Bisnis  

Dorong Aviasi dan Pariwisata Hijau, InJourney Kurangi Emisi 4.000 Ton

InJourney Memasuki Tahun Keempat dengan Visi Berkelanjutan

PT Aviasi Pariwisata Indonesia (Persero) atau InJourney memasuki tahun keempat sejak berdirinya di Tanah Air. Sebagai holding BUMN sektor aviasi dan pariwisata, InJourney terus mengimplementasikan berbagai inisiatif strategis lintas portofolio yang bertujuan untuk meningkatkan kinerja perusahaan serta berkontribusi pada perekonomian nasional.

Salah satu inisiatif utama yang dilakukan oleh InJourney adalah transformasi bandara dan peningkatan konektivitas udara. Selain itu, perusahaan juga fokus pada pengembangan destinasi budaya dan edukasi seperti Borobudur dan Taman Mini Indonesia Indah. Di samping itu, InJourney juga melibatkan diri dalam pembangunan International Medical Tourism di KEK Sanur serta pengembangan destinasi pariwisata The Mandalika dan The Golo Mori.

InJourney juga aktif dalam membawa karya-karya terbaik Indonesia ke panggung global melalui Sarinah. Rangkaian inisiatif ini tidak hanya memberikan dampak positif bagi kinerja korporasi, tetapi juga menjadi fondasi kuat bagi InJourney dalam menjalankan perannya sebagai pencipta nilai dan agen pembangunan.

Peran InJourney dalam Pertumbuhan Ekonomi Nasional

Dalam menjalankan perannya, InJourney tidak hanya memperkuat kinerja internal, tetapi juga memberikan kontribusi nyata bagi perekonomian nasional, sektor aviasi dan pariwisata, serta kesejahteraan masyarakat melalui sinergi dengan para pemangku kepentingan. Melalui transformasi yang dilakukan, InJourney menegaskan komitmennya untuk menjadikan aviasi dan pariwisata sebagai katalis pertumbuhan ekonomi nasional.

Memasuki tahun keempat perjalanannya, InJourney semakin memperkuat komitmen terhadap keberlanjutan sebagai arah utama transformasi. Dengan tema “InJourney 4 Tahun Bersama Berkarya, Lestarikan Indonesia”, keberlanjutan diposisikan sebagai kerangka berpikir dan bertindak dalam setiap inisiatif jangka panjang. Dengan demikian, pariwisata dianggap sebagai investasi lintas generasi yang menyeimbangkan pertumbuhan ekonomi, pelestarian lingkungan, dan pemberdayaan sosial.

Visi InJourney: Sustainable Tourism Economy and Creating Impact for Communities

Visi InJourney adalah membangun ekosistem aviasi dan pariwisata yang tidak hanya mendorong pertumbuhan ekonomi nasional, tetapi juga memperkuat komunitas lokal serta menjaga kelestarian lingkungan sebagai bagian integral dari strategi bisnis masa depan.

Direktur SDM dan Digital InJourney, Herdy Harman, menekankan bahwa keberlanjutan dan tanggung jawab dalam berbisnis merupakan fondasi utama transformasi pariwisata nasional. Menurutnya, pembangunan tidak hanya berhenti pada infrastruktur dan program, tetapi juga harus menyentuh aspek paling esensial, yaitu manusia.

“Komitmen kami wujudkan melalui green initiative program di lingkungan InJourney Group, yang merupakan sebuah inisiatif untuk menciptakan ekosistem pariwisata yang berkelanjutan. Inisiatif ini kami rancang untuk menghasilkan dampak yang dapat diukur, konsisten, dan berkelanjutan,” tambah Herdy.

Komitmen Terhadap Lingkungan

Dari sisi aspek lingkungan, InJourney menegaskan komitmen penurunan emisi sebesar 4.000 ton CO₂e. Komitmen tersebut merupakan langkah awal transformasi menuju operasional yang lebih hijau dan bertanggung jawab, sekaligus bentuk dukungan nyata terhadap target Net Zero Emission yang ditetapkan pemerintah Indonesia.

Salah satu kawasan wisata yang dikelola InJourney melalui anak usahanya, InJourney Tourism Development Corporation (ITDC), yakni The Nusa Dua, Bali telah menerapkan ekosistem pariwisata yang berkelanjutan dengan berprinsip pada tanggung jawab lingkungan. Direktur Operasi ITDC, Troy Warokka, menjelaskan bahwa penerapan inisiatif hijau di kawasan ini adalah fondasi operasional untuk menjadikan kawasan ini menjadi destinasi premium yang resilien dan berkelanjutan.

Teknologi SWRO untuk Meningkatkan Ketahanan Air

The Nusa Dua, Bali, telah mengoperasikan fasilitas Sea Water Reverse Osmosis (SWRO) selama tiga bulan terakhir. Fasilitas ini mampu menghasilkan 331.382 m³ air bersih, dan saat beroperasi penuh, SWRO memiliki kapasitas produksi hingga 1.314.000 m³ air bersih per tahun. SWRO memanfaatkan air laut sebagai sumber air bersih alternatif, sehingga secara signifikan mengurangi ketergantungan kawasan terhadap air tanah dan sumber air tawar.

Penerapan teknologi ini juga berperan penting dalam meningkatkan ketahanan air kawasan, menekan risiko kelangkaan air akibat perubahan iklim, serta memastikan keberlanjutan operasional pariwisata di The Nusa Dua.

Penghargaan untuk Inovasi Hijau

Penerapan fasilitas SWRO ini juga membawa ITDC NU entitas usaha dibawah ITDC menorehkan pencapaian bersejarah sebagai perusahaan pertama di Indonesia yang mendapatkan izin resmi dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) untuk mengolah air laut menjadi air layak untuk dikonsumsi melalui teknologi modern.

Anak Agung Istri Ratna Dewi, Direktur Utama ITDC Nusantara Utilitas, menyatakan bahwa penerapan SWRO merupakan langkah konkret dalam memperkuat ketahanan air kawasan sekaligus mendukung pengurangan tekanan terhadap air tanah.

“Dengan teknologi yang aman dan terukur ini, kami memastikan pasokan air bersih yang stabil bagi seluruh tenant dan wisatawan tanpa mengorbankan keberlanjutan lingkungan. Pengakuan KKP sebagai perusahaan pertama di Indonesia yang memperoleh izin resmi pengolahan air laut menjadi air layak konsumsi menjadi bukti bahwa inovasi hijau dapat berjalan sejalan dengan efisiensi dan standar layanan yang tinggi.” ujarnya.

Dina Nabila

Penulis yang mengamati perkembangan gaya hidup sehat dan tren olahraga ringan. Ia suka jogging sore, membaca artikel kesehatan mental, dan mencoba menu makanan sehat. Menurutnya, menulis adalah cara menjaga keseimbangan pikirannya. Motto: “Sehat dalam pikiran, kuat dalam tulisan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× How can I help you?