Bisnis  

Tancap gas saham emiten migas MEDC, ENRG, ELSA akibat gangguan pasokan global

Perkembangan Harga Minyak dan Dampaknya pada Pasar Saham

Konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang semakin memanas telah mengakibatkan serangan militer terhadap fasilitas minyak di kawasan Timur Tengah serta penutupan Selat Hormus. Hal ini menjadi pemicu utama naiknya harga komoditas bahan bakar mineral, termasuk minyak mentah. Sentimen ini berdampak langsung pada pergerakan saham emiten-emiten migas di pasar saham.

Berdasarkan data dari Bloomberg, harga minyak WTI dan Brent melonjak tajam pada Senin (2/3/2025). Minyak WTI kontrak April 2026 naik sebesar 5,39% ke level US$70,63 per barel, sedangkan minyak Brent kontrak Mei 2026 meningkat 6,11% ke US$77,32 per barel. Penguatan harga minyak global ini berdampak langsung pada pasar saham, khususnya sektor energi.

Di Bursa Efek Indonesia, indeks sektoral IDX Energy menjadi satu-satunya indeks yang menguat ketika Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) jeblok pada hari yang sama. IDX Energy tercatat naik 1,54%. Penguatan indeks ini sejalan dengan lonjakan harga saham emiten-emiten migas. Contohnya, saham PT AKR Corporindo Tbk. (AKRA) naik 5,79% ke Rp1.370, saham PT Energi Mega Persada Tbk. (ENRG) menguat 25% ke Rp2.200, dan saham PT Medco Energi Internasional Tbk. (MEDC) ditutup menguat 15,65% ke Rp1.995.

Analisis dan Prediksi dari Para Ahli

Senior Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia Sukarno Alatas menyatakan bahwa harga saham emiten migas saat ini berpeluang menuju range baru jika harga minyak tetap bertahan di level tingginya. Namun, ia menekankan pentingnya untuk mencermati sensitivitas laba terhadap harga minyak, volume produksi, struktur biaya, serta kebijakan energi domestik karena normalisasi harga minyak bisa memicu mean reversion valuasi.

Sukarno melihat reli saham migas akan berlanjut dalam jangka pendek hingga menengah selama eskalasi konflik menjaga harga minyak di level tinggi. Namun, sifatnya cenderung taktikal karena kenaikan didorong oleh risk premium, sehingga peluang profit taking tetap besar.

Untuk rekomendasi, Sukarno menyarankan investor fokus pada strategi trading momentum dengan disiplin risk management. Saham-saham seperti ENRG dan MEDC masuk dalam rekomendasi Kiwoom Sekuritas. Ia menyarankan entry saat momentum kuat, menggunakan trailing stop, dengan horizon hold sekitar 1 sampai 2 bulan selama belum ada sinyal reversal teknikal.

Rekomendasi dari Analis Lain

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas M. Nafan Aji Gusta menjelaskan secara teknikal bahwa harga minyak global bisa menguji target harga teoritis US$92 per barel. Kondisi harga minyak yang tinggi akan meningkatkan average selling price emiten migas. Kenaikan harga minyak memberikan benefit bagi emiten-emiten berbasis migas dalam rangka memanfaatkan kenaikan average selling price dan optimalisasi kinerja bottom line.

Nafan menilai bahwa katalis kuat pendorong saham migas akan tergantung pada seberapa jauh perkembangan konflik global yang memengaruhi harga minyak. Menurutnya, wajar bila terjadi koreksi sementara karena dinamika konflik selalu dibarengi dengan naik turunnya intensitas peperangan.

Untuk rekomendasi, Mirae Asset Sekuritas menyematkan buy di saham AKRA dengan target harga Rp1.456 dengan strategi maintain buy. Kemudian, saham PT Raharja Energi Cepu Tbk. (RATU) dengan target harga Rp9.575. Pada penutupan Senin (2/3), saham RATU koreksi 0,69% ke Rp7.150.

Pandangan dari Analis BRI Danareksa Sekuritas

Analis BRI Danareksa Sekuritas Abida Massi Armand menjelaskan bahwa lonjakan harga saham emiten migas sangat terkait dengan pergerakan harga minyak global yang kini dipengaruhi eskalasi konflik AS–Iran dan risiko gangguan pasokan melalui Selat Hormuz. Selama risiko pasokan tetap tinggi dan sentimen bullish terhadap energi berlanjut, penguatan saham migas berpotensi terus berlanjut, meski tidak menutup kemungkinan terjadi volatilitas jangka pendek.

Menurutnya, harga saham migas yang melonjak saat ini lebih banyak mencerminkan risk premium akibat gangguan pasokan, bukan perubahan fundamental jangka panjang. Oleh karena itu, Abida menyarankan agar investor perlu tetap memerhatikan fundamental perusahaan seperti cadangan minyak, kapasitas produksi, biaya operasional, dan kontrak jangka panjang untuk memastikan valuasi saham tetap masuk akal jika sentimen geopolitik mereda.

Untuk rekomendasi, BRI Danareksa Sekuritas menilai saham migas yang sensitif terhadap harga minyak global seperti MEDC, ENRG, RAJA, AKRA masih menarik. Strategi yang disarankan sekuritas adalah melakukan entry on strength saat sentimen positif, sambil menetapkan target harga dan stop loss yang jelas. Investor juga perlu menyesuaikan horizon investasi antara jangka pendek untuk momentum dan jangka menengah bila fundamental mendukung, guna mengelola risiko volatilitas pasar.

Catatan Penting

Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

Ratna Purnama

Seorang reporter yang gemar meliput isu publik, transportasi, dan dinamika perkotaan. Ia memiliki kebiasaan membaca opini koran setiap pagi untuk memperluas perspektif. Hobi utamanya adalah jogging, fotografi, dan menikmati senja. Motto: "Kepekaan adalah modal utama seorang penulis."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× How can I help you?