JAKARTA,
Dinamika pasar properti Indonesia pada tahun 2026 diproyeksikan akan memasuki fase ekuilibrium baru yang jauh lebih prospektif. Di tengah volatilitas ekonomi global, optimisme fundamental justru menyeruak dari koridor para pemangku kebijakan dan pelaku industri properti. Salah satu representasi keberanian intelektual dan manajerial ini datang dari PT Indonesian Paradise Property Tbk (INPP) atau lebih dikenal dengan Paradise Indonesia.
Presiden Direktur Paradise Indonesia, Anthony Prabowo Susilo, secara eksplisit memproyeksikan lintasan industri properti pada 2026 akan menunjukkan kurva pertumbuhan yang lebih impresif dibandingkan tahun sebelumnya. “Saya merasa tidak akan lebih sulit dari 2025. Namanya juga pengusaha, harus terus berusaha dan optimistis,” ujar Anthony menjawab pertanyaan, Jumat (9/1/2026).
Stimulus Fiskal, Katalisator Ekspansi
Salah satu instrumen makroprudensial yang menjadi tulang punggung optimisme Anthony adalah kebijakan Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP). Sebagaimana yang dituangkan dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 90 Tahun 2025, insentif fiskal ini bertransformasi menjadi engine of growth yang mengonversi potensi permintaan menjadi transaksi aktual.
Anthony mengakui bahwa PPN DTP merupakan determinan utama yang mengakselerasi penyerapan unit, khususnya pada segmen hunian. Kebijakan ini tidak sekadar memberikan keringanan finansial bagi konsumen, tetapi juga memicu efek multiplikasi pada ekosistem keuangan properti. Efektivitas kebijakan ini tecermin pada kelancaran proses serah terima unit yang dilakukan Paradise Indonesia, di mana konsumen telah menempati hunian dan fasilitas Kredit Pemilikan Apartemen (KPA) dari perbankan telah mengalir secara reguler.
Hal ini menandakan bahwa residential operation telah kembali ke jalur normal pasca-stimulus pajak, yang secara fundamental memperkuat struktur permodalan perusahaan melalui realisasi pendapatan.
Eksplanasi Melalui Survei Bank Indonesia
Optimisme Paradise Indonesia ini selaras dengan data empiris yang dirilis oleh otoritas moneter. Merujuk pada Survei Harga Properti Residensial (SHPR) Bank Indonesia, terlihat adanya kecenderungan moderasi harga yang tecermin dari Indeks Harga Properti Residensial (IHPR) pada Kuartal III-2025, tumbuh 0,84 persen secara tahunan atau year on year (yoy).
Indeks Harga Properti Residensial menunjukkan sinyal positif bagi para investor yang mengincar capital gain jangka panjang. Di sisi lain, Survei Harga Properti Komersial (SHPK) Bank Indonesia juga mengonfirmasi adanya ekspansi pada sektor ritel, apartemen, hotel, perkantoran, dan kawasan industri meskipun dalam intensitas yang terjaga. Pada matriks permintaan, tumbuh 0,67 persen, sedangkan pasokan naik tipis 1 persen. Hal ini diimbangi dengan kenaikan harga yang tumbuh stabil 0,45 persen.
Kenaikan pada seluruh matriks ini menjadi basis argumentasi bagi Paradise Indonesia untuk mengakselerasi proyek-proyek strategis dengan presisi tinggi.
Portofolio Strategis
Paradise Indonesia tidak sekadar berteori dalam optimisme. Perusahaan saat ini tengah berada dalam fase akselerasi dengan garis waktu yang ketat namun terukur. Di Semarang, Perusahaan tengah bersiap membuka operasional 23 Semarang Shopping Center yang kini memasuki tahap krusial. Anthony mengonfirmasi bahwa soft opening dijadwalkan pada jendela waktu Mei-Juni 2026. Ini akan menjadi tonggak penting bagi Paradise Indonesia dalam memperluas dominasi pasar di wilayah Jawa Tengah.
Beranjak ke Jakarta melalui proyek Antasari Place, Perusahaan akan melanjutkan kesuksesan serah terima pada fase awal, untuk pembangunan tower kedua. Langkah ini merupakan respons organik terhadap tingginya demand yang telah terverifikasi melalui serah terima unit sebelumnya. Hal ini ditandai dengan kelancaran akad KPA bagi para konsumen yang menunjukkan tingginya tingkat kepercayaan perbankan terhadap integritas proyek yang dibangun oleh Paradise Indonesia.
“Sementara proyek di Balikpapan, Kalimantan Timur, akan grand launching pada April 2026,” imbuh Anthony. Paradise Indonesia sendiri tecatat memiliki dan mengelola portofolio properti gaya hidup di sejumlah kota. Mulai dari mixed use Plaza Indonesia, Sahid Kuta Lifestyle Bali, 23 Paskal Shopping Center Bandung, Sheraton Bali Kuta Resort, Grand Hyatt Jakarta, fX Sudirman, The Plaza Office, hingga Keraton at The Plaza. Total kapitalisasi pasar hingga 9 Januari 2026 tercatat mencapai Rp 8,39 triliun.
Properti sebagai “Safe Haven” 2026
Secara analitik, sektor properti pada 2026 diprediksi akan menjadi instrumen safe haven di tengah restrukturisasi ekonomi nasional. Penurunan risiko kredit dan stabilisasi suku bunga acuan yang dibarengi dengan insentif PMK mengenai PPN DTP menciptakan ekosistem yang kondusif bagi high-net-worth individuals maupun first-time home buyers.
Strategi Paradise Indonesia dalam mengedepankan aspek serah terima unit ketimbang sekadar penandatanganan Akta Jual Beli (AJB) menunjukkan pergeseran fokus pada nilai utilitas dan kepuasan konsumen. Hal ini membuktikan bahwa keberhasilan properti tidak lagi hanya diukur dari angka penjualan di atas kertas, melainkan dari keberlanjutan operasional hunian tersebut.












