Proyek Monorel Jakarta yang Mangkrak Akan Dibongkar
Tiang-tiang beton sisa proyek monorel Jakarta yang sudah mangkrak hampir dua dekade dan sering dianggap merusak tata kota akhirnya akan ditertibkan. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah memastikan bahwa sebanyak 90 tiang monorel akan mulai dibongkar pada Rabu, 14 Januari 2026. Deretan tiang tersebut berada di kawasan Jalan HR Rasuna Said hingga Senayan.
Penertiban ini dilakukan sebagai bagian dari upaya penataan ulang kawasan perkotaan Jakarta. Proses pembongkaran direncanakan berlangsung pada malam hari untuk mengurangi potensi kemacetan, terutama di sepanjang Jalan Rasuna Said. Selama pekerjaan berlangsung, rekayasa lalu lintas akan diterapkan dengan pengaturan dan pengalihan jalur. Alat berat akan ditempatkan di jalur lambat, sedangkan jalur cepat tetap dibuka agar mobilitas kendaraan tetap lancar.
Sejarah Proyek Monorel Jakarta
Monorel Jakarta sering dianggap sebagai salah satu proyek transportasi publik paling berliku di Indonesia. Wacana pembangunan monorel pertama kali muncul pada 2004, saat Presiden Megawati Soekarnoputri masih menjabat. Saat itu, Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso menggagas kehadiran moda transportasi modern ini sebagai solusi kemacetan.
Pembangunan tiang-tiang monorel dimulai pada 2004 dengan kontraktor utama adalah BUMN PT Adhi Karya (Persero). Namun, investor proyek ini adalah Ortus Group, perusahaan yang menjadi pemegang saham pengendali PT Jakarta Monorail (PT JM).
Namun, di tengah jalan, proyek ini menghadapi berbagai kendala seperti sengketa aset, keterbatasan pendanaan, dan kelayakan ekonomi. Akibatnya, pembangunan berhenti tanpa kejelasan kelanjutan. Pada tahun 2007, proyek ini dihentikan. Di saat bersamaan, tiang-tiang monorel sudah terlanjur dibangun oleh Adhi Karya.
Tagihan Adhi Karya ke PT JM belakangan macet. Hal ini membuat tiang-tiang monorel “disita” dan diklaim sebagai aset Adhi Karya. Di era Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo, Pemprov DKI Jakarta memutuskan menghentikan proyek monorel Jakarta secara resmi karena PT JM dinilai tidak sanggup memenuhi kewajiban keuangan.
Profil Ortus Group
Ortus Group adalah konglomerasi bisnis yang dimiliki Edward Soeryadjaya. Ia adalah putra mantan pemilik raksasa otomotif Indonesia, William Soeryadjaya. Selain Ortus Group, Edward juga menjadi pemegang saham pengendali bisnis Sugih Group, yang bergerak di bidang pertambangan dan perminyakan.
Menurut arsip pemberitaan pada 13 Februari 2023, Fachmi Zarkasi, Direktur Ortus Group menyatakan bahwa dana yang digunakan untuk membangun proyek monorel Jakarta sepenuhnya berasal dari pendanaan swasta, tanpa bantuan APBN atau APBD.
Peran PT Jakarta Monorail
PT Jakarta Monorail (PT JM) adalah perusahaan khusus yang dibentuk untuk membangun proyek monorel Jakarta serta menjadi pemegang konsesi transportasi massal tersebut. Sebelum Ortus Group mengambil alih, saham PT JM awalnya ingin dibeli oleh Grup Kalla melalui PT Bukaka.
Perubahan kepemilikan saham oleh Ortus Group mengurungkan niat Hadji Kalla Group untuk menguasai saham PT Jakarta Monorail. Sebagai pemegang konsesi proyek monorel Jakarta, PT JM harus membangun dua koridor monorel bertahap, yaitu blue line dan green line.
Blue line memiliki panjang 30 kilometer dan membentang dari Kampung Melayu ke Taman Anggrek. Jalur ini juga memiliki ekstensi ke timur dan barat. Sedangkan green line memiliki panjang 14,5 kilometer dan berjalan dari Kuningan ke Dukuh Atas.
Dengan adanya penertiban tiang monorel, harapan besar diarahkan kepada penataan kembali kawasan Jakarta yang lebih rapi dan fungsional.












