara Asia Tenggara lain seperti Malaysia (42,49 liter), Singapura (46,1 liter), dan Vietnam (37,21 liter). Namun, dengan transformasi gaya hidup masyarakat yang lebih sehat, peluang pasar produk susu seperti susu cair akan terus tumbuh.

Perlu Peningkatan Produktivitas

Ketua Umum Gabungan Koperasi Susu Indonesia (GCSI) Jawa Timur, H. Nur Kayin, menyatakan bahwa pemenuhan kebutuhan susu sapi tidak hanya bergantung pada jumlah sapi perah, tetapi juga pada produktivitasnya. Saat ini, produktivitas rata-rata adalah 12 liter per ekor per hari, padahal idealnya bisa mencapai 20 liter. Kendala utamanya adalah ketersediaan pakan ternak.

Berdasarkan data yang dimiliki, sebanyak 80 persen bahan baku pakan ternak adalah konsentrat yang mayoritas diekspor, sehingga harga pakan menjadi fluktuatif. Harapan dari koperasi adalah pemerintah melakukan intervensi di sektor pakan ternak.

Kemitraan Nestlé Indonesia

Kehadiran perusahaan swasta sangat penting untuk perkembangan industri susu nasional. Tahun ini, Nestlé Indonesia memperingati 50 tahun kemitraannya bersama para peternak sapi perah rakyat di Jawa Timur. Kemitraan dimulai dengan pendampingan, edukasi, dan bantuan untuk peningkatan kualitas dan kuantitas susu sapi segar, serta peningkatan kesejahteraan komunitas peternak.

Presiden Direktur PT Nestlé Indonesia, Georgios Badaro, mengatakan bahwa saat ini lebih dari 13.000 peternak sapi perah rakyat dari 28 koperasi di Jawa Timur merupakan mitra kerja Nestlé Indonesia. Sejak 1975, Nestlé Indonesia telah membangun kemitraan yang kuat dengan ribuan peternak sapi perah, koperasi, serta pemerintah pusat dan daerah.

Pendekatan Pertanian Regeneratif

Sustainable Agri Advisor PT Nestlé Indonesia, Syahrudi, menambahkan bahwa upaya Nestlé Indonesia dalam mentransformasi praktik usaha lokal tidak hanya berhenti pada dukungan kepada peternak, tetapi juga mencakup pendekatan pertanian regeneratif yang memulihkan dan merevitalisasi ekosistem.

Nestlé Indonesia berkomitmen untuk mengurangi dampak negatif sekaligus menghadirkan manfaat nyata bagi lingkungan. Hingga kini, mereka telah membangun 8.700 unit biogas dan 2.000 fasilitas aplikasi pupuk kandang untuk mengubah limbah menjadi energi bersih dan pupuk alami. Lebih dari 200.000 pohon legum telah ditanam melalui program silvopastura untuk mendukung restorasi tanah.

Upaya ini diperkuat dengan konservasi air, vermikompos untuk peningkatan kesehatan tanah, serta pengurangan emisi melalui optimasi pakan, pemanfaatan biogas, manajemen kotoran ternak, dan praktik pertanian regeneratif lainnya.

Investasi dan Komitmen Jangka Panjang

Nestlé Indonesia turut berkomitmen untuk meningkatkan perekonomian nasional melalui pemberdayaan para pemasok bahan baku, seperti para peternak sapi perah rakyat di Jawa Timur. Sejak 1975, Nestlé Indonesia telah menginvestasikan dukungan, pendampingan, atau bantuan bagi para peternak di Jawa Timur, serta melakukan pembelian susu segar lebih dari 60 juta dollar AS setiap tahunnya.

Pada 2019, Nestlé Indonesia menginvestasikan sekitar 100 juta dollar AS untuk memperluas tiga pabrik, dan pada 2021 berkomitmen sekitar 220 juta dollar AS untuk membangun Pabrik Bandaraya terbaru di Jawa Tengah. Total investasi hingga saat ini mencapai sekitar 617 juta dollar AS.

Syahrudi menerangkan bahwa kolaborasi yang telah terbangun antara komunitas peternak sapi perah rakyat, pemerintah, dan berbagai pemangku kepentingan perlu terus dilanjutkan agar pertumbuhan dan keberlanjutan dapat senantiasa berjalan selaras. Momentum peringatan 50 tahun kemitraan PT Nestlé Indonesia dengan peternak sapi perah rakyat di Jawa Timur dapat menjadi model praktik terbaik pengembangan kemitraan persusuan nasional yang inklusif, berdaya saing, dan berkelanjutan.

Rusmawan

Rusmawan adalah seorang penulis berita online yang serbabisa dalam menguraikan berbagai peristiwa menjadi berita yang jelas dan ringan. Ia suka membaca opini, melakukan riset pendek, dan membuat rangkuman harian. Di waktu senggang, ia menikmati musik instrumental. Motto: “Informasi yang baik dimulai dari niat yang baik.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× How can I help you?