Rencana Pengembangan Transportasi Massal di Surabaya
Surabaya, sebagai kota metropolitan yang terus berkembang, menghadapi tantangan besar dalam mengelola mobilitas dan kemacetan. Untuk menjawab hal tersebut, pemerintah kota sedang menyiapkan dua proyek transportasi massal besar yang bertujuan memperkuat sistem angkutan umum berbasis rel. Proyek ini dikenal dengan nama Surabaya Urban Rail Project (SURP) dan Surabaya Regional Railway Line (SRRL). Kedua proyek ini dirancang untuk menjadi tulang punggung transportasi Jawa Timur, dengan konsep yang berbeda namun saling terintegrasi.
SURP: Solusi Mobilitas Dalam Kota
SURP dirancang sebagai kereta urban dalam kota, mirip dengan konsep MRT atau LRT di Jakarta. Proyek ini akan mencakup jalur bawah tanah maupun layang, terutama pada titik-titik dengan kepadatan tinggi. Salah satu dukungan penting datang dari Pemerintah Inggris melalui kerja sama UK–FCDO GCIEP. Bahkan, pengembangan SURP turut masuk dalam pembahasan bilateral tingkat tinggi antara Indonesia dan Inggris.
Pada akhir Januari 2026, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto bertemu dengan Secretary of State for Business and Trade Kerajaan Inggris, The Rt Hon Peter Kyle MP. Pertemuan tersebut menghasilkan penandatanganan Economic Growth Partnership (EGP) di London. Kerajaan Inggris menyatakan dukungannya terhadap pengembangan sistem transportasi Surabaya melalui Proyek Kereta Perkotaan Surabaya (SURP), termasuk peluang kolaborasi lanjutan dalam penyusunan studi kelayakan.
Studi kelayakan SURP mencakup penentuan trase dan tahapan pelaksanaan proyek. Menurut Irvan Wahyudrajat, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Surabaya, proyek ini telah tertuang dalam RPJPD 2025–2045 dan RPJMD 2025–2029. SURP nantinya akan terintegrasi dengan simpul transportasi lain berbasis jalan, rel, maupun sungai.
SRRL: Menghubungkan Wilayah Gerbangkertosusila

Sementara SURP berperan sebagai “urat nadi” dalam kota, SRRL disiapkan sebagai kereta komuter regional yang menghubungkan wilayah Gerbangkertosusila, yaitu Gresik, Bangkalan, Mojokerto, Surabaya, Sidoarjo, hingga Lamongan. Proyek ini dinilai lebih matang dibanding SURP. Dukungan internasional bahkan telah mengerucut pada tahap pendanaan konkret.
Jerman melalui KfW Development Bank akan menjadi investor utama tahap pertama dengan nilai pembiayaan mencapai Rp4,4 triliun. Duta Besar Jerman untuk Indonesia, H.E. Mr. Ralf Beste, juga telah bertemu Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa pada awal Januari 2026 untuk membahas keberlanjutan SRRL. Proyek ini ditargetkan menjadi tulang punggung mobilitas Surabaya Raya mulai 2027.
Dengan rute yang lebih panjang dan lintas daerah, SRRL diharapkan menjadi solusi utama bagi warga penyangga yang setiap hari beraktivitas menuju Surabaya. Proyek ini juga akan memberikan dampak positif terhadap kualitas lingkungan dan keadilan sosial.
Perbedaan dengan Kereta Komuter Sekarang
Baik SURP maupun SRRL tidak dirancang seperti layanan kereta komuter konvensional yang ada saat ini. Salah satu pembeda utama adalah rencana elektrifikasi dan frekuensi keberangkatan yang lebih rapat, menyerupai sistem KRL Jabodetabek. Selain itu, Pemkot Surabaya juga menyiapkan pendekatan Transit Oriented Development (TOD) dan skema Land Value Capture (LVC) untuk menopang pembiayaan infrastruktur.
Kawasan yang dikaji antara lain sekitar Stasiun Gubeng, Pasar Turi, serta Wonokromo–TIJ Joyoboyo. Pengembangan TOD diharapkan dapat meningkatkan nilai manfaat dan nilai lahan untuk mendukung pembiayaan infrastruktur.
Integrasi dan Tantangan
Dalam proses perencanaan, Bappeda Surabaya berperan aktif mengawal keselarasan tata ruang, integrasi antarmoda, serta dampak sosial ekonomi. Irvan menegaskan bahwa dua proyek besar tersebut tidak akan berjalan sendiri-sendiri. “Nanti akan terhubung,” katanya, menegaskan integrasi SURP dengan SRRL.
Namun, tantangan terbesar bukan hanya teknis, melainkan konsistensi lintas pemerintah, skema pendanaan, dan kelincahan birokrasi. Implementasi fisik masih menunggu finalisasi studi kelayakan, penentuan trase, hingga kelembagaan pengelola.
Dukungan dari DPRD Jawa Timur
Anggota DPRD Jatim Cahyo Harjo Prakoso menyatakan dukungan terhadap rencana pembangunan SRRL yang merupakan salah satu Program Strategis Nasional (PSN). Upaya tersebut diyakini sangat positif. SRRL menjadi bagian penting dari arah kebijakan pemerintah pusat di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto. Kota Surabaya memiliki posisi strategis sebagai penghubung utama perekonomian Indonesia bagian timur.
Cahyo menegaskan bahwa transportasi publik modern akan memberikan dampak langsung terhadap kualitas lingkungan dan keadilan sosial. Dengan kendaraan umum yang baik, masyarakat yang sebelumnya bergantung pada kendaraan pribadi bisa terbantu. Di luar berbagai hal positif ini, Cahyo juga mengingatkan pemerintah kota Surabaya terkait kesiapan integrasi transportasi. Ia menekankan pentingnya penguatan konektivitas antara SRRL dengan transportasi lokal.
Penulis yang memiliki perhatian besar pada dunia kesehatan dan kesejahteraan masyarakat. Ia suka mengikuti jurnal kesehatan, melakukan yoga, dan mempelajari resep makanan sehat. Menurutnya, informasi yang benar adalah kunci hidup lebih baik. Motto: “Tulisan yang sehat membawa pembaca sehat.”












