Kisah Pengakuan Ameng Kerbau, Mantan Pemabuk dan Pengedar Narkoba di Medan

Kehidupan yang Berubah: Dari Penjahat ke Pemimpin Ibadah

Suasana riuh dan pelan terdengar dari luar, selepas salat Jumat di Masjid Ghaudiyah, Jalan KH Arifin Medan. Orang-orang berjalan kaki berduyun-duyun keluar dari masjid yang berada di dalam gang sempit diantara jalan raya. Sebagian lagi, menyalakan sepeda motornya, lalu menarik gas hilang dari pandangan. Di dalam masjid, beberapa jemaah masih khusyuk berdoa selepas salat, dan sebagian lagi ada yang beristirahat.

Mengenakan baju muslim berwarna kuning, lobe cokelat, dan celana panjang sedikit dilipat, Kamaluddin perlahan berjalan ke belakang masjid. Pria berjanggut dan berambut putih ini melanjutkan kegiatannya sebagai panitia buka puasa bersama di area kantor, dan dapur.

Dari Masa Lalu yang Gelap

Sekitar 30 tahun lalu, Kamaluddin yang kini sudah berusia 62 tahun adalah sosok pria yang ditakuti di area Kampung Keling, atau Kampung Kubur. Badannya besar, gempal berisi, kulitnya putih mirip keturunan Tionghoa, hingga dijuluki “Ameng Kerbau”. Kesehariannya terdahulu adalah minum-minuman keras, dan menelan pil Dextro. Kalau 2 kombinasi minuman dan pil ini ia tengggak, maka Kamaluddin seolah-olah berubah menjadi kerbau, yang siap menyeruduk siapapun tanpa gentar.

Siapapun yang dilihatnya mengganggu, pasti diajaknya berkelahi, dan jadi sasaran empuk tangan tukang pukulnya. Satu, dua atau empat orang sekaligus mampu dikalahkannya dalam waktu singkat, tanpa luka berat, tapi lawan keok. Akan tetapi, pernah satu kali dia kalah karena dikeroyok kurang lebih 6 orang. Ia terkapar sampai dibawa ke rumah sakit usai dipukul balok kayu dari belakang oleh lawannya.

Bukan cuma tukang pukul, pemabuk, Kamaluddin dahulu juga pernah menjadi pengedar ganja, dan Sabu-sabu. Dua barang haram ini ia jual secara terang-terangan di area yang sudah berubah nama menjadi Kampung Sejahtera. Aih-alih kaya raya. Ameng justru tetap hidup pas-pasan karena narkoba bukan ia jual seluruhnya, tapi ia konsumsi juga.

Karena berkecimpung di dunia gelap, Kamaluddin pernah dipenjara sebanyak 5 kali. Empat diantaranya, ditangkap Polisi karena menganiaya orang, dan 1 kali ditangkap kasus narkotika jenis sabu-sabu. Terkait ditangkap kasus narkotika, ia divonis 3 tahun penjara. Namun kurungan yang ia jalani di Lembaga Pemasyarakatan hanya selama 1 tahun 6 bulan, karena memperoleh Pembebasan Bersyarat.

Perubahan Hidup yang Mendalam

“Kalau di penjara, sudah 5 kali. Dulu kan saya suka mabuk, makan pil koplo, jadi kalau sudah kena buat rusuh, gebuki orang,”kata Kamaluddin, ditemui di Masjid Ghaudiyah, Jalan KH Arifin Medan, Jumat (20/2/2026).

Setelah sempat dipenjara selama 1 tahun 6 bulan, Ameng perlahan-lahan merajut kembali kehidupannya, meski tidak begitu drastis. Sambil menerawang jauh ke belakang, ia menyebut benar-benar bertaubat sekitar tahun 2019 silam. Saat itu, pikiran dan hatinya kacau gak karuan, seolah-olah ada yang membisikinya, kalau dirinya harus segera bertaubat.

Ia agak ragu, dan berulang kali berpikir apakah sudah waktunya ia bertaubat. Sebab, ia memang sudah memiliki 1 orang anak laki-laki, dari istrinya. Masih ragu-ragu, Kamaluddin yang tinggal di kampung Sejahtera, pun berjalan ke masjid. Ia kembali salat setelah sekian lama ia tinggalkan dengan khusyuk.

Secara perlahan, Ameng yang dulu dikenal sebagai tukang berkelahi, mulai bertaubat. Ia meninggalkan kebiasaan minum minuman keras, dan narkoba. Bahkan, pria yang sudah berusia 62 tahun ini fokus ke masjid hingga saat ini.

Kehidupan Baru di Masjid

Sekarang, Ameng yang sebagian giginya sudah ompong aktif di Masjid Ghaudiyah Jalan KH Arifin Medan. Dia masih terus berusaha memperbaiki diri, dari masa lalu yang begitu kelam. “Saya masih berusaha terus memperbaiki diri dari masa lalu. Meskipun saat ini saya dihadapi dengan permasalahan rumah tangga,”ungkapnya.


Hendra Susanto

Reporter online yang antusias menjelajahi isu terkini dengan pendekatan analitis. Ia suka membaca buku motivasi, mendengarkan musik akustik, dan membuat catatan ide. Menurutnya, menulis adalah proses belajar yang tak berakhir. Motto: "Setiap paragraf harus mengandung nilai."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× How can I help you?