Bisnis  

Taktik ENRG Jaga Keuntungan Saat Harga Minyak Turun



JAKARTA – Turunnya harga minyak global berpotensi memberikan tekanan terhadap margin pendapatan perusahaan migas di Indonesia, termasuk PT Energi Mega Persada Tbk. (ENRG), yang merupakan anak usaha Grup Bakrie. Prediksi dari US Energy Information Administration (EIA) menunjukkan bahwa pasar minyak global pada tahun 2026 akan mengalami oversupply. Pasokan minyak diperkirakan mencapai 107,4 juta barel per hari (bph), meningkat dibandingkan 2025 sebesar 106,2 juta bph. Di sisi permintaan, konsumsi minyak global diperkirakan mencapai 105,2 juta bph, sedikit meningkat dari 103,9 juta bph pada 2025.

Kondisi ini menyebabkan penurunan harga minyak. Pada awal 2026, harga WTI berada di kisaran US$58 per barel dan Brent di US$64 per barel. Angka tersebut jauh lebih rendah dibandingkan awal 2025, di mana harga WTI mencapai sekitar US$78 per barel dan Brent sebesar US$82 per barel.

Menanggapi situasi ini, Herwin W Hidayat, Investor Relations Advisor Energi Mega Persada, menjelaskan bahwa ada dua faktor utama yang membuat ENRG mampu mengurangi dampak penurunan harga minyak global terhadap kinerja perseroan. Pertama, sekitar 80% hingga 85% dari total produksi ENRG berasal dari gas, sementara sisanya hanya 15%-20% dari minyak. Menurutnya, harga gas lebih stabil dibandingkan harga minyak yang lebih fluktuatif.

Kedua, perjanjian jual beli produk gas dari anak perusahaan ENRG memiliki jangka waktu yang lebih panjang, yaitu antara 5 hingga 7 tahun, dibandingkan dengan perjanjian jual beli minyak yang harus diperbaharui setiap tahun. Hal ini menjadi bentuk hedging atau lindung nilai terhadap fluktuasi harga minyak.

Herwin menjelaskan, “Harga jual gas yang cenderung lebih stabil dan perjanjian jual beli gas yang memiliki jangka waktu lebih panjang merupakan praktik lindung nilai yang baik terhadap harga minyak yang lebih berfluktuasi.”

Dalam kinerja keuangan terbaru, penjualan neto ENRG selama sembilan bulan pertama 2025 tumbuh sebesar 13,0% year on year (YoY) menjadi US$361,38 juta. Dari angka tersebut, penjualan gas bumi berkontribusi sebesar US$220,49 juta atau meningkat 9,36% YoY. Sebaliknya, penjualan segmen minyak mentah turun 3,54% YoY menjadi US$112,14 juta.

Selama periode ini, harga jual rata-rata minyak susut 14% YoY menjadi US$71,14 per barel, meskipun volume produksinya meningkat 6% YoY menjadi 8.381 bpd. Sementara itu, volume produksi gas turun 2% YoY menjadi 223,6 juta kaki kubik (mcf) per hari, namun terkompensasi dengan kenaikan harga rata-rata jual sebesar 7% YoY menjadi US$6,79 per mcf.

David Kurniawan, Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), mengatakan bahwa penurunan harga minyak global dapat memengaruhi kinerja operasional emiten migas upstream yang melakukan eksplorasi dan produksi. Biaya produksi per barel cenderung tetap, sehingga ketika harga jual mendekati biaya produksi, margin laba bersih akan tergerus lebih dalam dibandingkan penurunan pendapatannya.

David melihat bahwa penurunan harga Brent dari US$82 menjadi US$64 dan WTI dari US$78 menjadi US$58 akan berdampak langsung pada variabel pendapatan emiten. Karena harga jual rata-rata atau average selling price (ASP) emiten migas berkorelasi positif dengan harga minyak dunia, penurunan harga Brent sebesar 22% secara YoY akan menyebabkan penurunan pendapatan emiten migas pada kuartal I-2026.

Berdasarkan data Bloomberg Terminal, pendapatan ENRG sepanjang 2025 ditaksir tumbuh 15,35% YoY menjadi US$538,67 juta dengan laba bersih yang juga naik 18,89% YoY ke US$90 juta. Untuk periode 2026, pendapatan ENRG diproyeksikan naik 10,83% YoY menjadi US$597 juta dengan laba bersih sebesar US$112,33 juta.

Sementara itu, lima analis (100%) merekomendasikan beli ENRG dengan target harga Rp1.906, mencerminkan potensial return 65,1% dari harga Rp1.155. Pada penutupan pasar Selasa (10/2/2026), saham ENRG turun 2,59% ke Rp1.130.

Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

Badriyah Fatinah

Reporter yang menaruh minat pada isu-isu transportasi, publik, dan urbanisasi. Ia gemar naik kereta untuk mengamati dinamika kota, membaca laporan transportasi, dan memotret suasana perjalanan. Motto: “Setiap perjalanan menyimpan cerita baru.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× How can I help you?