Peluang Usaha di Luar Stasiun Bekasi
Bisnis parkir motor di luar stasiun jauh lebih menguntungkan dibandingkan menyewakan kos-kosan. Hal ini diungkap oleh Surya (48), yang mengelola lahan parkir sepeda motor tak jauh dari area Stasiun Bekasi. Warga sekitar Stasiun Bekasi memanfaatkan adanya peluang usaha setelah melihat tingginya mobilitas pengguna KRL Commuter Line.
Surya menjelaskan bahwa bisnis parkir motor di luar stasiun lebih menjanjikan dan tidak terlalu ribet dalam pengelolaannya. Ia juga menyebutkan bahwa saat ini banyak kos-kosan yang ditutup dan beralih menjadi tempat parkir. Lahan parkir motor yang dikelolanya mampu menampung sekitar 100 sepeda motor per hari. Area tersebut beroperasi mulai pukul 04.30 WIB hingga 23.30 WIB.
Tarif parkir yang dipatok adalah Rp6.000 per motor, sehingga pada hari kerja Surya bisa meraup pendapatan sekitar Rp600.000 per hari. Namun, pada akhir pekan pendapatan sedikit menurun karena kebanyakan pengguna parkir adalah orang kerja.
Surya menggunakan lahan rumah orang tuanya seluas 90 meter persegi sebagai area parkir. Sementara itu, bagian depan digunakan untuk aktivitas kerja sehari-hari. Ia mengatakan bahwa sewa ruko bisa mencapai Rp20 juta hingga Rp30 juta per tahun, tetapi pendapatan dari parkir bisa lebih besar.
Meski demikian, Surya mengakui ada tantangan dalam mengelola parkir motor, terutama saat kendaraan harus dikeluarkan pada waktu yang tidak menentu. “Suka dukanya ya itu, kalau ada yang pulang masuk malam atau siang, saya harus bongkar-bongkar motor,” ujarnya.
Namun, keamanan menjadi prioritas utama bagi Surya. Ia mengklaim belum pernah terjadi kasus kehilangan motor di lokasi parkir yang dikelolanya. Untuk menjaga keamanan, area parkir dilengkapi kamera pengawas (CCTV) dan dijaga oleh petugas yang selalu bersiaga. Ia juga mempekerjakan satu petugas parkir setiap hari kerja, sementara pada akhir pekan jadwal penjagaan dilakukan secara bergantian.
Lonjakan kendaraan biasanya terjadi saat hari besar atau kegiatan besar di Jakarta. Contohnya, saat Idul Fitri atau acara PRJ di JIExpo, area parkir sering ramai seperti hari kerja. Surya juga tetap memprioritaskan pelanggan langganan ketika kapasitas parkir hampir penuh. Ia mengatakan bahwa pelanggan yang sudah nyaman biasanya tidak ingin pindah ke tempat lain.
Pengalaman Pelanggan
Sejumlah pengguna Commuter Line memilih memarkirkan motornya di luar area parkir resmi Stasiun Bekasi karena berbagai alasan. Salah satu pengguna jasa parkir motor di sekitar Stasiun Bekasi, Ishal Muhamad (24), mengaku lebih memilih parkir di luar stasiun karena tarifnya lebih terjangkau dibandingkan parkir resmi di dalam stasiun.
“Kalau parkir di luar itu lebih murah. Di dalam kan per jam, sementara di luar Rp5.000 sehari. Kalau menginap paling Rp 10.000 atau Rp 15.000, tergantung tempatnya,” ujar Ishal saat ditemui di area Stasiun Bekasi.
Selain faktor harga, ketersediaan lahan parkir di luar stasiun juga menjadi pertimbangan. Menurut Ishal, area parkir resmi di dalam stasiun kerap penuh, terutama pada jam-jam sibuk. “Kalau di dalam cepat penuh. Di luar pilihannya banyak, lahannya juga gampang dicari,” kata dia.
Dari sisi pelayanan, Ishal menilai parkir di luar stasiun tidak jauh berbeda dengan parkiran pada umumnya. Kendaraan akan dikeluarkan oleh petugas setelah pengguna menyebutkan nomor, pelat, serta ciri kendaraan. “Pelayanannya standar saja. Sama seperti parkiran biasa,” ujarnya.
Ia juga menilai keamanan parkir di luar relatif terjamin meski pengguna dilarang mengunci setang kendaraan. “Selama ini aman, mereka jaga terus,” kata Ishal.
Hal serupa disampaikan Antoneo (33), pengguna KRL lainnya. Ia memilih parkir di luar stasiun karena dinilai lebih cepat dan murah dibandingkan parkir resmi di dalam area stasiun. “Harganya sekitar Rp5.000 sampai Rp7.000,” ujar Antoneo.
Namun, Antoneo mengakui, parkir di luar stasiun memiliki keterbatasan, salah satunya jam operasional yang tidak 24 jam. Ia pernah mengalami kendala saat pulang larut malam karena lokasi parkir sudah tutup. “Saya pernah pulang jam setengah 12 malam, parkirannya sudah tutup. Motor terpaksa ditinggal dan baru diambil besok paginya,” ujarnya.
Meski demikian, Antoneo menilai parkir di dalam stasiun juga memiliki kekurangan tersendiri, terutama terkait kepastian ketersediaan lahan. “Kalau di dalam sebenarnya dekat, tapi kita enggak tahu penuh atau enggak. Nyari tempatnya juga susah.” “Kalau di luar kan langsung taruh, nanti abang parkir yang ngatur,” katanya.
Seorang jurnalis online yang gemar membahas tren baru dan peristiwa cepat. Ia menyukai fotografi jalanan, nonton dokumenter, dan mendengar musik jazz sebagai relaksasi. Menulis baginya adalah cara memahami arah dunia. Motto hidupnya: "Setiap berita harus memberi manfaat, bukan sekadar informasi."












