Pergerakan Pasar Saham dan Kinerja Ekonomi Nasional
Pergerakan pasar saham domestik pada hari Selasa, 11 November 2025, ditandai oleh pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Pada penutupan sesi perdagangan, IHSG dilaporkan turun sebesar 0,29% dibandingkan penutupan sebelumnya. IHSG berada di posisi 8.366,52, setelah sebelumnya berada di level 8.391,24.
Nilai transaksi harian mencatatkan angka yang cukup tinggi, yaitu sebesar Rp27,48 triliun. Angka ini lebih tinggi dari rata-rata nilai transaksi harian yang biasanya tercatat sebesar Rp16,71 triliun. Hal ini menunjukkan bahwa aktivitas perdagangan di pasar modal tetap dinamis meskipun ada tekanan negatif terhadap indeks utama.
Di sisi lain, investor asing melakukan penjualan bersih (net sell) sebesar Rp648,43 miliar pada hari tersebut. Secara akumulatif, penjualan bersih oleh investor asing telah mencapai total Rp38,56 triliun sejak awal tahun. Ini menunjukkan bahwa tekanan dari investor asing masih menjadi faktor penting dalam pergerakan pasar.
Perkembangan Kurs Rupiah
Di pasar valuta asing, nilai tukar Rupiah mengalami depresiasi terhadap dolar Amerika Serikat (USD). Berdasarkan kurs Bloomberg, Rupiah berada di level Rp16.689/USD, yang merupakan penurunan dari posisi sebelumnya sebesar Rp16.654/USD. Penurunan ini bisa menjadi indikator kekhawatiran terhadap stabilitas ekonomi nasional.
Kebijakan dan Proyek Infrastruktur
Beberapa kebijakan dan proyek infrastruktur dalam negeri juga mendapat perhatian. Berikut adalah beberapa poin penting:
- Penjualan Ritel: Indeks Penjualan Riil (IPR) untuk Oktober 2025 dilaporkan oleh Bank Indonesia (BI) tumbuh sebesar 4,3% secara tahunan (yoy) dan 0,6% secara bulanan (mom). Pertumbuhan ini didorong oleh peningkatan penjualan makanan-minuman serta barang rekreasi.
- IKN: Enam kontrak pembangunan tahap II senilai lebih dari Rp1 triliun telah ditandatangani oleh Otorita Ibu Kota Nusantara (IKN). Kontrak-kontrak ini mencakup proyek jalan kawasan legislatif dan lima paket manajemen konstruksi gedung pemerintahan.
- Insentif Fiskal: Alokasi Dana Insentif Fiskal (DIF) sebesar Rp300 miliar telah ditetapkan oleh Menteri Keuangan (Menkeu) bagi daerah dengan kinerja terbaik dalam penurunan stunting. Ketentuan ini diatur melalui KMK No. 330/2025.
- Utang Kereta Cepat: Tim restrukturisasi utang Kereta Cepat Jakarta–Bandung (Whoosh) telah dibentuk oleh pemerintah untuk mempersiapkan negosiasi dengan Tiongkok. Skema pembayaran, termasuk opsi penggunaan harta rampasan koruptor dan pelibatan APBN melalui PSO, masih dikaji pemerintah.
- Proyek Peternakan: Proyek peternakan ayam senilai Rp20 triliun sedang dikaji oleh BPI Danantara guna mendukung Program MBG mulai Januari 2026. Proyek ini dikritik karena dinilai berisiko membebani Danantara dan peternak kecil.
Kinerja Korporasi
Beberapa emiten di pasar modal juga memberikan perkembangan terkini mengenai kinerja mereka:
- GOTO: Isu terkait rencana merger dengan Grab ditepis oleh GOTO. Ditegaskan bahwa belum ada keputusan atau kesepakatan yang dicapai. Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) 17 Desember 2025 dipastikan tidak terkait aksi korporasi apa pun.
- ITMG: Laba bersih per September 2025 dibukukan sebesar USD130,58 juta, yang dilaporkan turun 52,17% (yoy). Penurunan ini dipicu oleh harga jual batubara yang melemah meskipun volume penjualan meningkat.
- CPRO: Kenaikan laba bersih sebesar 24,59% (yoy) dicatatkan, mencapai Rp426,73 miliar per September 2025. Kenaikan ini ditopang oleh pertumbuhan penjualan dan efisiensi beban keuangan.
- LPKR: Laba bersih per kuartal III-2025 dicatat sebesar Rp368,19 miliar, turun tajam 98,03% (yoy). Penurunan drastis ini disebabkan oleh tidak berulangnya keuntungan besar dari transaksi penjualan entitas yang terjadi pada tahun sebelumnya.
- SMMT: Laba bersih per September 2025 dicatatkan sebesar USD3,89 juta, naik 106,91% (yoy). Peningkatan ini didukung oleh lonjakan penjualan hingga 241,74% (yoy) di tengah meningkatnya aktivitas produksi.












